pesanan-majalah-edisi-khusus
29 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 4 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Menjaga Konsistensi Amalan Ramadhan dalam Kehidupan Sehari-hari  

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
9 April 2026
in Tafsir
0
Menjaga Konsistensi Amalan Ramadhan dalam Kehidupan Sehari-hari   

Foto: Muhammadiyah Kota Semarang

Landasan Teologis

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ

تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS Fuṣṣilat: 30)

BACA JUGA

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Teguhkan Adab (Akhlak) untuk Masa Depan Pendidikan

Penegakan Hukum yang Adil: Wujudkan Keamanan dan Harmoni

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Interpretasi  Para Mufasir

Tafsir Al-Baghawi menyebutkan beberapa tafsir dari makna firman Allah: ‘Tuhan kami Allah,’ kemudian mereka istiqamah, yaitu:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah ditanya tentang makna istiqamah, lalu beliau berkata: “Yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”
  • Umar bin Khattab berkata: “Istiqamah adalah tetap teguh di atas perintah dan larangan, serta tidak menyimpang seperti licinnya musang.”
  • Utsman bin Affan berkata: “(Istiqamah adalah) memurnikan amal hanya untuk Allah.”
  • Ali bin Abi Thalib berkata: “(Istiqamah adalah) menunaikan kewajiban-kewajiban.”
  • Ibnu Abbas berkata: “Mereka istiqamah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.”
  • Hasan al-Bashri berkata: “Mereka istiqamah di atas perintah Allah lalu mereka mengamalkan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.”

Sedangkan Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Atha bin Abi Rabah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Ayat ini turun tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq. Hal itu karena orang-orang musyrik mengatakan: “Tuhan kami Allah, para malaikat merupakan anak-anak perempuan-Nya, dan mereka pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah,” maka mereka tidak istiqamah. Sedangkan Abu Bakar berkata: “Tuhan kami Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad SAW merupakan hamba dan Rasul-Nya,” maka ia pun istiqamah.

Dalam riwayat Tirmidzi, ia bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atasku?” Maka beliau memegang lisannya dan bersabda: “Ini.”

Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa beliau berkata: “Kemudian mereka istiqamah” yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.

Sementara itu dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir disebutkan, sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Yakni Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, yakni istiqamah di atas tauhid, dan tidak mencari tuhan selain Allah, serta istiqamah di atas perintah dan syariat Allah; sehingga mereka melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan hingga mati.

Inti Reflektif

Istiqamah merupakan kunci utama setelah iman. Ayat ini menegaskan bahwa tidak cukup hanya beriman, tetapi harus diiringi dengan istiqamah (konsistensi). Ramadhan melatih kita beribadah secara intens, dan setelahnya yang diuji yaitu kemampuan menjaga ritme tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Konsistensi lebih bernilai daripada intensitas sesaat. Amalan yang terus dilakukan, meskipun sedikit, lebih dicintai Allah daripada amalan besar tetapi hanya sesaat. Ramadhan bukan tujuan akhir, melainkan sarana pembiasaan menuju keberlanjutan amal.

Ramadhan sebagai titik awal, bukan titik puncak. Seringkali semangat ibadah menurun setelah Ramadhan. Padahal, sejatinya Ramadhan merupakan “training spiritual” untuk membentuk kebiasaan jangka panjang, seperti shalat tepat waktu, tilawah, sedekah, dan menjaga akhlak

Nilai-Nilai Pedagogis

QS Fuṣṣilat: 30 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi umat Islam. Pertama, Nilai Tauhid (Keimanan yang Kokoh). Ayat ini menegaskan pentingnya keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan. Tauhid menjadi dasar utama dalam membentuk kepribadian Muslim, membimbing manusia agar tidak menyekutukan Allah (syirik).

Karena itu, guru dan orang tua  harus menanamkan akidah sejak dini kepada peserta didik agar mereka memiliki keyakinan yang kuat dan senang beribadah serta berdzikir dalam kehidupan sehari-hari sebagai hamba Allah yang shalih.

