Keranjingan dengan gawai atau gadget hingga mengabaikan orang-orang di sekitarnya merupakan fenomena yang kini menjamur di sekitar kita. Mulai dari anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Mereka sering larut dalam piranti gawai yang kian canggih dan cenderung abai dengan kondisi di sekitarnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah “Phubbing”.
Penggunaan gawai secara berlebihan dan tanpa kontrol yang baik dari si pengguna akan menyebabkan dampak psikologis bagi si pengguna dan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana tidak, pertemuan yang seharusnya berkualitas menjadi pertemuan yang tanpa makna karena masing-masing asyik dengan gawainya.
Keluarga dalam sebuah miniatur masyarakat harus menjadi lingkungan pertama agar anggota keluarga bisa lebih bijak dalam menggunakan gawai. Peran serta orangtua dan anggota keluarga untuk bisa saling mengingatkan agar menggunakan gawai dengan cerdas dan penuh pendidikan harus ditanamkan di lingkungan keluarga.
Untuk mengetahui bagaimana sebaiknya kita menggunakan gawai yang produktif dan bukan larut dengan gawai yang ada di genggaman kita, wartawan Majalah Gontor Fathurroji bertandang ke kantor Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menemui psikolog yang juga Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak LPAI Reza Indragiri Amriel. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Anda melihat fenomena phubbing di masyarakat?
Harus diakui gawai itu membawa perubahan dalam tempo kecepatan mengatasi persoalan majemuk dalam waktu yang tunggal. Manusia hari ini dituntut multitasking. Persoalannya adalah ketika gawai yang kita gunakan digunakan tanpa ada komitmen dan visi yang jelas maka akan menjadi masalah dalam hidup bermasyarakat. Salah satunya fenomena phubbing yang banyak kita temui di sekitar kita.
Sebaiknya apa yang perlu disiapkan sebelum kita bergawai?
Di antara kunci orangtua yang sukses ada tiga hal, ini teori yang saya bikin sendiri, yaitu jika ada komitmen, visi yang jelas dan alokasi waktu. Komitmen menunjukkan kesungguhan atau kemampuan kita untuk bertahan dalam sebuah agenda tugas hidup, konteksnya dalam pengasuhan peran sebagai orangtua. Orangtua juga harus mempunyai visi, untuk itu orangtua harus terus menambah wawasan dengan cara banyak membaca, diskusi, ikut komunitas nyata maupun maya agar visinya senantiasa termutakhirkan. Sedangkan alokasi waktu, karena waktu itu yang memberikan wadah bagi terealisasinya komitmen dan visi tersebut.
Sejauhmana antara komitmen, visi dan alokasi waktu itu tidak bergesekan dengan penggunaan gawai?
Gawai itu mengondisikan makhluk yang multitasking, karenanya akan muncul gesekan ketiga hal di atas, karena itu harus menemukan keharmonisan akan keberadaan gawai yang multitasking itu. Kita punya standar ganda, misalnya saat ada meeting kantor lalu ada kontak dari keluarga jawabannya sebentar masih rapat, sedangkan saat dalam keluarga lalu ada telpon dari kantor maka kita tidak bisa mengatakan maaf masih bersama anak-anak. Artinya kita memang memiliki standar ganda.
Phubbing apakah sesuatu yang abnormal?
Beruntung bahwa di beberapa negara ketergantungan yang berlebihan terhadap gawai sudah dikatakan sebagai abnormalitas dalam psikologis. Misalnya adiksi akan pornografi, adiksi game, adiksi bersosial media. Sehingga muncul terma yang spesifik terhadap gawai. Semestinya hal ini memberikan peringatan kepada kita bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang positif dari gawai yang kita pegang. Kita harus lebih bijak menggunakan gawai.
Kapan gawai bisa diberikan kepada anak-anak?
Disclaimer harus muncul, karena setiap keluarga, agama, suku, bangsa, negara punya standar kepatutan yang berbeda, masing-masing mempunyai nilai kearifan sendiri-sendiri. Saya tidak sepakat jika harus dikunci, total tidak menggunakan gawai. Misalnya Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pernah akan memberikan pelarangan kepada anak-anak terhadap penggunaan gawai. Saya kurang sepakat, karena jauh sebelum itu sudah ada salah seorang guru yang menggunakan facebook sebagai media komunikasi dengan murid-murid dan jauh lebih dinamis, interaktif dalam pendidikan.
Jadikan gawai sebagai intrumen untuk memperkuat perilaku positif anak. Jadi yang mengunci kapan atau tidak boleh menggunakan gawai bukan berdasarkan waktu, bukan berdasarkan usia tapi berdasarkan perilaku positif anak. Kebutuhan anak, bicara kebutuhan tidak melulu belajar, tapi juga untuk menghibur asal perilakunya lebih baik. Kalau anak-anak tetap susah diarahkan dan tidak menunjukkan perilaku yang baik maka jangan memberikan gawai kepada anak. Perilaku baik baru terbuka pegang gawai dan waktu tetap diatur.
Mengapa bukan pada batasan usia?
