Warsawa, Gontornews — Negara-negara Arab mempertanyakan keterlibatan Israel dalam sebuah Konferensi Timur Tengah yang dihelat di Warsawa, Polandia, Rabu (13/2). Pertemuan yang melibatkan Menteri Luar Negeri dan sejumlah pejabat dari 60 negara itu membahas seputar sepak terjang Iran dalam konflik Suriah & Yaman serta membahas perdamaian Israel-Palestina.
Meski demikian, para delegasi menduga bahwa pertemuan tersebut sangat bias Israel. Dugaan tersebut menguat setelah Menteri Luar Negeri Oman, Yousuf bin Alawi bin Abdullah, bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu di sela-sela pertemuan di Warsawa tersebut.
“Banyak pihak yang mengikuti kepemimpinan (Oman) ini termasuk mereka yang terlibat dalam konferensi ini,” ungkap sebuah video yang dirilis secara resmi oleh Netanyahu dan dilansir Reuters.
Meski demikian, secara diplomatik, Oman tidak mengakui keberadaan Israel. Oman hadir dalam pertemuan tersebut sebagai bagian dari undangan yang dinisiasi oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk mencegah program nuklik Iran serta sejumlah keterlibatan Iran dalam sejumlah konflik di Timur Tengah.
“Orang-orang di Timur Tengah telah banyak menderita karena mereka terjebak pada kenangan masa lalu. Sekarang kami ingin mengatakan bahwa saat ini adalah era baru untuk masa depan,” ungkap Bin Alawi dalam acara bertajuk Ministerial to promote future of peace and security in the middle east yang dihelat diWarsawa, Polandia, 13-14 Februari 2019.
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence yang didampingi oleh Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo serta Penasehat Gedung Putih, Jared Khusner, menyebut bahwa pertemuan ini dilakukan demi menciptakan perdamaian di Timur Tengah.
“Kami sedang berusaha memperluas jumlah negara yang terlibat dan memiliki kepentingan perdamaian dan kemakmuran Timur Tengah di masa mendatang,” kata Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Iran, Brian Hook.
Meski dihadiri oleh 60 negara, sejumlah negara besar Uni Eropa seperti Jerman dan Perancis tidak mengikuti konferensi tersebut. Mereka berdalih pertemuan tersebut membahas seputar terciptanya ketegangan yang disebabkan atas keputusan sepihak Washington yang menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2015 silam serta memberikan sanksi kepada Teheran.
“Iran tidak berperilaku seperti negara normal. Mereka memiliki kebijakan luar negeri yang sangat ekspansionis dan itu mengguncang negara-negara lain,” tutup Hook. [Mohamad Deny Irawan]






