Kedua, Nilai Istiqamah (Konsistensi dalam Kebaikan). Ayat ini mengajarkan hamba-Nya agar istiqamah dalam kebaikan dan menjalankan ajaran Islam. Istiqamah mencakup ketaatan, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi ujian.

Guru dan orang tua harus senantiasa mengajarkan istiqamah dan disiplin dalam ibadah serta menjaga akhlak dalam kondisi apa pun. Istiqamah amalan baik yang sudah kita lakukan seperti amalan baik di bulan suci Ramadhan harus terus kita jaga agar menjadi hamba yang beruntung.

Ketiga, Nilai Spiritual (Ketenangan Jiwa). Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa malaikat turun memberikan ketenangan: “jangan takut dan jangan bersedih”. Artinya menunjukkan bahwa keimanan dan istiqamah membawa ketenteraman batin.

Oleh karena itu, sebagai orang tua dan guru, kita harus memberikan keteladan dan menguatkan hubungan dengan Allah agar hati tidak mudah gelisah atau putus asa sehingga melahirkan peserta didik yang taat beribadah dan memiliki jiwa yang tenteram.

Keempat, Nilai Optimisme dan Harapan. Ayat ini mendidik hamba-Nya agar senantiasa optimis dan berharap hanya kepada Allah. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap kebaikan akan mendapat balasan begitu juga keburukan akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Oleh karena itu, senantiasalah berpikir positif, tidak mudah putus asa, dan selalu berharap rahmat Allah. Orang yang optimis dan memiliki harapan akan menjadi hamba yang senantiasa bergembira dengan semua janji Allah.

Landasan Teoretis

Syekh Abdurrahman menuturkan, keberhasilan setelah kita berpuasa itu memperoleh ketakwaan.  Hal ini karena orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya serta terus konsisten menjaga amalan baiknya. Ramadhan bukanlah garis finis, melainkan titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Ciri-ciri orang bertakwa (orang yang memiliki rasa takut kepada Allah) menurut Abu Laits al-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin. Pertama, lisannya tidak pernah digunakan untuk berkata bohong dan gunjing. Lisannya fokus dzikir, membaca Al-Qur’an, dan hal baik lainnya. Kedua, tidak masuk ke dalam perutnya kecuali makanan yang halal dan baik, dan meskipun makanan halal mereka mengonsumsi secukupnya dan tidak berlebihan.

Ketiga, tangannya tidak digunakan untuk yang diharamkan. Keempat, kaki dan langkahnya digunakan untuk sesuatu yang baik dan bukan untuk maksiat. Kelima, hatinya tidak dipenuhi rasa kebencian dan permusuhan. Keenam, taat kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan tidak takut kepada Allah karena untuk riya dan ingin dilihat orang lain.

Konsisten merupakan salah satu akhlak yang sangat penting dimiliki oleh seorang beriman. Untuk itu Allah SWT memerintahkan agar seorang Mukmin menjaga amalan baik yang sudah dilakukan seperti amalan shalih di bulan Ramadhan dengan melanjutkannya pada bulan lainnya. Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۟ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰىٓ اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاسْتَقِيْمُوْٓا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُۗ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِيْنَۙ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu Tuhan Yang Mahaesa. Oleh sebab itu, tetaplah (dalam beribadah) dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Celakalah orang-orang yang mempersekutukan-(Nya)’.” (QS Fuṣṣilat: 6)

Oleh karena itu, agar seseorang berbuat istiqamah maka perlu dibarengi istiqamah hati dan lisannya sebagaimana Ramadhan mendidik kita menjaga hati, lisan dan perbuatan. Rasulullah SAW Bersabda:

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga.” (HR Ahmad, No. 12636)

Untuk dapat konsisten tidaklah mudah. Kita harus rela mengekang hawa nafsu dan terus bermujahadah sebagaimana Ramadhan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang taat dan bertakwa serta istiqamah dengan pembiasaan spiritual yang tinggi. Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah berkata dalam Kitab Hilyatul-Auliya’:

كَابَدْتُ نَفْسِيْ أَرْبَعِيْنَ سَنَةٍ حَتَّى اسْتَقَمْتُ

Saya mengekang jiwaku selama empat puluh tahun barulah saya bisa beristiqamah.

