Tripoli, Gontornews — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan banyak kelompok bersenjata asing yang ikut terlibat dalam konflik di Libya. Di antaranya kelompok bersenjata yang berasal dan Sudan dan Chad.
Dalam sebuah laporan, PBB menyebutkan setidaknya ada lima kelompok bersenjata Sudan dan empat Chad yang turut menyumbang beberapa ribu pejuang baik untuk membantu pasukan pemerintah mapun oposisi dalam perang saudara di negara itu.
Namun demikian, laporan setebal 376 halaman tersebut tidak menyebutkan keterlibatan tentara bayaran Rusia, yang baru-baru ini diidentifikasi dalam jumlah ratusan sebagaimana yang ada di laporan media sebagai bagian dari pertempuran di Libya.
Akan tetapi seorang diplomat PBB mengatakan bahwa telah menjadi rahasi umum jika ada sejumlah besar tentara bayaran Rusia bertempur di Libya.
Menurutnya, alasan tidak masuknya Rusia dalam dokumen itu adalah lantaran kegiatan mereka sebagian besar telah terjadi sejak tanggal cut-off untuk menyusun laporan.
“Namun, kami sadar panel sedang dalam proses mengumpulkan bukti sejauh mana aktivitas Rusia dan akan memperbarui komite dalam beberapa bulan mendatang,” kata diplomat itu.
Sementara itu, Rusia sendiri membantah bahwa kontraktor militer swasta mendukung komandan militer Khalifa Haftar, yang telah melancarkan serangan pada bulan April untuk merebut ibu kota, Tripoli, dari kelompok-kelompok bersenjata yang mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui secara internasional.
Selain itu, laporan itu juga mengatakan Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) secara teratur mendukung pasukan Haftar, sementara Turki mendukung GNA dalam pelanggaran embargo senjata PBB yang diberlakukan di Libya sejak 2011.
Laporan PBB itu juga mencatat bahwa bahan-bahan militer yang dibuat oleh Amerika Serikat, Rusia dan Cina telah digunakan dalam konflik itu.
“Kedua pihak yang terlibat konflik menerima senjata dan peralatan militer, dukungan teknis, dan pejuang non-Libya yang tidak mematuhi langkah-langkah sanksi terkait senjata,” kata laporan itu.
Libya telah berada dalam kekacauan sejak perang saudara yang terjadi pada 2011 saat penggulingan penguasa lama, Muammar Gaddafi, yang tewas dibunuh oleh pemberontak.
Dalam kekacauan yang terjadi itu, negara tersebut terbagi menjadi dua, yaitu dengan pemerintahan yang didukung PBB di Tripoli yang mengawasi barat negara itu, dan pemerintah saingan di timur bersekutu dengan Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Haftar. [Devi Lusianawati]






















