pesanan-majalah-edisi-khusus
31 °c
Pecenongan
Fri
Sat
Thursday, 20 August, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Wawancara

Nilai Kepahlawanan dalam Pendidikan Keluarga

Prof Dr Ir Euis Sunarti MSi, Guru Besar Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
7 November 2022
in Wawancara
0
Foto: bogor-kita.com

Sejarah Indonesia mencatat sejumlah wanita tangguh yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Mereka di antaranya Laksamana Malahayati, Sultanah Safiatuddin, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Siti Walidah, Dewi Sartika, Opu Daeng Risaju, Rangkayo Rasuna Said, dan Rangkayo Rahmah El-Yunusiyah. Pendiri sekaligus Ketua Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia, Prof Dr Euis Sunarti MSi, menjelaskan penetapan kepahlawanan bagi tokoh di atas merupakan bentuk pengakuan bagi wanita yang rela berjuang dan berani membela kebenaran, memperjuangkan keadilan, mencegah penindasan hingga melawan penjajahan.

“Mereka memiliki instrumental value maupun ultimate value yang jauh lebih tinggi dari masyarakat pada umumnya saat itu,” paparnya.

Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai Ketua Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga (KNPK) Indonesia itu. Simak ulasannya:

Apa komentar Anda tentang penetapan kepahlawanan nasional bagi para tokoh wanita itu?

BACA JUGA

Belajar Jadi Pengusaha Teladan dan Bermanfaat bagi Umat

Abad Kedua Gontor Dimulai Hari Ini!

Titik Terang Kembalikan Lunturnya Adab dalam Dunia Pendidikan  

Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Ekopesantren: Gagasan Merancang Pesantren Ramah Lingkungan

Hal itu merupakan bentuk pengakuan. Pengakuan terhadap kepahlawanan wanita merupakan hal yang sangat diharapkan. Sebagai contoh, menjadi pahlawan bisa laki-laki maupun perempuan. Keduanya memiliki potensi yang sama. Dari aspek pahlawan kemerdekaan tentu saja sifatnya perjuangan fisik dan keberanian yang menonjol. Maka, pengakuan terhadap pahlawan wanita ini menjadi fenomenal dan percontohan bagi generasi berikutnya bahwa banyak perempuan di zaman itu, dengan berbagai keterbatasan, mampu menjadi pahlawan bahkan dikokohkan sebagai pahlawan nasional.

Apa saja nilai-nilai kepahlawanan yang bisa diambil dari tokoh-tokoh itu?

Sebetulnya, penggunaan istilah pahlawan sudah menggambarkan bahwa ada orang-orang luar biasa yang mampu melampaui batas dari tanggung jawab hidupnya sebagai dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat terdekatnya. Tapi, mereka mengambil tanggung jawab yang jauh lebih besar, dengan sifat-sifat yang juga jauh lebih hebat, dengan keberanian, kinerja untuk menggerakkan, kemampuan untuk mengelola pengetahuannya dan memiliki sumberdaya untuk tampil, mempengaruhi, bersuara, dan beraksi. Mereka menjadi orang yang membela kebenaran, memperjuangkan keadilan, mencegah penindasan dan melawan penjajahan. Mereka bisa melakukan itu karena memiliki dasar yaitu nilai yang dianut dan diyakini kebenarannya. Tanpa nilai, tidak mungkin secara teori atau filosofis, seseorang bisa melebihi  tugas normalnya, atau menjadi extraordinary people, yang disebut pahlawan. Mereka memiliki instrumental values maupun ultimate values yang jauh lebih tinggi dari masyarakat umumnya tetapi ada ciri yang sama, walau dalam implementasi aksi atau gerakannya berbeda, yaitu tentang nilai kebenaran. Mereka mempunyai tujuan,  ultimate goal, tentang  keadilan, kebebasan, dan kemuliaan manusia.

Kunci kesuksesan seorang pahlawan yaitu, pertama, telah melampaui tugas atau prestasi perkembangannya, kemudian dia bisa melampaui kapasitas orang-orang di zamannya, dan mengaktualisasikannya dalam karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Contohnya,  aktualisasi  dalam menemukan ide-ide segar, inspirasi luar biasa, terobosan-terobosan, memiliki daya ungkit yang tinggi, sehingga kapasitasnya menjadi melejit.

