Kairo, Gontornews — Seorang menteri senior pemerintah Israel ikut dalam perundingan di Kairo pada hari Ahad (30/5) untuk pertama kalinya dalam 13 tahun, di tengah upaya diplomatik tingkat tinggi untuk menciptakan perdamaian permanen di Gaza.
Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukry sebagai bagian dari upaya Mesir untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Timur Tengah dan “membangun gencatan senjata di Gaza,” kata Kementerian Luar Negeri Mesir, dirilis Arabnews.com.
Pada saat yang sama, kepala intelijen Mesir Abbas Kamel bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem. Netanyahu mengatakan mereka membahas masalah keamanan regional dan upaya mencegah Hamas menyedot bantuan sipil ke Gaza.
Kamel juga bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah dan menyampaikan pesan dari Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi untuk dukungan kepada warga Palestina.
Kesibukan aktivitas diplomatik ini menyusul gencatan senjata yang ditengahi Mesir pada 21 Mei yang mengakhiri serangan 11 hari di Gaza yang menewaskan 248 warga Palestina, 66 di antaranya anak-anak.
Di Kairo, Shoukry mengatakan kepada Ashkenazi bahwa ada “kebutuhan untuk memperhitungkan kepekaan khusus yang terkait dengan Yerusalem Timur, Masjid Al-Aqsha dan semua situs suci Islam dan Kristen”, kata Kementerian Luar Negeri Mesir. Serangan oleh pasukan keamanan Israel terhadap jamaah di Masjid Al Aqsha selama Ramadhan memicu konflik Gaza.
Mesir mengulangi seruannya untuk menciptakan suasana kondusif untuk menghidupkan kembali pembicaraan antara Israel dan Palestina dengan tujuan mencapai solusi dua negara. Di antara ketentuan prakarsa Mesir untuk gencatan senjata jangka panjang ialah perbaikan langsung situasi kemanusiaan dan ekonomi di Gaza.
Inisiatif tersebut juga menetapkan rencana untuk rekonstruksi Gaza, dan kesepakatan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel.
Ashkenazi meminta pihak Mesir untuk bekerja menuju gencatan senjata permanen dengan Hamas, dengan fokus pada kebutuhan untuk mencapai kesepakatan yang mewajibkan Hamas mengembalikan tentara dan warga Israel yang ditangkap sejak 2014.
Ia mengatakan Mesir merupakan sekutu penting kawasan yang berkomitmen untuk perdamaian di kawasan itu. “Kita semua perlu bertindak untuk mencegah penguatan elemen ekstremis yang mengancam stabilitas regional, dan untuk memastikan pemulangan orang hilang dan tahanan yang ditahan oleh Hamas,” ujarnya.
Di Yerusalem, Netanyahu juga mengulangi “permintaan Israel untuk mengembalikan tentara dan warga sipil yang ditahan di Jalur Gaza secepat mungkin,” kata kantornya.
Israel berupaya mengembalikan ‘jasad’ Hadar Goldin dan Oron Shaul, dua tentara yang hilang sejak perang tahun 2014 di Gaza, serta dua warga sipil Israel, Hisham Al-Sayed dan Avera Mengistu.
Hamas mengatakan telah menangkap empat tentara Israel, dan mengatakan bahwa keempatnya masih hidup. Mesir telah mengundang Israel, Hamas dan Otoritas Palestina untuk membicarakan kesepakatan pertukaran tahanan.
Sementara itu, Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh bertemu dengan utusan Uni Eropa untuk proses perdamaian Timur Tengah Sven Koopmans. Dia meminta Eropa memperkuat inisiatif untuk menghidupkan kembali proses politik.
Shtayyeh mengatakan pentingnya jaminan internasional untuk menghindari terulangnya agresi Israel di Gaza dan penghancuran apa yang telah dibangun kembali.
Ia menyebutkan bahwa kepemimpinan Palestina bertekad untuk mengadakan pemilihan, menyerukan kepada komunitas internasional – terutama negara-negara Eropa – untuk secara serius menekan Israel agar mengizinkan mereka mengadakan pencalonan, pemilihan umum dan kampanye di Yerusalem. []






















