Tempo hari, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mematikan lampu pada 6 Agustus malam. ‘’Bila bumi gelap, maka keindahan Galaksi Bima Sakti akan jelas terlihat,’’ ujarnya.
Kepala Lapan menjelaskan, pada pukul 20.00-21.00, cahaya senja sudah menghilang sehingga bila lampu dimatikan, langit dan bintang-bintangnya terlihat jelas. Tanggal 6 Agustus dipilih karena Indonesia berada di musim kemarau, sehingga kemungkinan malam cerah cukup tinggi. Bila polusi cahaya dikurangi, Bima Sakti dengan ratusan miliar bintangnya akan terlihat membentang dari utara ke selatan. “Kita bisa melihat rasi Angsa (Cygnus) di langit utara dengan tiga bintang terang di sekitarnya: Vega Deneb dan Altair,” tambah Thomas.
Apa yang disampaikan Kepala Lapan dibuktikan oleh kesaksian sejumlah netizen di Jateng, Lampung dan Kalimantan. Melalui pengamatannya, mereka berhasil mengabadikan benda langit besar mirip Saturnus, tiga bintang cerah di Rasi Angsa, dan keindahan gugusan ribuan bintang di Galaksi Bima Sakti.
Adik-adik, Bima Sakti atau Milky Way adalah nama galaksi terdekat dengan Bumi. Dia hanyalah satu dari jutaan galaksi di jagat raya. Galaksi ini memiliki 200-400 miliar bintang, dimana salah satunya adalah matahari. Galaksi ini berdiameter 100.000 tahun cahaya dan ketebalan 1000 tahun cahaya.
Menurut . Eric Christian dan Safi-Harb Samar dalam How large is the Milky Way? [2009], jarak antara matahari dan pusat galaksi sekitar 27.700 tahun cahaya. Dalam galaksi bimasakti terdapat Tata Surya. Ada dugaan, di pusat galaksi bersemayam lubang hitam supermasif. Lokasinya ada di gugus Sagitarius A. Tata surya kita memerlukan waktu 225–250 juta tahun untuk menyelesaikan satu orbit. Dengan demikian, telah 20–25 kali mengitari pusat galaksi dari sejak saat terbentuknya. Kecepatan orbit tata surya adalah 217 km/detik.
Di Indonesia, Bima Sakti berasal dari tokoh pewayangan. Istilah ini muncul karena orang Jawa kuno melihat susunan bintang-bintang yang tersebar di angkasa, jika dihubungkan dan ditarik garis, membentuk gambar Bima dililit ular naga. Sementara itu, masyarakat Barat menyebutnya Milky Way karena tampak seperti pita kabut bercahaya putih yang membentang pada bola langit. Pita kabut ini sebenarnya adalah kumpulan milyaran bintang dengan sevolume besar debu dan gas yang terletak di piringan galaksi. Pita ini tampak paling terang di sekitar rasi Sagitarius, yang diyakini sebagai pusat galaksi.
Bima Sakti, tulis Kronberg Frommert dalam The Milky Way Galaxy [2005]. Memiliki empat spiral utama [Lengan Norma, Scutum-Crux, Sagitarius dan Orion/Lengan Lokal] dan dua lengan yang lebih kecil [Lengan Perseus dan Lengan Cygnus atau Lengan Luar]. Menurutnya, Cakram bintang Bima Sakti berberdiameter 100.000 tahun cahaya (9.5×1017 km) dengan rata rata ketebalan 1000 tahun cahaya (9.5×1015 km). Tetapi, observasi terakhir mengindikasikan bahwa piringan gas Bima Sakti mempunyai ketebalan sekitar 12.000 tahun cahaya (1.1×1018 km) atau sebesar dua belas kali nilai sebelumnya. Jika dibuat analogi diameter Bima Sakti 100 m, makan Tata Surya kita hanya berukuran 1 mm.
Cahaya galaksi memancar lebih jauh, tapi ini dibatasi oleh orbit dari dua satelit Bima Sakti, yaitu Awan Magellan Besar dan Kecil. Keduanya memiliki tepian galaksi kurang lebih 180.000 tahun cahaya (1.7×1018 km). .
Adik-adik, menurut perhitungan teleskop Very Long Baseline Array (VLBA), ukuran Bima Sakti ternyata lebih besar dari perkiraanya. Ukurannya setara dengan tetangga galaksi terdekat, Andromeda. Konon, total masanya mencapai 3 triliun bintang atau 50% lebih banyak dari sebelumnya. Sementara, kecepatan rotasinya sekitar 914.000 km/jam. Angka ini jauh lebih tinggi dari nilai sebelumnya 792,000 km/jam. [Dedi Junaedi]




















