Jakarta, Gontornews -– Pembangunan tanggul raksasa (giant sea wall) dinilai berbagai pihak sangat menguntungkan berbagai pihak, terutama pemprov DKI Jakarta. Selain keuntungan secara ekonomi, budaya, dan lingkungan, kehadiran tanggul raksasa ini juga dinilai sebagai langkah tepat untuk mengatasi fenomena pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam Jakarta.
Setiap tahunnya angka kenaikan permukaan laut di pulau Jawa semakin tinggi. Para peneliti mencatat bahwa pada 2010, pulau terpadat di Indonesia ini telah kehilangan daratan sekitar 7.408 km2 dengan kenaikan permukaan laut 0,4 m. Sementara untuk 2050, para peneliti memperkirakan luas daratan Jawa akan menghilang hingga 30.120 km2 dengan kenaikan permukaan laut mencapai 0,56 m.
“Pembangunan giant sea wall merupakan solusi menyeluruh tanpa reklamasi yang terbukti efektif dan efisien,” ujar Presiden Direktur Ecolmantech Consutants, John Wirawan di Jakarta (28/2). Kepada Sains Indonesia, jebolan perguruan tinggi ternama di Jerman itu berpendapat, Pemprov Jakarta bisa mendapat setidaknya lima keuntungan dengan dibangunnya tanggul raksasa atau DAM lepas pantai tersebut.
Pertama, pemerintah DKI akan mendapatkan penghasilan secara langsung sedikitnya Rp 200 triliun dari para pengembang tanpa harus meminjam. “Dari penghasilan itu, Rp 100 triliun akan digunakan untuk proses revitalisasi dan restorasi pantai utara teluk Jakarta. Rinciannya, Rp 40 triliun untuk membangun tanggul lepas pantai dengan material urug dari sedimen 13 sungai yang mengalir ke teluk Jakarta. Lalu Rp 60 triliun sisanya untuk memindahkan rakyat miskin dari daerah kumuh,” papar John.
John menilai Rp 60 triliun merupakan biaya yang lebih dari cukup untuk memindahkan rakyat miskin dari daerah kumuh ke permukiman yang layak. “Mereka yang tinggal di kolong jembatan, bantaran sungai, atau di samping rel kereta, bisa dipindahkan ke lahan permukiman yang timbul dari proses pembangunan DAM lepas pantai ini, lengkap dengan lapangan pekerjaan dan infrastruktur penunjangnya,” lanjut John.
Kedua, pasir yang saat ini sudah tersedia di pulau C, D, G, dan N dapat digunakan untuk merapikan daratan seluas + 7.000 hektare yang terbentuk tanpa reklamasi. “Daratan 7.000 hektare ini akan didapat akibat dari penurunan muka air danau sebanyak -5 meter. Ini jauh lebih banyak dari total luas daratan hasil reklamasi yang hanya 3.800 haktare. Sisa 3.200 hektare lainnya bisa Pemprov gunakan untuk membangun sektor-sektor produktif,” terang John.
Ketiga, pembangunan tanggul raksasa juga akan membentuk hutan bakau di lepas pantai dalam skala besar. Hutan bakau ini akan meningkatkan pertumbuhan biota laut dan terumbu karang. Pada akhirnya, populasi jumlah ikan pun berambah selaras dengan membaiknya lingkungan estuari pantai karena pengurangan kadar logam berat.
Keempat, dengan selisih ketinggian antara darat dan danau yang mencapai 5 meter, maka Jakarta diperkirakan akan terbebas dari banjir karena air dari darat akan mengalir secara deras ke danau raksasa, “Perbedaan ketinggian ini juga akan membentuk air terjun dari sungai yang bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit hydro skala besar di beberapa tempat,” lanjut John.[DJ]




















