Jakarta, Gontornews — Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1884–1939), sosok yang hampir tak terdengar dalam berita sejarah. Padahal andil Muhammad Daud Syah ini cukup besar dalam mempertahankan wilayahnya agar tidak jatuh ke tangan penjajah Belanda. Namun, jasanya kini nyaris terlupakan.
Muhammad Daud Syah merupakan Sultan Aceh terakhir yang berdaulat. Ia memimpin Kerajaan Aceh Darussalam saat perang berkecamuk. Sebagian besar usianya dicurahkan dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Aceh. Meski tubuhnya ditawan, ia tak pernah mau melepaskan tanah airnya ke penjajah.
Salah satu jasa Muhammad Daud Syah adalah tak menyerahkan kedaulatan Aceh kepada Belanda, sehingga satu-satunya wilayah Nusantara yang tak pernah takluk ke Belanda saat itu adalah Aceh.
Dalam Konferensi Meja Bundar di Den Hag, Belanda, pada 1949, Inggris menanyakan mana kawasan yang diklaim Indonesia yang masih bebas dari penaklukan Belanda? Tersebutlah Aceh.
Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah merupakan putra Tuanku Cut Zainal Abidin. Ia cucu dari Sultan Alaidin Mansur Syah (1857–1870), raja ke-33 yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam.
Sultan Muhammad Daud Syah lahir pada 1871. Di usia belia, 7 tahun dia dinobatkan sebagai sultan Aceh di Masjid Indrapuri pada Kamis, 26 Desember 1878 M, menggantikan Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874) dua tahun sebelum Belanda menginvasi Aceh pada 26 Maret 1873 M.
Sultan terakhir kerajaan Aceh Darussalam ini berkuasa hampir 45 tahun lamanya, Muhammad Daud Syah (1874-1923) memiliki riwayat hidup yang tragis nan malang. Kolonial Belanda kala itu, membuang Sultan Muhammad Daud Syah ke Pulau Jawa pada 24 Desember 1907.
Akhirnya, Belanda mengasingkan Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah. Dia meninggal sebagai tawanan Belanda di Batavia (Jakarta) pada 6 Februari 1939 dan dimakamkan di Rawamangun.
Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta, Almuniza Kamal mengatakan, dia merupakan tokoh kunci raja di kesultanan Aceh. Bahkan, di detik-detik terakhir dia masih berjuang mempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda.
“Ia mempertaruhkan nyawa dan keluarganya, berjuang untuk pembebasan Aceh dari penjajahan Belanda hingga di buang ke tanah Jawa,” jelasnya.
Almuniza menjelaskan Muhammad Daud Syah belum mendapatkan gelar atas perjuangannya di masa lalu. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah pusat dapat memprioritaskan raja terakhir Aceh ini menjadi salah satu tokoh pahlawan nasional.
“Kita akan memperjuangkan bersama-sama, semoga dalam waktu dekat beliau menjadi salah satu tokoh nasional yang dikukuhkan oleh pemerintah,” paparnya.
Sejauh ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk mempertahankan keberadaan makam tokoh penting itu hingga gelar pahlawan dinobatkan pemerintah pusat. “Jika sudah ditetapkan menjadi pahlawan nasional, tentunya kuburan ini akan dipindahkan ke pemakaman pahlawan tetapi kita tetap berkoordinasi dengan ahli waris atau keluarga,” terangnya.
“Selaku perpanjangan tangan pemerintah Aceh di Jakarta dan arahan gubernur, kita sedang melakukan pendataan, baik aset atau pemakaman yang memang notabenya masyarakat Aceh,” sebutnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pihaknya akan memugar makam tersebut sebagai tanda penghormatan untuk jasa-jasanya dalam berjuang melawan penjajah.
“Semoga dengan pemugaran ini bisa menjaga tradisi, melahirkan pejuang-pejuang yang torehan peristiwanya dicatat puluhan tahun, beratus tahun ke depan,” kata Anies saat berziarah sekaligus meresmikan pemugaran makam Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah di Jakarta Timur, Senin (14/12).
Total ada tujuh makam keluarga Sultan Muhammad Alaidin Daud Syah yang dipugar oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. [Fath]




