Menurut Ibn al-Qayyim dalam Fawaid al-Fawaid, orang yang mencari ridha Allah dan ingin meraih kebahagiaan di kehidupan akhirat tidak akan bisa istiqamah dalam menggapai tujuannya melainkan dengan dua hal berikut: Pertama, memenjarakan (menguatkan) hati untuk tetap pada pencarian dan pencapaiannya menuju Allah, serta menahan hati itu agar tidak menoleh kepada selain-Nya. Kedua, memenjarakan lidah agar tidak membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Memenjarakannya dalam dzikir kepada Allah dan untuk hal-hal yang bisa meningkatkan iman, juga yang dapat menambah makrifat kepada-Nya. Sebagaimana bulan Ramadhan mendidik lisan dan hati kita agar senantiasa diisi dengan ibadah

Sebagaimana para ulama setelah melewati bulan Ramadhan mengisi hari-harinya penuh dengan pelajaran tentang ketakwaan, konsistensi ibadah (istiqamah), dan rasa takut jika amalan mereka tidak diterima oleh Allah SWT. Bagi para ulama, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah spiritual yang dampaknya terus mereka jaga di bulan-bulan berikutnya.

Setelah Ramadhan berakhir, semangat ibadah para ulama tidak ikut padam. Mereka tetap menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan melakukan ibadah sunnah lainnya. Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).” (QS Al-Hijr: 99)

Az Zujaaj dalam kitab Zaadul Masiir mengatakan bahwa makna ayat ini sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan, “Sembahlah Allah bukan pada waktu tertentu saja”. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dari ayat ini menunjukkan bahwa ibadah seperti shalat dan semacamnya wajib dilakukan selamanya selama akalnya masih ada. Ia melakukannya sesuai dengan kondisi yang ia mampu.”

Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala yaitu amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim No. 783)

Cara Menjaga Konsistensi

Lalu bagaimana cara menjaga konsistensi amalan Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, senantiasa membulatkan tekad untuk menjaga amalan baik yang telah dibina di bulan Ramadhan dan bertawakkal kepada Allah SWT.

Tanpa tekad yang kuat, konsistensi tidak akan bisa dicapai. Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ….

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran: 159)

Kedua, senantiasa berjalan di jalan Allah dengan terus berupaya menjaga amalan baik yag telah dibina di bulan suci.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًاۙ

“Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang banyak (rezeki yang cukup).” (QS Jin: 16)

Ketiga, tidak mengikuti hawa nafsu dan penjarakan hawa nafsu.  Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَلِذٰلِكَ فَادْعُۚ وَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍۚ وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۗ لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَاۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُۗ

“Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman), tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Katakanlah, ‘Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu. Tidak (perlu) ada pertengkaran di antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali’.” (QS Asy-Syura’: 15)

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah ia yang pandai bergulat, melainkan ia yang mampu mengontrol emosinya dengan baik ketika marah.”  (HR Bukhari dan Muslim)

Keempat, berlindung dari bujuk rayu setan dan iblis. Allah SWT berfirman:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

“(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus’.” (QS Al-A’raf: 16)

Kelima, bersabar dalam menjalankan ibadahnya. Rasulullah SAW bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu masa, (ketika itu) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti orang yang memegang bara api.” (HR at-Tirmidzi No. 2260)

Keenam, menyiapkan agenda dan program peningkatan amalan istiqamah dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5)

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5). Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6).” (QS Al-Insyirah: 5-6)

Kisah Teladan

Para ulama terdahulu (salafush shalih) setelah Ramadhan usai tidak langsung merasa puas. Sebaliknya, mereka fokus pada bagaimana amalan yang telah dilakukan.

