Bandar Seri Begawan, Gontornews — Negara-negara Asia Tenggara sedang berwacana untuk tidak mengundang Myanmar dalam pertemuan ASEAN bulan ini. Mereka beranggapan bahwa kegagalan pihak militer untuk membuat kemajuan serta pemulihan perdamaian dalam negeri menjadi alasan wacana tersebut.
Pada April lalu, Asosisasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), bersama junta militer Myanmar menyepakati lima poin untuk memulihkan perdamaian di Myanmar. Namun, lambannya upaya junta militer dalam membangun kembali perdamaian membuat ASEAN berubah pikiran.
Utusan ASEAN untuk permasalahan Myanmar, Erywan Yusof, mengatakan lambannya langkah junta militer Myanmar sebagai sebuah bentuk kemunduran. Erywan mengatakan bahwa, sejauh ini, junta tidak secara langsung menanggapi permintaan ASEAN untuk bertemu dengan mantan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.
Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta 1 Februari 2021 yang lalu. Kudeta tersebut sekaligus mengakhiri satu dekade upaya demokratisasi di Myanmar. Imbasnya, kudeta itu memicu kemarahan masyarakat serta komunitas internasional seiring dengan kembalinya kekuasaan militer dalam peropolitikan Myanmar.
Sejak itu, lebih dari 1.100 orang tewas karena tindakan kekerasan yang pasukan keamanan lakukan. Tidak hanya itu, pihak keamanan juga telah menangkap ribuan demonstran pro-demokrasi.
Mulanya, ASEAN berkomitmen untuk mendorong dialog konstruktik dengan semua pihak. ASEAN berharap dialog semisal dapat mendorong penyelesaian masalah melalui pendekatan kemanusiaan hingga menghentikan permusuhan.
Tetapi, pertemuan para menteri luar negeri ASEAN, Senin (4/10/2021), menyuarakan kekecewaannya terahdap kemajuan proses perdamaian di Myanmar.
Juru bicara junta militer Myanmar, Zaw Min Tun, tidak menampik kemungkinan tidak hadirnya Myanmar dalam KTT ASEAN bulan ini.
“Terlepas dari beberapa kritik dari komunitas internasional, tidak akan ada (dampak dari tidak hadirnya Myanmar dalam KTT ASEAN),” ungkap Zaw Min Tun kepada Radio Free Asia milik Myanmar.
“Mungkin ada. Beberapa dampak pada proyek atau pertemuan ASEAN tertentu atau pekerjaan bersama dengan negara lain,” imbuhnya. [Mohamad Deny Irawan]





















