Shanghai, Gontornews — Sebuah badan penelitian PBB, Rabu (11/1/2023), melaporkan hampir 50.000 bendungan besar di seluruh dunia kehilangan lebih dari seperempat kapasitas penyimpanannya pada tahun 2050 akibat penumpukan sendimentasi.
- Universitas PBB memperkirakan kapasitas bendungan pada tahun 2050 turun dari 6 triliun meter kubik menjadi 4,655 triliun meter kubik. Karenanya, mereka mendorong tindakan untuk mengatasi masalah tersebut demi melindungi infrastruktur penyimpanan vital.
Akumulasi lumpur di reservoir terbentuk sebagai akibat dari gangguan aliran air alami. Sedimentasi lumpur dapat merusak turbin pembangkit listrik tenaga air dan memutus pembangkit listrik. Tidak hanya itu, hambatan aliran sedimen di sepanjang sungai juga dapat membuat daerah hulu lebih rentan terhadap banjir dan mengikis habitat di hilir.
Dari 47.000 bendungan di 150 negara, yang PBB lihat, 16 persen dari kapastias asli telah hilang. Amerika Serikat bahkan diprediksi menghadapi kerugian hingga 34 persen, Brazil dengan 23 persen, India 26 persen dan Cina 20 persen.
Direktur Institut Air, Lingkungan dan Kesehatan Universitas PBB, Vladimir Smatkhtin, mengatakan pembangunan bendungan di seluruh dunia juga telah menurun secara signifikan. Kini, hanya ada 50 bendungan per tahun yang sedang dibangun di seluruh dunia. Angka ini menurun jauh berbanding 1000 pembangunan bendungan di pertengahan abad lalu.
“Saya berpendapat bahwa pertanyaan yang harus kita tanyakan sekarang adalah apa saja alternatif untuk bendungan, termasuk dalam menghasilkan listrik, mengingat bendungan tersebut saat ini sedang terhapus,” kata Smatkhtin kepada Reuters.
Cina terus membendung sungai-sungai besar untuk memusatkan proyek pembangkit listrik tenaga air untuk menghilangkan penggunaan bahan bakar fosil. Bendungan sungai Mekong di Cina telah menyebabkan gangguan sedimen ke negara-negara hilir, mengubah bentang alam hingga membahayakan mata pencaharian jutaan petani. [Mohamad Deny Irawan]





