Apa kunci sukses seorang wanita agar layak dianggap sebagai pahlawan?

Bagi saya, kepahlawanan atau mendapat gelar sebagai pahlawan itu bukan tujuan. Pahlawan merupakan label yang diberikan oleh pihak lain, sebagai bentuk pengakuan. Tingkatan pahlawan itu beragam dan relatif, menurut siapa dan bagi siapa, lingkup seberapa luas? Pahlawan bangsa dan negara,  suku, komunitas, masyarakat, bahkan pahlawan keluarga. Setiap orang bisa saja dianggap pahlawan bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, itu saja sudah hebat. Kalau pahlawan di tingkat nasional, maka perjuangannya juga pada level nasional. Mereka dianggap memiliki kehebatan, melebihi dari zamannya dan melebihi kapasitas lingkungannya. Artinya, dia harus memiliki kapasitas yang diimplementasikan dalam bentuk aksi, bisa berbentuk pemikiran yang berpengaruh secara luas, aksi yang bisa menginspirasi secara nasional hingga gerakan-gerakan yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang, hingga kehebatannya dianggap extraordinary. Sosok seperti ini sangat sedikit sekali. Karena itu, orang seperti ini akan layak dianggap sebagai pahlawan nasional.

Bagaimana cara agar perempuan bisa menjadi pejuang yang tangguh?

Perempuan bisa menjadi pejuang yang tangguh di level kehidupannya masing-masing. Kalau levelnya bagi dirinya sendiri saja, maka ketika seseorang memiliki ancaman berbeda, kerentanan yang dimiliki, dengan keterbatasan bawaan tapi mampu bangkit hingga bisa berkontribusi bagi orang lain, itulah ketangguhan. Para penyandang disabilitas yang bisa berkontribusi sebagaimana orang normal dan mampu melakukan suatu kebaikan, itu juga ketangguhan. Karena itu, bagi saya, ketangguhan merupakan cara seseorang dalam menghadapi dan menangani kendala-kendala yang dihadapi untuk kemudian melakukan sesuatu kebaikan dan hal positif lainnya.

Pepatah Arab menyebutkan al-ummu madrasatu al-ula in a’dadtaha a’dadta syaiban tayyiba al-a’raq. Bagaimana seharusnya peran ibu dalam pendidikan keluarga?

Peran ibu dalam pendidikan keluarga sangat luar biasa. Sebagai madrasah pertama, ibu merupakan pihak pertama yang menstimulus perkembangan, mengajarkan berbagai hal mendasar. Ucapan yang menstimulus anak dari tidak bisa apa-apa menjadi bisa banyak hal, tidak tahu apa-apa menjadi banyak tahu hal, mengajarkan keterampilan hidup, akhlak, adab hingga karakter telah menjadikan ibu sebagai sosok sentral dalam mendidik, bukan hanya individu dalam keluarga, tapi juga anggota masyarakat dan komunitas yang lebih luas.

Sebagai contoh, kita saat ini menghadapi persoalan integritas. Integritas telah tertuang sebagai nilai antikorupsi dan nilai inti revolusi mental. Integritas tidak akan bisa diperoleh kalau seseorang itu tidak memperoleh perkembangan psiko-sosial yang positif di setiap tahapan perkembangannya, diawali oleh perkembangan psiko sosial, trust, di awal kehidupan seorang anak dan bayi dari 0-3 tahun sampai 5 tahun di keluarga. Dari situ, peran ibu lebih dominan dibanding dengan peran ayah. Ibu yang mampu memberikan kedekatan, rasa aman (secure attachment) akan membawa anak-anak ke tahapan perkembangan psiko sosial yang percaya pada lingkungan yang baik, yang yakin bahwa dirinya sosok yang dicintai, diharapkan, diinginkan kehadirannya.  Itu awal dari perkembangan integritas. Jadi kalau kita berbicara tentang peradaban, bangsa dan negara, haruslah dilihat dari hubungan seorang anak dengan keluarga, ayah dan ibunya, khususnya dengan ibunya di awal-awal kehidupannya.

Apa pendidikan yang cocok bagi anak-anak perempuan saat ini?

