Khartoum, Gontornews — Perang kata antara Mesir dan Ethiopia mengenai pembangunan bendungan raksasa, Grand Renaissance Ethiopia DAM (GRED), meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Perang kata ini terjadi menyusul buntunya negosiasi antara kedua negara terkait pembangunan GRED. Kedua negara khawatir buntunya negosiasi akan berbuntut pada konflik militer antara Mesir dan Ethiopia.
Sebagaimana diketahui, Ethiopia membangun bendungan senilai 4 miliar dolar AS di Blue Nil, anak Sungai Nil, dekat perbatasan Sudan. Ethiopia menargetkan proyek tersebut sebagai suplai listrik yang dibutuhkan oleh seluruh warga.
Sementara Mesir mengaku keberatan dengan pembangunan GRED karena Kairo menyebut 90 persen kebutuhan ekonomi masyarakat berasal dari Sungai Nil.
Pengamat dari International Crisis Group (ICG), William Davison, mengatakan bahwa ketegangan antar kedua belah negara tidak akan memicu konflik militer. Davison mengatakan bahwa inti permasalahan dalam pembangunan GRED adalah soal pengisian dan pengoperasian bendungan.
βSaya tidak berpikir krisis saat ini terkait dengan konflik regional lainnya,β kata Davison sebagaimana dilansir Anadolu.
βKedua negara masih perlu menyepakati masalah teknis periode pengisian dan pengoperasian bendungan untuk mengetahui dampak struktur (pada bagian Sungai Nil di Mesir),β pungkas Davison.
Sementara itu, seorang diplomat asal Sudan menyebut Perdana Menteri Sudan, Abdullah Hamdok, akan bertindak sebagai mediator kedua negara. Sudan dianggap sebagai negara yang dapat memainkan peran penting dalam memediasi permasalahan pembangunan GRED di kawasan Blue Nil.
βSudan memiliki niat yang kuat dalam menyelesaikan masalah bendungan secara damai,β pungkas diplomat yang enggan disebutkan namanya. [Mohamad Deny Irawan]





















