Ramallah, Gontornews — Petinggi Palestina mengecam langkah Bahrain untuk memperbaiki hubungan diplomatik dengan Israel. Bagi Palestina, kesepakatan kedua negara merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Jerusalem, Al-Aqsa dan perjuangan Palestina.
“Pimpinan Palestina dengan keras menolak dan mengutuk deklarasi segitiga, Amerika Serikat-Bahrain-Israel tentang normalisasi hubungan antara Israel dan Bahrain,” ungkap pernyataan resmi otoritas Palestina sebagaimana dilansir Anadolu.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan, dalam akun Twitter-nya, terjalinnya perjanjian dengan Bahrain dengan Israel, Jum’at (11/9). Trump menjelaskan bahwa terjalinnya perjanjian ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa terlibat dalam panggilan telepon.
“Pembukaan dialog langsung dan hubungan antara dua negara dinamis dan kemajuan ekonomi akan mendorong transformasi positif di Timur Tengah. (Kesepakatan tersebut juga) berpotensi meningkatkan stabilitas, keamanan dan kemakmuran di kawasan,” kata Trump.
“Bahkan pejuang terhebat pun lelah berperang. Saya bisa melihat banyak hal baik terjadi sehubungan dengan Palestina,” imbuhnya.
Bagi kelompok perjuangan Palestina, seperti Hamas, menganggap normalisasi Bahrain-Israel menghapuskan perjuangan Palestina.
Bahrain mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) dalam melakukan perjanjian normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Kesepakatan UEA-Israel pun terjalin hampir satu bulan sebelum kesepakatan serupa terjadi antara Bahrain dan Israel.
Bahrain menjadi negara Arab keempat setelah Mesir (1979), Yordania (1994) dan UEA (2020) yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. [Mohamad Deny Irawan]























