Pristina, Gontornews — Partai berhaulan kiri, Vetevendosje, memenangkan pemilihan suara parlemen di Kosovo, Ahad (6/10). Vetevendosje meraih 26 persen suara sementara pesaingnya, partai Democratic League of Kosovo (LDK), meraih 25 persen suara parlemen.
Meski keduanya beroposisi, mereka tetap akan membentuk koalisi dan berkuasa bersama. Selain berkoalisi bersama, mereka juga membutuhkan suara dari partai peraih suara minoritas lain seperti Serbs, Turks, dan Bosniaks dengan total meraih 20 kursi di parlemen.
Pemilihan parlemen kali ini menjadi yang keempat sejak negara Muslim di Eropa tersebut merdeka pada tahun 2008.
“Saya akan semaksimal mungkin untuk memiliki pemerintah sesegera mungkin karena kami berada di akhir tahun dan kami harus segera membuat anggaran,” kata Pemimpin Vetevendosje, Albin Kurti, sebagaimana dilansir Reuters.
“Malam ini, aku tidak akan mengetuk pintu LDK tetapi aku akan melakukan hal pertama esok hari. Kami tidak punya banyak waktu untuk kalah,” kata Kurti yang oleh ketentuan hukum Kosovo akan menerima mandat sebagai Perdana Menteri Kosovo terpilih.
Sementara itu, partai terbesar Kosovo, the Democratic Party of Kosovo (PDK) menduduki posisi ketiga perolehan suara pemilihan parlemen dengan 21 persen suara. Dalam pemilihan parlemen kali ini, partisipasi warga Kosovo mencapai 44,05 persen termasuk warga Kosovo yang berada di luar negeri.
“Pada intinya, ketika seseorang memilihnya, mereka akan berpikir bahwa dia adalah orang yang akan memerangi kejahatan dan korupsi serta meningkatkan ekonomi Kosovo,” ungkap Pemimpin Redaksi Harian Kosovo, Koha Ditore, kepada Reuters.
Dua puluh tahun setelah NATO menembakkan bom hingga menggusur pasukan Serbia, yang saat itu bernama Yugoslavia, menolak mengakui kemerdekaan Kosovo. Bersama Rusia, Serbia juga memblokir keanggotaan Kosovo dalam segala bentuk organisasi internasional seperti PBB maupun Uni Eropa.
Meskipun pada tahun 2013, Pristina, ibu kota Kosovo, dan Beograd, ibu kota Serbia, melakukan serangkaian dialog perdamaian, hubungan keduanya tetap tidak bisa dirajut.
Dalam pemilihan kali ini, setidaknya 34.000 pengawas independen dengan 100 pengawas dari Uni Eropa diterjunkan untuk memantau proses pemungutan suara parlemen di Kosovo.
Walaupun tidak ada insiden besar selama pelaksanaan pemilihan umum parlemen, pihak kepolisian Kosovo kabarnya menahan sektiar 20 orang karena memotret suara yang mereka berikan dalam pemilu. [Mohamad Deny Irawan]





















