Kairo, Gontornews — Pemerintah Mesir, Senin (2/1/2023), mengumumkan penemuan sakrofagus berusia hampir 2.700 tahun yang diselundupkan dan dipajang di sebuah museum di Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengumumkan penemuan artefak ini selama konferensi pers pada Senin 2 Januari 2023.
Shoukry mengatakan artefak bernama Sakrofagus Hijau ini telah dihapus diam-diam dari data negara. Dengan temuan ini, pemerintah akan melakukan perlindungan atas warisan Mesir ini dalam rangka pemulihan aset negara yang sempat hilang.
Menteri Pariwisata dan Purbakala Mesir, Ahmed Issa, mengatakan sakrofagus itu memiliki panjang hampir tiga meter dan lebar 90 centimeter. Temuan ini merupakan satu dari 17 artefak purbakala milik Mesir yang ditemukan di Amerika Serikat.
Penutupan sakrofagus tersebut diambil dari pekuburan Abusir di selatan Kairo yang diangkut ke Amerika Serikat pada 2007 dan ditempatkan di Museum Ilmu Pengetahuan Alam Houston pada 2013.
Dalam satu dekade terakhir, Mesir telah menemukan sekitar 29.000 barang antik yang telah dibawa ke luar negeri melalui cara yang tidak sah.
Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Purbakala Mesir, Mostafa Waziri, kepada AFP, mengatakan sakrofagus itu kemungkinan besar milik seorang bangsawan. Ia mengatakan sakrofagus ini berasal dari Periode Akhir Mesir Kuno yang dinamai Sakrofagus Hijau merujuk pada warna wajah yang terukir di atasnya.
Tutup peti mati sakrofagus hijau dengan berat mencapai setengah ton itu menjadikannya sebagai salah satu sakrofagus kayu terbesar dari Mesir Kuno.
Selain penemuan artefak tersebut, Mesir juga berhasil mengungkap lebih dari 300 sakrofagus dan 150 patung perunggu dalam dua tahun terakhir. Beberapa di antaranya berusia lebih dari 3.000 tahun.
Pemerintah berharap penemuan besar tersebut dapat membantu otoritas terkait untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata vital di Mesir yang terpukul keras karena pandemi Covid-19. [Mohamad Deny Irawan]






















