Rasyid Nikaz adalah salah seorang keturunan Aljazair di Perancis yang lahir pada tahun 1972 di Villeneuve-Saint-Georges, Perancis dari orangtua imigran Aljazair. Nikaz belajar sejarah filsafat di Universitas Sorbonne sebelum dikaruniakan keberuntungan dengan usaha startup internet, yang kemudian ia lebarkan menjadi usaha di bidang real estat dan cukup berhasil. Ia menikahi seorang gadis blasteran Perancis-Kanada yang telah memeluk Islam dan bercadar.
Pada tahun 2010 ia mendirikan organisasi bernama “Touche pas à ma constitution” (“Jangan sentuh konstitusiku”, sebuah plesetan atas slogan milik LSM SOS Racisme: Touche pas à mon pote), dan berkomitmen untuk membayarkan semua denda yang dikenakan atas perempuan muslimah karena memakai burqa di ruang publik.
Dia merupakan satu dari ribuan dan mungkin jutaan orang Aljazair yang tinggal dan menjadi warganegara Perancis, seperti laiknya pemain sepakbola ternama dari Perancis, Zidane.
Nikaz berprofesi sebagai pengusaha real estate yang cukup sukses. Jutawan ini dengan berani dan tegas menentang peraturan yang tidak menghormati HAM tersebut. Dengan santai dia menyiapkan uang sebesar 1 juta Euro yang diniatkan untuk membayarkan denda bagi para muslimah bercadar yang tertangkap basah polisi Perancis.
“Keputusan Perancis untuk melarang wanita muslimah memakai cadar telah mencederai kebebasan mereka. Saya melihat, undang-undang pemerintah Eropa yang tidak menghormati hak-hak pribadi tidak dapat diterima,” ujarnya dalam sebuah jumpa pers seperti dikutip Satria Hadilubis di laman facebooknya.
Nikaz juga menyerukan kepada para wanita muslimah di Perancis yang hendak bercadar untuk tidak takut bila berada di tempat umum, karena dirinya siap untuk membayarkan denda mereka semua.
Atas tindakannya ini, seorang syekh bernama Syekh Al-Khuwainy, mengibaratkan Nikaz sebagai “Satu orang lelaki yang mengalahkan satu Negara”. (rz)





















