Douma, Gontornews — Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) untuk pertama kalinya tiba di Suriah, Sabtu (21/4). Kedatangan para pengawas dari pengawas senjata kimia global adalah untuk menyelidiki penggunaan senjata kimia yang dilakukan Pemerintah Suriah dan Rusia beberapa hari lalu di Douma.
Para ahli telah memasuki kota yang sebelumnya sebanyak puluhan orang meninggal dan ratusan lainnya terluka dalam insiden 7 April kemarin.
Dalam sebuah pernyataan, OPCW mengatakan bahwa timnya telah mengunjungi salah satu lokasi yang menjadi target dari serangan yang diduga menggunakan senjata kimia untuk mengumpulkan sampel untuk analisis.
“OPCW akan mengevaluasi situasi dan mempertimbangkan langkah-langkah di masa depan termasuk kemungkinan kunjungan lain ke Douma,” katanya, Aljazeera.
Berdasarkan analisis hasil sampel serta informasi lain serta materi yang berhasil dikumpulkan oleh tim, FFM (misi pencari fakta) yang akan menyusun laporan nantinya akan diserahkan kepada Negara-negara berwenang pada Konvensi Senjata Kimia untuk mempertimbangkan tindak lanjutnya.
Kementerian Luar Negeri Rusia, yang merupakan sekutu utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, juga mengatakan bahwa para inspektur OPCW telah memasuki Douma.
Sementara, AS dan Prancis menuduh Rusia memblokir akses ke lokasi tersebut, dimana petugas medis mengatakan bahwa terdapat belasan orang tewas di ruangan-ruangan yang penuh sesak dan beberapa diantaranya dengan busa di sekitar hidung dan mulut mereka.
Sebelumnya, Senin (16/4), selama pertemuan darurat di markas OPCW di Den Haag, para diplomat Barat menuduh pemerintah Suriah dan Moskow telah menghalangi tim tersebut. Namun Rusia membantah klaim dan mengatakan bagian Douma masih perlu diawasi dan para pengawas bisa datang Rabu mendatang.
Namun, Prancis dan AS mempertanyakan klaim Rusia dan memperingatkan kemungkinan bukti yang memberatkan telah dihapus pada saat itu.
Selain itu, Ishak Majali, mantan inspektur OPCW, juga mengatakan kemungkinan inspektur tidak akan menemukan bukti di lokasi setelah penundaan tersebut.
“Sudah banyak waktu sejak serangan itu terjadi,” katanya.
Ia menjelaskan, mengendalikan lokasi dengan bahan kimia untuk waktu yang lama, akan sangat mudah untuk mengutak-atik tempat dan mengubah fakta di lapangan. Devi Lusianawati





