Ali bin Abi Thalib RA berpesan, “Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekadar beramal.” Hal ini memicu mereka untuk terus beramal shalih sebagai tanda ketaatan baru.

Salah satu contoh terbaik dalam menjaga amalan yaitu Abu Thalhah RA. Beliau dikenal memiliki kebiasaan puasa yang sangat kuat, bahkan tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Kegigihannya dalam beribadah tetap terjaga meski usianya sudah sangat tua dan renta.

Abu Thalhah menunjukkan bahwa ketaatan bukanlah musiman. Beliau bahkan tetap ikut berjihad di masa pemerintahan Usman bin Affan meski dalam kondisi lanjut usia, menunjukkan semangat yang tidak pernah padam untuk beribadah hingga ajal menjemput.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ibadah tidak harus drastis setelah Ramadhan, melainkan rutin (dawam). Beliau bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah yaitu ibadah yang berkesinambungan meskipun sedikit.

Ramadhan merupakan madrasah. Tanda Ramadhan kita diterima bukanlah dari seberapa meriah perayaan Idul Fitri, melainkan dari apakah kebiasaan baik (shalat malam, sedekah, tilawah) tetap hidup meskipun bulan suci telah usai. Mari kita menjaga konsistensi bulan Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari terpeleset dari landasan yang benar setelah mendapat hidayah.” (HR An-Nasai) []

Tags: IstiqamahKonsistensiRamadhan
Share32Tweet20Send
Previous Post

Sambut Baik Gencatan Senjata AS-IRAN, HNW: Selain Penghentian Serangan ke Lebanon, Agar Juga Hentikan Serangan ke Negara Teluk, Palestina, dan Penutupan Al Aqsha

Next Post

Kristalisasi di Zaman Kolobendu*

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Kasih Sayang Rasulullah SAW kepada Umatnya

Kasih Sayang Rasulullah SAW kepada Umatnya

30 August 2026
Ketika Rhoma Irama ‘Hadir’ di Gontor

Ketika Rhoma Irama ‘Hadir’ di Gontor

29 August 2026
Wakil Bupati Lebak Hadiri Panggung Gembira Spektakuler Smart Generation 627 Darel Azhar

Wakil Bupati Lebak Hadiri Panggung Gembira Spektakuler Smart Generation 627 Darel Azhar

30 August 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

2 September 2026
Rasa Malu*

Rasa Malu*

0
Kapolri Listyo Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda

Kapolri Listyo Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda

0
Asah Jiwa Kepemimpinan Santri, Gontor Kampus 12 Riau Buka Agenda Kepramukaan

Asah Jiwa Kepemimpinan Santri, Gontor Kampus 12 Riau Buka Agenda Kepramukaan

0
Gontor Putri Kampus 3 Resmi Buka Kegiatan Pramuka

Gontor Putri Kampus 3 Resmi Buka Kegiatan Pramuka

0
Ribuan Santri Gontor Semangat Ikuti Apel Pembukaan Semester Kedua

Ribuan Santri Gontor Semangat Ikuti Apel Pembukaan Semester Kedua

0
Rasa Malu*

Rasa Malu*

4 September 2026
Gontor Kampus 12 Riau Resmi Buka Pembelajaran Semester Kedua

Gontor Kampus 12 Riau Resmi Buka Pembelajaran Semester Kedua

4 September 2026
Kapolri Listyo Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda

Kapolri Listyo Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda

4 September 2026
Gontor Putri Kampus 3 Resmi Buka Kegiatan Pramuka

Gontor Putri Kampus 3 Resmi Buka Kegiatan Pramuka

4 September 2026
Ribuan Santri Gontor Semangat Ikuti Apel Pembukaan Semester Kedua

Ribuan Santri Gontor Semangat Ikuti Apel Pembukaan Semester Kedua

4 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result