Jenewa, Gontornews — Utusan khusus PBB Martin Griffiths, akan melakukan kunjungan ke Yaman dan berencana mengajak kelompok-kelompok bertikai untuk bertemu di Jenewa, Swiss, September mendatang. Pertemuan nantinya akan menjadi dasar bagi perundingan damai antarkelompok bertikai.
Kamis (2/8), saat berbicara di depan Dewan Keamanan PBB, Griffiths berharap pertemuan itu akan memungkinkan Pemerintah Yaman dan kelompok Houthi mau membahas kerangka kerja untuk negosiasi, dan menyetujui langkah-langkah dalam membangun kepercayaan yang relevan untuk memajukan proses ke depan bagi Yaman.
“Kami mendesak para pihak untuk menyelesaikan konflik ini melalui negosiasi daripada melalui cara militer,” kata Griffiths, Aljazeera.
Griffiths adalah orang ketiga yang mengambil tugas untuk mengakhiri permusuhan di negara-negara Arab termiskin di dunia, termasuk Yaman, dan ia juga memuji sikap kedua belah pihak yang mendukung rencananya tersebut.
“Kondisi jutaan warga sipil Yaman bisa semakin memburuk jika solusi untuk konflik tidak tercapai dalam jangka waktu yang wajar,” tambahnya.
Sementara itu, Rosiland Jordan dari Aljazeera, melaporkan dari markas besar PBB di New York, bahwa Griffiths tidak sedang berpihak pada salah satu kelompok di negara itu namun ia lebih memilih penyelesaian perdamaian yang komprehensif dan ingin mengembalikan normalitas bagi jutaan orang Yaman yang telah hidup di bawah perang saudara yang sangat brutal selama beberapa tahun terakhir.
“Apakah ini akan terjadi satu kali dan mereka akan menemukan solusi politik yang sebenarnya? Bisa jadi tidak akan tetapi ada arti nyata bahwa ini adalah momen untuk mencoba mengembalikan kedua belah pihak untuk mengakhiri konflik politik,” katanya.
Sebelumnya, Kamis (2/8), serangan udara yang dilakukan oleh koalisi pimpinan Saudi dan UEA telah menewaskan lebih dari 20 orang di Hodeidah. Serangan itu jatuh di dekat rumah sakit umum utama kota itu, al-Thawra, dan mengenai pelabuhan perikanan dan pasar ikan kota pelabuhan strategis di wilayah tersebut.
Perang di Yaman yang merupakan negara termiskin di kawasan itu, dimulai pada tahun 2014 dan terjadi setelah pemberontak Houthi yang berhaluan Iran menguasai ibukota, Sana’a, dan mulai mendorong ke selatan menuju kota Aden, kota terbesar ketiga negara itu.
Prihatin dengan munculnya pemberontak Houthi, Arab Saudi dan koalisi negara-negara Arab meluncurkan serangan militer pada tahun 2015 dalam bentuk kampanye udara besar-besaran yang bertujuan untuk melindungi pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Sejak saat itu, lebih dari 10.000 orang telah tewas dan sedikitnya 40.000 orang terluka, sebagian besar dari serangan udara yang dipimpin Saudi. [Devi Lusianawati]





















