Kabul, Gontornews — Sebuah penyelidikan militer AS telah menemukan fakta bahwa serangan udara yang menargetkan Taliban selama pertempuran di Afghanistan utara tahun lalu menewaskan 33 warga sipil.
Sebanyak 27 warga sipil lainnya terluka di Desa Boz, Kota Kunduz. Demikian pernyataan dari militer AS di Afghanistan, Kamis (12/1).
Insiden pada tanggal 3 November itu melibatkan pertempuran pasukan AS dan Afghanistan yang melakukan serangan darat terhadap Taliban. Karena mereka mendapat perlawanan dari kelompok bersenjata itu, membuat mereka mendapat dukungan udara dari pasukan AS.
“Terlepas dari keadaan yang terjadi, saya sangat menyesal telah terjadi kehilangan nyawa warga tak berdosa,” kata Jenderal John Nicholson, komandan tertinggi pasukan AS dan misi NATO.
Menurut pernyataan itu, operasi itu diluncurkan untuk menangkap komandan Taliban.
Kematian warga sipil menyebabkan kegemparan. PBB dan organisasi kemanusiaan mengutuk serangan bom yang dilakukan oleh AS itu.
“Hilangnya kehidupan sipil tidak dapat diterima dan melemahkan usaha untuk membangun perdamaian dan stabilitas di Afghanistan,” kata Tadamichi Yamamoto, kepala Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA), dalam sebuah pernyataan setelah serangan itu.
Warga membawa lebih dari selusin mayat, termasuk anak-anak, menuju kantor gubernur setempat untuk menunjukkan kemarahannya.
Pernyataan AS mengatakan, warga sipil tewas dan terluka karena Taliban menggunakan rumah mereka sebagai basis.
Seperti dikutip Aljazeera, warga desa mengatakan serangan udara itu menghantam daerah-daerah sipil di mana banyak wanita dan anak-anak tewas.
“Kami bahkan tidak tahu apakah Taliban benar-benar tewas dalam serangan ini, semua yang kita lihat adalah mayat dari orang-orang yang tidak bersalah,” kata Ruhani, warga Desa Boz, seperti dikutip Aljazeera.
“Kami melihat mayat anak-anak berumur tiga tahun. Apa kesalahan mereka?” [Rusdiono Mukri]





















