Jakarta, Gontornews — Sampai detik ini teori-teori para ekonom masih belum mampu menjawab persoalan-persoalan besar dalam dunia ekonomi. Sehingga pascakrisis global ini kita tetap berada dalam situasi resesi. “Kondisi perkembangan global hari ini merupakan bentuk refleksi dari keputusasaan para ekonom dalam menjawab peristiwa ekonomi. Keputusasaan para ekonom tersebut kemudian memunculkan istilah the new normal economy. Jadi kita disuruh untuk terbiasa dengan situasi yang seperti ini,” ujar Kepala Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) Institut Pertanian Bogor Irfan Syauqi Beik dalam seminar bertajuk “Amnesty Riba Merupakan Jalan Menuju Keselamatan Umat” di Kampus Trisakti Jakarta, Selasa (25/10).
Irfan menganalogikan kondisi perekonomian global dengan suhu badan manusia. Suhu badan normal, kata Irfan, misalnya 36 derajat kemudian tiba-tiba seluruh manusia di muka bumi ini suhu tubuhnya naik menjadi 38 derajat dan tidak ada yang bisa kembali seperti sedia kala.
“Karena itu seluruh dunia sepakat bahwa yang disebut kondisi normal atau sehat yang baru itu adalah yang suhunya 38 derajat. Kira-kira seperti itu logikanya. Makanya kemudian muncul istilah The New Normal. Karena ternyata teori-teori yang ada itu banyak yang tidak bisa menjawab persoalan-persoalan besar yang kita hadapi saat ini,” paparnya.
Tahun 2015 lalu, misalnya, negara-negara berkembang mengalami pertumbuhan pada titik terendah, hanya 3,8 persen. Situasi ekonomi di Uni Eropa juga masih belum stabil. Pada 2017 nanti secara global berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga, kita masih akan mengalami perlambatan ekonomi. Berdasarkan pengamatan Irfan pada 2019 juga akan muncul berita bahwa mereka perlu waktu sampai 2024 untuk bisa pulih. “Saya selalu mengikuti berita ekonomi dunia. Misalnya, bank central dunia Eropa ketika 2009 mengatakan Eropa akan tumbuh di 2011. Begitu 2011 muncul berita perlu waktu tambahan 3 tahun lagi. Begitu 2014 saya baca berita lagi katanya perlu waktu tambahan sampai 2016. Kemarin saya baca berita lagi katanya perlu waktu tambahan sampai 2019 untuk recover. Saya memprediksi pada 2019 nanti juga akan muncul berita kalau mereka perlu waktu sampai 2024 untuk bisa recover,” ujarnya.
Menurut Irfan ini merupakan persoalan besar. Sebagai orang beriman tentu melihat fenomena ini bukan sekedar fenomena ekonomi biasa. “Apa yang terjadi hari ini masih menunjukkan bahwa kita menghadapi persoalan-persoalan mendasar dalam dunia ekonomi. Pendekatan kita bukan pendekatan ekonomi biasa, kita juga harus melihat dari sisi kacamata agama. Kalau kita runut ,semua basis persoalan itu pada dasarnya karena melanggar ketentuan Allah. Basis semua permasalahan ekonomi adalah riba, maysir, gharar dan kezaliman ekonomi.”
“Ketika Allah melarang riba kita melakukan riba, ketika Allah melarang maysir kita melakukan maysir. Ketika Allah melarang gharar kita melanggar. Itu secara sistemik, masif dan ini betul-betul mengakar. Ini betul-betul terjadi hari ini,” paparnya.
Irfan menyebutkan, Rasulullah SAW dalam satu hadisnya sudah mengingatkan kepada kita. Rasulullah mengatakan tidaklah mungkin seseorang itu banyak bertransaksi dengan sistem ribawi kecuali akhir dari hartanya nanti akan menjadi sedikit. “Rasulullah sudah memberikan suatu jaminan bahwa sehebat-hebatnya sistem ribawi maka ujungnya akan memunculkan persoalan,” jelasnya.
Berdasarkan fenomena tersebut gagasan riba amnesty, menurut Irfan menemukan momentumnya. Riba amnesty merupakan cara bagaimana kita keluar dari sistem riba. Dari sinilah dibutuhkan collectif effort yang luar biasa. Baik dari individu, masyarakat, bangsa maupun negara. Tetapi titik berangkatnya harus dengan keyakinan. “Keyakinan yang kemudian akan menuntun kita untuk memperjuangkan walaupun dalam kondisi hari ini keyakinan ini mungkin dianggap agak sedikit mustahil. Mengapa riba amnesty menjadi penting. Karena kita sama-sama menjadi hewan melata,” jelasnya menganalogikan.
Irfan mencontohkan kisah pembakaran Nabi Ibrahim AS. Ketika Nabi Ibrahim di bakar, burung pipit sibuk mengantarkan air. Kemudian hewan-hewan melata dengan semangat mengantarkan air. Secara logika, tetesan air yang dibawa oleh burung pipit dan hewan melata itu mungkinkah bisa memadamkan api? Tetapi sejarah membuktikan bahwa api bisa dingin dengan air dari hewan melata. Demikian pelajaran dari hewan melata dan secara kedudukan manusia di atas hewan melata posisinya.
Lanjut Irfan menganalogikan tetesan air itu dengan uang 300 triliun di Bank Syariah. Bisakah 300 triliun uang Bank Syariah memadamkan 240 ribu triliun yang di Bank Konvensional. Secara logika dan nalar tidak bisa. Tapi kalau belajar dari kisah hewan melata seharusnya bisa dan semakin meneguhkan kita. Walaupun kita masih kecil tapi nothing is imposible. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. “Saya kira itu satu keyakinan yang harus masuk dalam diri kita yang kemudian mendrive up kita.” [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]



