Jangan lupa, ada pendidikan formal, informal dan nonformal. Pada pendidikan formal, perempuan bisa memilih sesuai minatnya. Minat tersebut diharapkan dikoreksi oleh pengetahuan  seorang perempuan mengenai kehidupan yang akan dijalaninya kelak. Pada umumnya setiap perempuan (juga laki-laki) tetap memilih keluarga sebagai bentuk kehidupan yang diinginkan dijalaninya kelak.  Orang yang terpapar pentingnya membangun keluarga besarnya, akan mempengaruhi atau mengoreksi  pemilihan minat pendidikannya. Misalnya seseorang memiliki minat ingin menjadi sesuatu, tapi kemudian ketika memikirkan kecocokan minat itu dengan situasi saat menikah, menjadi istri dan menjadi ibu. Karena itu, minat bisa dikoreksi jika terpapar oleh pertimbangan itu.

Tapi kalau tidak terpapar oleh pentingnya mempertimbangkan kehidupan keluarga yang ingin dijalaninya kelak, dia minatnya ‘A’ maka dia hanya ‘A’ saja. Walaupun mungkin dalam pelaksanaannya nanti ketika dia menikah dan punya anak, dia relatif tidak mudah berkompromi antara minat pendidikan formalnya dengan pertimbangan alaminya sebagai ibu dan istri.

Apakah akses pendidikan bagi wanita Indonesia masih terbatas?

Keterbatasan akses pendidikan bagi wanita saat ini sudah tidak ada. Saya pikir, sejak dulu, tidak ada secara khusus membedakan antara laki-laki dan perempuan. Yang terjadi yaitu karena adanya keterbatasan sumberdaya sehingga alokasinya mempertimbangkan situasi dan konteks saat itu. Misalnya, keluarga dengan sumberdaya terbatas dengan dua anak, laki-laki dan perempuan, mengapa anak laki-laki yang dipilih? Karena ketika jalan ke sekolah itu banyak rintangan sehingga laki-laki dianggap lebih mampu dari perempuan. Itu terjadi karena ada keterbatasan sumberdaya. Tapi, kalau tidak ada pembatasan dalam sumberdaya, tidak ada perbedaan (akses pendidikan) berdasarkan jenis kelamin.

Seberapa penting peran pendidikan agama bagi anak-anak perempuan?

Bagi saya, pendidikan agama bagi anak-anak perempuan sangat penting. Bagaimana anak-anak perempuan ini bisa melindungi dirinya, mengetahui baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh, pantas-tidak pantas, kalau tidak punya value atau nilai yang menjadi landasan. Nilai agama punya value yang lebih mendasar karena itu akan mengarahkan para perempuan dalam mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya. Nilai agama tentu saja mempengaruhi proses pemilihan sekolah, bentuk kehidupan yang mereka rencanakan, usia menikah yang mereka tetapkan, dengan siapa menikah, pekerjaan dan peran yang diambil oleh para perempuan. Hal tersebut tentu saja dikawal oleh value, dan yang paling dominan, agama. Kalau value lain, bisa jadi tidak ada nilai pahalanya kalau tidak diniatkan sebagai ibadah.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai problem media sosial bagi perempuan hari ini?

Saya prihatin sekali melohat fenomena tayangan vulgar para perempuan apalagi emak-emak di medsos belakangan ini. Saya sendiri sedang memikirkan bentuk aksi yang efektif untuk menghimbau, sebagai seorang akademisi, juga sebagai penggiat keluarga (GiGa) Indonesia, atau dari Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga (KNPK) Indonesia, terkait perilaku seronok, vulgar, dan  ketelanjangan sosial perempuan di media sosial ini. Kami pernah mengangkat aksi pada hari Kartini, dengan tema ‘Kartini Menangis’ melihat para perempuan yang membuat konten TikTok secara vulgar. Kalau kita lihat, TikTok tidak salah tapi karena kemudahan dan dimanfaatkan oleh konten-konten yang tidak mendidik dan sangat mengedepankan gaya erotis, tentunya, itu sangat mengganggu. Saya menganggap isu ini memerlukan aksi serius dari semua kalangan.

Bagaimana Anda menyoroti gerakan LGBT?

