Lima, Gontornews — Parlemen Peru, Rabu (7/12/2022), resmi memakzulkan Presiden Pedro Castillo dari jabatannya seiring dengan terjadinya sejumlah pergolakan politik dalam negeri. Sebagai pengganti, parlemen Peru melantik Dina Boluarte sebagai Presiden Peru tidak lama setelah Castillo terguling dari jabatannya. Rencananya, Boluarte akan menjabat sebagai Presiden wanita Peru pertama hingga Juli 2026.
Konflik dan hubungan Presiden Castillo dengan parlemen terus memburuk sejak ia, secara tidak terduga terpilih sebagai Presiden Peru 18 bulan lalu. Pemakzulan Castillo sebagai Presiden kali ini merupakan upaya ketiga dari usaha parlemen untuk memakzulkannya.
Sebelum pemakzulannya, Castillo mengumumkan bahwa ia membubarkan Kongres yang mayoritas kelompok oposisi. Tidak hanya itu, ia juga mengumumkan pemberlakuan jam malam serta akan memerintah dengan mengeluarkan sejumlah keputusan-keputusan.
Suara kritik dari sejumlah anggota parlemen semakin mengemuka sesaat Castillo berpidato di depan televisi. Para anggota bahkan berkumpul lebih awal untuk membahas mosi pemakzulan Castillo dari kursi presiden. Dalam prosesnya, mayoritas 101 dari 130 anggota parlemen menyetujui pemakzulan Castillo.
Para anggota parlemen menganggap Castillo tidak mampu secara moral untuk menjalankan kekuasaan setelah serangkaian krisis termasuk enam penyelidikan terhadapnya, lima kali perombakan kabinet serta protes besar masyarakat.
AFP melansir, konstitusi Peru mengizinkan proses pemakzulan seorang Presiden kala melakukan kesalahan dalam urusan politik, alih-alih urusan hukum. Konstitusi ini yang membuat isu pemakzulan presiden di Peru menjadi hal yang biasa.
Setelah Castillo makzul, tim jaksa yang menangani dugaan korupsi pemerintah, menangkap Castillo atas dugaan kasus pemberontakan.
Sejak tahun 2018, sudah ada tiga presiden Peru yang dimakzulkan parlemen karena alasan ketidakmampuan secara moral. Peru juga tidak asing dengan situasi politik yang tidak stabil: pada tahun 2020, Peru tercatat memiliki tiga presiden hanya dalam rentang waktu 5 hari. Jika dihitung sejak 2016, pemakzulan Castillo sebagai Presiden menjadi yang keenam kalinya dalam rentang waktu 6 tahun terakhir. [Mohamad Deny Irawan]





















