Yangon, Gontornews – Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, terkejut dengan komentar Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, yang menyebut minoritas Rohingya berbeda dengan penduduk lain. Selain itu, permintaan warga Rohignya yang menuntut status kewarganegaraan disebut sebagai pemicu konflik dan kekerasan di Rakhine State.
Tidak hanya itu, Jenderal Min juga mengatakan bahwa ketegangan yang terjadi di Rakhine State dipicu oleh orang Bengali yang menuntuk kewarganegaraan. Jendral Min juga mengatakan bahwa masyarakat muslim Rohingya tidak memiliki karakteristik atau budaya yang sama dengan etnis Myanmar.
Mendengar pernyataan tersebut, Guterres kaget dan mendesak pemimpin Myanmar tidak menyebarkan ujaran kebencian serta ketidakharmonisan antar warga.
“Semua pemimpin di Myanmar agar mengambil sikap untuk melawan hasutan kebencian dan menciptakan keharmonisan antar warga,” kata Guterres sebagaimana dilansir Reuters.
“Sekjen PBB menegaskan kembali pentingnya menyelesaikan akar penyebab konflik di Rakhine. Kekerasan (yang terjadi) merupakan tanggungjawab Pemerintah Myanmar sebagai pemberi keamanan dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan,” tambah Guterres.
Sebelumnya, hampir 700.000 muslim Rohingya memutuskan untuk melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar melancarkan serangan di Rakhine State. Militer Myanmar berdalih bahwa perlawanan kekerasan yang dilancarkan pemberontak Rohingya sebagai alasan penyerangan terhadap warga Rohingya.
Sebagaimana diketahui, Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari 135 etnis yang ada di Myanmar. Padahal, warga Rohingya telah tinggal dalam waktu yang lama di wilayah Myanmar. [Mohamad Deny Irawan]





