Gerakan LGBT sangat merusak institusi keluarga. Saat ini, perceraian bukan lagi karena permasalahan ekonomi, pertengkaran dan kekerasan, ada beberapa data dari Pengadilan Agama yang menunjukkan bahwa perceraian disebabkan karena salah satu pasangan, suami-istri, atau keduanya, berubah menjadi LGBT. Baik istrinya menjadi lesbi atau suaminya menjadi homo, biseksual, atau transgender. Sehingga saat seorang ayah berubah orientasi seksnya, ia merusak anak laki-lakinya.

Apa pesan Anda untuk wanita Indonesia?

kita harus memperkuat kembali identitas wanita Indonesia. Sebenarnya, kita memiliki landasan filosofis yang kuat yaitu Pancasila, sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dan UUD 1945 tentang hak beragama. Landasan filosofis, yuridis, dan teoritisnya tentang pilihan perempuan tentang bentuk kehidupan yang ideal. Mayoritas perempuan masih ingin menikah dan memiliki anak. Secara empiris sosiologis, keluarga Indonesia, perempuan Indonesia, tidak keberatan laki-laki menjadi kepala keluarga. Artinya, hal ini akan menjadi dasar relasi keharmonisan antara laki-laki dan perempuan, membangun keluarga, memilih dan mengambil keputusan.

Para perempuan Indonesia harus mencapai kematangan perkembangannya secara optimal guna menjalani peran-fungsi-dan tugas-tugas yang diembannya, di antaranya berkeluarga, menjadi istri, menjadi ibu, menjadi anggota masyarakat agar berkontribusi atau tidak menutup kemungkinan bisa menjadi pahlawan, yang tampil menyelesaikan masalah di lingkungannya. Perempuan itu, kadang-kadang, dengan naluri keibuannya, naluri pelindungannya, kasih sayangnya, mau membantu orang lain, bisa jadi punya energi yang sangat besar untuk melakukan aksi-aksi atau gerakan-gerakan kebaikan di lingkungannya, bahkan meluas, manakala dia melebihi dari sekedar untuk menjadi diri sendiri, keluarga dan lingkungannya. []

Tags: Euis SunartiPahlawanPendidikan keluarga
Share14Tweet9Send
Previous Post

Dubes Ukraina untuk Jerman Ingatkan Ancaman Nuklir Putin

Next Post

Dosen INAIS Raih Juara 3 Gelar Inovasi Daerah 2022 Kabupaten Bogor

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Jumat yang Mengetuk Pintu Persaudaraan

Jumat yang Mengetuk Pintu Persaudaraan

16 August 2026
Ujian Tulis Awal Tahun Resmi Dimulai di Pondok Modern Al-Imtinan Putri Riau

Ujian Tulis Awal Tahun Resmi Dimulai di Pondok Modern Al-Imtinan Putri Riau

15 August 2026
Alumni Gontor Raih ‘Doktor Mumtaz’ di IIU Islamabad

Alumni Gontor Raih ‘Doktor Mumtaz’ di IIU Islamabad

20 August 2026
Jika Tujuh Kata Piagam Jakarta Tidak Dihapus: Tinjauan Filosofis, Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis terhadap Moralitas Bangsa dan Tata Kelola Negara

Jika Tujuh Kata Piagam Jakarta Tidak Dihapus: Tinjauan Filosofis, Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis terhadap Moralitas Bangsa dan Tata Kelola Negara

16 August 2026
100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

20 August 2026
Alumni Gontor Raih ‘Doktor Mumtaz’ di IIU Islamabad

Alumni Gontor Raih ‘Doktor Mumtaz’ di IIU Islamabad

0
100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

0
Gontor 7 Kalianda Ajarkan Empat Sistem Pendukung Kehidupan Santri

Gontor 7 Kalianda Ajarkan Empat Sistem Pendukung Kehidupan Santri

0
Meski Berselimut Kabut, Santri Gontor Kampus 4 Banyuwangi Tetap Semangat Peringati HUT RI Ke-81

Meski Berselimut Kabut, Santri Gontor Kampus 4 Banyuwangi Tetap Semangat Peringati HUT RI Ke-81

0
Keluarga Besar Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Sukses Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-81

Keluarga Besar Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Sukses Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-81