Kita mau berteori relatif mudah, di mana usia anak-anak itu dimulai dari 0 sampai sebelum 18 tahun semua disebut anak. Kendati anak-anak tapi penampakan lahiriah dan dinamika batiniah mereka berbeda. Begitu juga sisi kognitif, anak ada yang masih Lower Order Thinking Skills (LOTS) kemampuannya masih di tingkat remembering, understanding, dan applying. Sedangkan anak yang lebih lanjut usianya memiliki kemampuan lebih tinggi lagi yaitu Higher Order Thinking Skills (HOTS) di mana anak sudah bisa analyzing, evaluating dan creating. Jadi bukan berdasarkan waktu, bukan berdasarkan usia tapi berdasarkan perilaku positif anak.
Gawai ini telah membius kita, tapi kita tidak berpasrah diri terhadap apapun yang ada di gawai. Seperti penyebaran hoax. Hal ini sudah lama ada sejak jaman Rasulullah, sekarang menjadi mudah karena sekarang kita mudah mendapatkan melalui gawai. Kecerdasan kita dalam menyikapi hoax akan sulit untuk anak yang masih memiliki kemampuan LOTS, tapi lebih siap untuk anak yang punya kemampuan HOTS. Karena itu menetapkan anak berdasarakan angka umur menjadi sulit, tapi menetapkan berdasarkan tingkat perkembangan HOTS-nya dan bukan LOTS-nya.
Kapan orangtua bisa memberikan arahan kepada anak-anaknya soal bergawai bijak?
Saya yakin bahwa tindak tanduk pola komunikasi dalam bergawai merupakan titik lanjutan setelah keluarga menciptakan pola komunikasi yang lebih majemuk. Ketika keluarga berhasil menciptakan komunikasi yang baik di meja makan secara lahiriah, face to face itu pijakan ideal dengan keluarga dan orangtua memberikan keteladanan yang sehat untuk bergawai secara bijak. Jika tataran komunikasi di meja makan saja menjadi persoalan, maka saya kuatir pada komunikasi menggunakan gawai akan sulit dikomunikasikan dengan anak.
Apa peran lembaga pendidikan untuk mengarahkan anak didiknya bergawai secara bijak?
Ada inpres gerakan nasional revolusi mental yang salah satunya mengupas seputar penciptaan ramah anak dari kekerasan di rumah dan sekolah. Setelah persoalan rumah kita beranjak ke sekolah. Orang mengatakan jadikan guru sebagai orangtua di sekolah, kelas sebagai rumah di sekolah. Seharusnya sinkron dan sebangun apa yang terjadi di rumah. Literasi tentang bergawai yang diajarkan di sekolah terbangun di rumah. Peran guru untuk memberikan pencerahan agar bergawai bisa meningkatkan kualitas anak didik melalui tugas-tugas sekolah yang melibatkan gawai dalam pengerjaannya. Phubbing harus diarahkan kepada sesuatu yang positif dan multitasking. Ironi kita mengondisikan manusia sebagai makhluk yang mampu untuk multitasking tapi ada kerisauan ketika melakukan phubbing apalagi dalam konteks pengasuhan.
Jadi anak tetap diberi akses ke gawai?
Saya yakin bahwa pendidikan yang baik tetap mengenalkan anak akan teknologi, jadi tidak gaptek. Man behind the gun, tidak ada senjata yang membahayakan tapi yang membahayakan itu pengguna senjata tersebut. Ini juga berlaku di gawai, ketika gawai tidak digunakan sama sekali tidak akan menjadi persoalan, tapi ketika kita mulai menggunakannya maka dibutuhkan kearifan kita menggunakannya.
Apakah di data LPAI ada kasus soal gawai?
LPAI pernah ada kasus bersumber dari gawai. Ada kasus di mana mata anak menjadi juling karena terlalu sering menggunakan gawai. Kita tidak bisa berbuat banyak, tapi kita berikan edukasi terkait bagaimana menggunakan gawai dengan baik. Itu sudah kami lakukan.
Apa harapan Anda ke depan?
Harapan saya, kita bisa menemukan teknologi untuk memblokir situs-situs jelek bagi anak, situs tidak ramah anak, seperti situs pornografi, terorisme, kekerasan dan lain sebagainya. Karena keasyikan dengan piranti yang ada dalam gawai akan mengubah definisi pertemanan karena mereka lebih menganggap penting gawai daripada pertemanan lewat tatap muka dan sentuhan kulit. Gawai akan merombak definisi pertemanan dan tidak menganggap penting permainan tatap muka, pertemuan langsung, yang marak adalah kamuflase daripada kejujuran. Relasi sosial berubah, dari langsung ke virtual. Merasa hiruk pikuk dalam kesendirian. Padahal pembelajaran yang ideal adalah multisensorik, semakin banyak sensor penginderaan yang terlibat akan lebih baik, bukan hanya mata, telinga, tapi juga sentuhan kulit.
Gambaran orang yang keranjingan gawai seperti apa?
Saya menggambarkannya seperti alien, makhluk luar angkasa. Jangan-jangan kita sebagai alien sebagai perwujudan tampilan manusia masa depan, badannya kurus kering karena badannya tidak bergerak lagi karena segala sesuatu ada remote kontrol, tubuhnya mengecil karena tidak digunakan, kepalanya membesar karena kerja otak semakin berat, dan jarinya semakin panjang karena jarinya terus digunakan untuk bergawai. []






















