Jakarta, Gontornews — Lembaga Badan Hukum (LBH) Hidayatullah telah mendampingi pembebasan lima aktivis yang menjadi korban salah tangkap dalam tragedi 21-22 Mei lalu.
Direktur LBH Hidayatullah, Dr Dudung Amadung Abdullah dan beberapa pengacara yang masuk dalam Tim Advokat dari LBH Hidayatullah Pusat, yaitu Agus Gunawan SH, Hidayatullah SH, Andri Sukatma telah mendampingi para aktivis yang bebas pada Senin (4/11).
Dudung mengatakan para aktivis yang bebas ada sebanyak lima orang dari 30 orang yang sebelumnya sudah menghirup udara bebas.
βDudung juga berharap semoga para aktivis bisa berkiprah di tengah masyarakat dan memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa,β ujarnya.
Sementara itu, salah satu aktivis yang telah bebas adalah Muhammad Said Hasnan, remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta.
Pembebasan Hasnan sendiri diwarnai dengan proses yang dramatis. Disebabkan oleh perbedaan penghitungan tanggal mulai masa penahanan yang dilalui oleh Hasnan.
Awalnya, Hasnan menjadi satu-satunya orang yang tertinggal dari lima orang yang akan dibebaskan hari itu. Namun setelah dilihat berkas-berkas sebelumnya, ternyata fakta menunjukkan bahwa Hasnan harus bebas pada hari Senin kemarin.
Jaksa Penuntut Umum Rianiully Raneta dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat langsung memerintahkan Hasnan untuk segera berkemas.
Mendengar hal tersebut, Hasnan langsung sujud syukur. Sementara kawan-kawannya yang lain langsung bertakbir.
Saat seluruh aktivis yang didampingi Tim LBH Hidayatullah keluar dari Ruang Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya, tempat selama 3 bulan 25 hari mereka menjalani masa hukuman, mereka disambut oleh keluarga, sahabat-sahabat mereka serta dari Komunitas Barisan Emak-Emak Milenial (BEM).
Bahkan sebagian kawan-kawan aktivis yang sebelumnya sudah bebas turut hadir memberikan dukungan moril.
Hasnan beserta kawan-kawan adalah peserta Aksi Damai pada 21-22 Mei di seputaran Sarinah, Jakarta Pusat. Hasnan dan kawan-kawan mengaku bahwa mereka adalah korban salah tangkap, karena sejatinya mereka sudah mau pulang dan membubarkan diri dari arena aksi.
Akan tetapi, karena suasana memanas akibat ulah massa yang tiba-tiba datang melakukan provokasi dan pelemparan mereka terjebak tidak bisa menghindar. Hasnan sendiri mencari aman dengan berlindung di antara mobil kru media televisi yang melakukan peliputan.
Saat suasana semakin memanas dan dilakukan penangkapan terhadap pelaku kerusuhan, Hasnan yang berada di antara wartawan tidak bisa menunjukan kartu pers, sehingga dianggap pelaku kerusuhan yang menyusup ketengah-tengah wartawan.
Secara kebetulan di depan Hasnan ada orang yang diamankan, sehingga Hasnan dianggap temannya.[Devi Lusianawati]




















