Yerusalem, Gontornews — Menteri Keamanan Nasional Israel yang baru, Itamar Ben-Gvir, pada hari Selasa (3/1) mengunjungi tempat suci yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount, yang oleh umat Islam disebut al-Haram al-Sharif. Di sini terdapat Masjid Al-Aqsha.
“Temple Mount terbuka untuk semua orang,” kata politisi ultranasionalis itu di Twitter setelah kunjungannya sebagaimana dirilis dw.com.
Media Israel menerbitkan foto-foto Ben-Gvir berkeliling situs disertai dengan pengamanan ketat. Menurut kantor berita AFP, sebuah drone memantau kunjungannya dari atas.
Jurubicara berbahasa Arab Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Ofir Gendelman, kemudian memposting rekaman video di Twitter yang menunjukkan bahwa “situasi benar-benar tenang” di tempat suci setelah kunjungan Ben-Gvir.
Temple Mount di Yerusalem dihormati sebagai tempat suci oleh umat Yahudi, Kristen dan Islam.
Tembok Barat Temple Mount, yang lebih dikenal sebagai Tembok Ratapan, merupakan situs paling suci dalam agama Yahudi. Tempat ini bisa diakses dari luar kompleks. Menurut kitab suci dan tradisi Yahudi, Temple Mount juga merupakan situs dua kuil kuno.
Bagi umat Islam, situs tersebut dikenal sebagai “al-Haram al-Sharif” dan merupakan rumah bagi Dome of the Rock dan Masjid Al-Aqsha — tempat suci ketiga dalam Islam.
Mengapa Ben-Gvir mengunjungi Temple Mount? Ben-Gvir telah mengunjungi kompleks tersebut beberapa kali, tetapi kunjungannya pada hari Selasa terjadi beberapa hari setelah dia dilantik sebagai Menteri Keamanan Nasional Israel.
Hal ini membuatnya menjadi pejabat tertinggi Israel yang mengunjungi tempat itu sejak oposisi Ariel Sharon melakukannya pada tahun 2000. Kelompok-kelompok Palestina menanggapi kunjungan Sharon pada saat itu dengan protes yang berujung pada Intifadah Kedua.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ben-Gvir telah berkampanye untuk mengizinkan umat Yahudi berdoa di dalam Temple Mount, sebuah langkah yang ditentang oleh otoritas kerabian arus utama.
“Temple Mount adalah tempat paling penting bagi orang Israel, dan kami mempertahankan kebebasan bergerak bagi Muslim dan Kristen, tetapi orang Yahudi juga akan naik ke gunung, dan mereka yang membuat ancaman harus ditangani –dengan tangan besi,” kata Ben-Gvir dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh jurubicaranya pada hari Selasa.
Pasukan Israel bertanggung jawab atas keamanan kompleks itu, tetapi tempat suci yang diperebutkan itu dikelola oleh Yordania. Akses jemaah Yahudi ke Temple Mount sangat dibatasi.
Mengapa kunjungan tersebut dianggap kontroversial? Ben-Gvir sebelumnya menyatakan niatnya untuk mengunjungi situs tersebut. Hal ini mengundang reaksi keras kelompok Islam Hamas, Palestina. Kelompok Hamas saat ini menguasai Gaza dan dicap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Jerman, Uni Eropa, AS, dan beberapa negara Arab.
Basem Naim, seorang anggota senior kelompok Hamas, mengatakan pekan lalu bahwa langkah seperti itu akan menjadi “garis merah besar dan akan menyebabkan ledakan.” []






















