Higashimatsushima, Gontornews — Pemerintah Jepang secara resmi menyalakan api Olimpiade Tokyo 2020, Jum’at (20/3). Dengan pembakaran api Olimpiade ini, Pemerintah Jepang mengisyaratkan bahwa pelaksanaan even olahraga terbesar di dunia tersebut akan berlangsung sesuai jadwal. Padahal Jepang tengah menghadapi tekanan publik dimana mereka menjadi salah satu negara paling terdampak COVID-19.
“Awalnya, kami berencana untuk menghadirkan anak-anak untuk menyambut penyalaan api (olimpiade). Tetapi, dengan memprioritaskan keselamatan mereka, kami memutuskan untuk melakukan hal tersebut tanpa mereka,” ungkap Ketua pelaksana Tokyo 2020, Yoshiro Mori.
“Itu adalah keputusan yang menyakitkan. Kami menjamin bahwa pelaksanaan acara akan berlangsung secara aman,” imbuhnya sebagaimana dilansir Reuters.
Sejauh ini, Jepang bergulat dengan tekanan untuk menghindari krisis kesehatan yang berisiko terjadi terhadap 600.000 atlet dan suporter. Akibat COVID-19, panitia berpotensi kehilangan pemasukan 3 Miliar Dollar AS dari sponsor dan sekitar 12 Miliar Dollar AS sebagai dana persiapan infrastruktur.
Dalam penyalaan api olimpiade ini, panitia Tokyo 2020 terpaksa tidak mengirim delegasi tingkat tinggi seperti Menteri Olimpiade Seiko Hashimoto.
“Ini adalah waktu yang sulit. Saya berharap obor estafet akan membawa semangat dan harapan banyak orang,” ungkap atlet gulat asal Jepang, Saori Yoshida.
Secara teknis, obor olimpiade ini akan diarak ke wilayah Tohoku yang sempat mengalami tsunami dan gempa bumi pada 2011. Arak-arak api olimpiade akan berakhir pada 26 Maret 2020 di Fukushima.
Meski demikian, panitia mendesak masyarakat untuk tidak memadai rute estafet tersbut. Penyelenggara pun akan melakukan kontrol ketat terhada suhu dan kesehatan para atlet dan staf yang terlibat dalam acara ini.
Rute estafet ini akan melakukan perjalanan selama 121 hari menuju stadion Olimpiade di Tokyo. Rute estafet ini akan melewati Gunung Fuji, Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima dan Kastil Kumamoto. [Mohamad Deny Irawan]





















