New York, Gontornews — Anggota Dewan Keamanan PBB, Kamis (8/7/2021), mendukung upaya mediasi Uni Afrika antara Ethiopia, Mesir dan Sudan terkait pembangunan bendungan raksasa di Blue Nile, Ethiopia.
Pekan ini, Mesir dan Sudan telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk membantu perselisihan ini dengan Ethiopia. Aduan kedua negara kepada Dewan Keamanan bermula kala Ethiopia berencana untuk mengisi air waduk bernama Great Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Sebaliknya, Ethiopia menentang keterlibatan Dewan Keamanan dalam proses mediasi.
“Sebuah solusi yang seimbang dan adil untuk pengisian maupun pengoperasian GERD dapat tercapai dengan komitmen politik dari semua pihak,” ungkap Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield.
“Penyelesaian sengketa ini dapat dimulai dengan memulai kembali negosiasi yang substantif dan produktif. Negosiasi tersebut harus dilakukan di bawah kepemimpinan Uni Afrika serta harus segera dimulai kembali,” imbuh Thomas-Greendfield sebagaimana dilansir Reuters.
Ethiopia mengatakan bendungan ini sangat penting bagi pasokan air dan penyediaan listrik dalam negeri. Sementara Mesir memandang bahwa pembangunan bendungan ini merupakan ancaman besar bagi pasokan air sungai Nil dalam negeri. Selama ini, Mesir menggantungkan pasokan air dalam negeri melalui aliran sungai Nil.
Sedangkan Sudan yang berada di hilir, menyatakan keprihatinannya seputar keamanan dan dampaknya terhadap bendungan serta ketersediaan air di stasiun air tersebut.
Sebelumnya, Tunisia telah mengusulkan rancangan solusi Dewan Keamanan untuk mengikat kesepakatan antara Mesir, Sudan dan Ethiopia. Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry, meminta Dewan Keamanan PBB Untuk mengadopsi resolusi tersebut.
“Kami tidak mengharapkan dewan untuk merumuskan solusi bagi masalah hukum dan persoalan teknis yang belum terselesaikan. Kami juga tidak meminta dewan untuk memaksakan persyaratan bagi penyelesaian (masalah ini),” ungkap Shoukry.
“Resolusi ini bersifat politis dan tujuannya untuk memulai kembali proses negosiasi,” sambungnya.
Senada dengan Shoukry, Menteri Luar Negeri Sudan, Mariam Sadiq Al-Mahdi, mendesak dewan untuk bertindak untuk memulai kembali proses negosiasi. Mariam juga meminta Ethiopia untuk tidak menjauhkan diri dari proses negosiasi dan menghindari bertindak secara sepihak.
Sebaliknya, Menteri Air, Irigasi dan Energi Ethiopia, Seleshi Bekele Awulachew, mengatakan kesepakatan tentang pengoperasian bendungan berada dalam jangkauan negara. Ia pun menyesalkan upaya Mesir dan Sudan yang sudah mendorong pertemuan dengan Dewan Keamanan.
“Kami mendesak suadara dan saudari Mesir dan Sudan untuk memahami bahwa resolusi untuk masalah Nil tidak akan datang dari Dewan Keamanan. Itu hanya bisa datang dari negosiasi dan itikad baik,” jelas Awulachew.
Selain Amerika Serikat, Rusia, anggota Dewan Keamanan, juga menyerukan kedua negara untuk bertemu di New York untuk menemukan solusi bersama. [Mohamad Deny Irawan]






















