Kairo, Gontornews — “Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir, selain digunakan sebagai tempat ibadah juga berfungsi untuk kegiatan belajar mengajar,” ujar Rudi Irawan Lc, alumnus Al-Azhar Kairo tahun 2010 kepada Gontornews.com.
Didirikan oleh Dinasti Fatimiyah, sebuah dinasti Syiah Ismailiyah yang berhasil memasuki Mesir dan menaklukan Dinasti Ikhsyidiyah pada tahun 358 H. Awalnya, pendirian masjid ini merupakan bagian dari mega proyek pembangunan kota baru yang kemudian dinamai Kairo dan menjadi ibukota Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Konon, hal tersebut merupakan tradisi yang bermula sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab RA yang telah memerintahkan para gubernurnya untuk selalu mendirikan sebuah masjid di setiap pembangunan kota baru Islam di wilayah yang mereka taklukan.
Tujuannya, selain sebagai sentra kegiatan keagamaan dan keilmuan, juga agar menjadi simbol bagi agama dan peradaban Islam yang tumbuh dan berkembang di sana. Makanya, Masjid Al-Azhar pun didirikan sebagai bukti kejayaan Islam kala itu di Mesir. Dan bisa dikatakan bahwa sejarah kelahiran Al-Azhar tidak terlepas dari sejarah kelahiran kota Kairo juga.
Sejarah Al-Azhar
Masjid Al-Azhar yang berarti masjid yang paling bersinar selesai dibangun oleh Panglima Besar Dinasti Fathimiyah, Jauhar As-Shaqaly pada 7 Ramadhan 361 H, bertepatan pada hari Jum’at, 22 Juni 972 M, yang juga merupakan hari pertama dilaksanakannya shalat Jum’at di sana. Menariknya, umur Al-Azhar yang kini tengah menginjak usia ke-1041 tahun, ternyata tetap menyisakan lembar sejarah Sunni-Syi’ah yang sangat fenomenal dalam sejarah Islam.
Mencermati latar belakang pembangunan Masjid Al-Azhar -yang dahulu kerap disebut dan dikenal luas dengan nama Masjid Kairo- serta Dinasti Fatimiyah yang menganut paham Syiah, dapat disimpulkan bahwa pada awal sejarahnya Al-Azhar digunakan sebagai pusat penyebaran paham Syiah di Mesir.
Namun dengan kehendak Allah SWT, Ia akhirnya menjadikan Al-Azhar sebagai pusat peradaban keilmuan bagi aliran Sunni. Berkat jasa Shalahuddin Al-Ayyubi -sang panglima perang Dinasti Ayyubiyah yang berhasil menaklukan Dinasti Fatimiyah pada abad ke-6 Hijriyah- Mesir yang tadinya diwarnai aliran Syi’ah, berhasil dirubah dan mendapatkan semangat baru dari Sunni. Hal ini sekaligus menjadi titik awal bagi sejarah Al-Azhar selanjutnya.
Andil Besar Al-Azhar
Masjid Al-Azhar sejak awal berdiri difungsikan sebagai tempat ibadah. Enam tahun kemudian tepatnya pada 365 H / 976 M, ia mulai digunakan sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar dan majelis ilmu pengetahuan bermadzhab Syi’ah Ismailiyah.
Di usia ke-12 tahun, peran masjid ini berubah menjadi sebuah universitas besar dan terkenal di dunia. Semenjak itu, andil besarnya dalam kemajuan penyebaran ilmu Islam di Mesir maupun di dunia mulai terlihat jelas.
Sebagai pusat keilmuan, peran sentral dan pengaruhnya di dunia Islam tidak lagi dipertanyakan. Ditunjuknya perwakilan ulama Al-Azhar dalam berbagai forum internasional umat Islam menjadi bukti konkrit bahwa Al-Azhar sangat diperlukan dan berperan penting.
Hebatnya lagi, meski bukan yang tertua di dunia layaknya Universitas Al-Qayrawan, Universitas Al-Azhar diamini telah menjadi universitas yang paling berpengaruh di dunia Islam hingga sekarang. Sejak dulu, selain bergelar handal soal institusi keilmuan Islam, Al-Azhar juga dipercaya sebagai pemegang kebijakan politik negara Mesir.
Pada masa Dinasti Turki Utsmani misalnya, Al-Azhar mempunyai semacam kekuatan untuk menentukan gubernur Mesir dengan syarat-syarat tertentu. Al-Azhar juga bisa menurunkan sang gubernur bila terbukti tidak lagi amanah, adil dan bijaksana.
Bermula dari situlah, banyak kalangan elit politik yang merasa resah akan kedudukan Al-Azhar sampai mencari banyak cara guna melemahkan kekuasaannya, seperti mendirikan institusi-institusi pendidikan dan keilmuan sebagai tandingan bagi Al-Azhar dan berusaha keras untuk melepaskan pengaruh Al-Azhar di Mesir.
Kondisi tersebut memaksa para ulama Al-Azhar untuk bergerak dari luar Al-Azhar sebagai sebuah institusi. Mereka memandang bahwa langkah tersebut memungkinkan mereka untuk bisa bergerak lebih leluasa. Sehingga munculah berbagai organisasi-organisasi pergerakan Islam dan Al-Azhar kembali menjadi institusi pendidikan yang banyak menelurkan tokoh-tokoh pergerakan dan ilmuwan Islam hingga sekarang. <Edithya Miranti>


