0
100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

20 August 2026
Santriwati Gontor Putri Kampus 4 Kediri Peringati HUT RI Ke-81 dengan Tertib dan Semangat

Santriwati Gontor Putri Kampus 4 Kediri Peringati HUT RI Ke-81 dengan Tertib dan Semangat

20 August 2026
Meski Berselimut Kabut, Santri Gontor Kampus 4 Banyuwangi Tetap Semangat Peringati HUT RI Ke-81

Meski Berselimut Kabut, Santri Gontor Kampus 4 Banyuwangi Tetap Semangat Peringati HUT RI Ke-81

20 August 2026
Gontor Kampus 12 Riau Khidmat Jalani Upacara Bendera HUT RI Ke-81

Gontor Kampus 12 Riau Khidmat Jalani Upacara Bendera HUT RI Ke-81

20 August 2026
Keluarga Besar Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Sukses Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-81

Keluarga Besar Gontor Putri Kampus 3 Karangbanyu Sukses Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-81

20 August 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Yang di Wakafkan Pondok Ini Bukan Harta Bendanya Saja, Bukan Gedungnya Saja, Bukan Tanahnya Saja, Tetapi Nilai-Nilai Yang Ada di Pondok Ini, Ide Yang Ada di Pondok Ini, Sistem Yang Ada di Pondok Ini Adalah Wakaf Bagi Kita Semua.KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.#gontornews #majalahgontor #gontor #pondokmoderngontor #gontorponorogo
  • Repost from @hilabiyus Keluarga Besar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi, mengucapkan:Selamat dan Sukses atas Peringatan Satu Abad (100 Tahun) Pondok Modern Darussalam Gontor (1926–2026).Apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan kontribusi tanpa henti Gontor dalam mencetak generasi emas Islam yang berakhlak mulia, berwawasan global, dan bergerak sebagai perekat umat. Semoga momentum satu abad ini semakin mengokohkan peran Gontor dalam syiar pendidikan Islam yang moderat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah internasional, termasuk melahirkan alumni-alumni unggul yang berkiprah di wilayah Arab Saudi dan Timur Tengah."Gontor Membawa Nilai Islam, Menginspirasi Dunia."#gontor #gontor.putra #majalahgontor #gontornews
  • Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu, karena menuntut ilmu agama dari pada kamu nanti "yen wes tuwo nangis karena anak-anak mu lalai urusan akhirat.. kakean mikir ndunyo, rebutan bondo, pamer rupo..lali surgo."Kiai Hasan Abdullah Sahal
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
  • Edisi September yang akan datang.
Liputan Khusus :
1. Peta sebaran Pondok Alumni Gontor di Indonesia
2. Prospek dan Tantangan Pondok Alumni-Muadalah
3. KH Hasan Abdullah Sahal: Gontor Sebagai Inspirator Pondok Modern Yang Bersatu
4. Kipran Pondok Pesantren Alumni Gontor di Mancanegarapesan sekarang!
  • KOLEKSI EDISI KHUSUS 100 TAHUN GONTORTiga edisi istimewa telah hadir!
📖 Juli 2026 – Seabad Mendidik Bangsa
📖 Agustus 2026 – UNIDA Gontor Mendunia
📖 September 2026 – Satu Abad, Seribu GontorJadikan ketiganya sebagai koleksi sejarah 100 Tahun Gontor di perpustakaan Anda🛒 Segera pesan sebelum kehabisan!
🔗 https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor #100tahungontor #gontor100tahun #gontornews
  • Silahkan daftar melalui link ini : https://tinyurl.com/iklan-magonatau link bisa lihat di profile
  • Batas Akhir 7 Agustus 2026
Link Pendaftaran ada di profile"Kesempatan boleh datang berkali-kali, tetapi momen 100 Tahun Gontor hanya terjadi sekali. Jangan hanya menjadi saksi sejarah. Jadilah bagian dari sejarah."
  • Sistim pendafaran otomatis akan tertutup pada tanggal 7 Agustus 2026.
  • Edisi Khusus Majalah Gontor dalam rangka 100 Tahun Gontor. Bulan Juli, Agustus dan September.
Link Pemesanan : Lihat di profile#majalahgontor #gontornews #edisikhsusumajalahgontor #100tahungontor #gontor #gontorputri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result