Rio De Janiero, Gontornews — Pakar epidemologi asal Federal University of Bahia mengatakan bahwa musim dingin di Brazil dapat mempercepat penyebaran COVID-19. Brazil merupakan negara tropis di Amerika Selatan. Meski demikian, saat musim dingin datang, suhu di Brazil bisa mencapai 5-6 derajat Celcius.
“Tidak pernah ada saat yang tepat bagi COVID-19 untuk tiba. Namun, tentu saja ini bukan saat yang baik,” kata ahli Epidemologi Maria da Gloria Teixeira, kepada Reuters.
Sejauh ini, Brazil menjadi negara Amerika Selatan yang paling terdampak COVID-19. Hingga Jum’at (20/3), Brazil mengonfirmasi lebih dari 900 kasus COVID-19 dengan 11 kematian.
Tidak banyak yang mengetahui bagaimana virus itu bisa bertahan di wilayah dengan perubahan cuaca musiman seperti Brazil. Akan tetapi, enam pakar penyakti menular di Brazil memprediksi bahwa suhu dingin dapat memperburuk penularan COVID-19.
Selain Brazi, negara-negara seperti Australia, Argentina dan Cili juga mengalami kondisi serupa. Hanya saja, jika dibandingkan dengan Argentina dan Cili, populasi Brazil jauh lebih besar.
“Secara umum, sistem perawatan kesehatan di Amerika Selatan sering mengalami kesulitan kala membutuhkan sesuatu di musim dingin,” ungkap spesialis kesehatan masyarakat dai University of Santiago, Cii, Christian Garcia.
Sementara Argentina telah melaporkan 128 kasus COVID-19 yang diikuti dengan tiga kematian. Argentina pun memberlakukan karantina wilayah sejak hari Jum’at (20/3) kemarin. Pemerintah setempat juga memberlakukan penutupan wilayah perbatasan serta membatasi acara-acara besar.
Para ahli penyakit menular di Brazil belum dapat memastikan apakah COVID-19 bersifat musiman atau tidak karena belum mendapatkan cukup bukti. Namun, jika yang dijadikan rujukan adalah penyakit pernapasan seperti pilek dan flu, maka ilmuwan berpikir bahwa udara dingin akan berkontribusi dalam penyebaran COVID-19 secara lebih masif. [Mohamad Deny Irawan]






















