Baghdad, Gontornews — Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi, menyatakan pemberlakuan jam malam di ibukota, Baghdad, dicabut. Pencabutan jam malam yang mulai berlaku hari ini, Sabtu (5/10), dilakukan setelah menyusul banyaknya korban tewas dalam aksi demonstrasi yang berlangsung hampir sepekan di Irak.
Sejak berkobarnya demonstrasi antipemerintah yang digerakkan oleh pemuda di Irak, korban jiwa terus berjatuhan. Tidak kurang dari 30 orang tewas dan ratusan luka-luka setelah tentara keamanan membalas aksi para demonstran dengan tembakan dan gas air mata.
Selain memberlakukan jam malam, Pemerintah Irak juga telah memutuskan jaringan internet secara total di hampir wilayah. Hal itu dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mencegah pengunjuk rasa berkomunikasi satu sama lain atau memposting rekaman demonstrasi yang rusuh secara online.
Sementara itu, Abdul Mahdi mengatakan langkah-langkah keras yang dilakukan kepada para demonstran dilakukan sebagai obat pahit yang harus ditelan.
“Langkah-langkah keamanan yang kami ambil, termasuk jam malam sementara, adalah pilihan yang sulit. Tapi seperti obat pahit, mereka tidak bisa dihindari,” katanya seperti dikutip Aljazeera.
Sebab menurutnya, kerusuhan yang ditimbulkan oleh para demonstran akan menuju pada kehancuran negara, di seluruh wilayah di negara itu.
“Kita harus mengembalikan kehidupan normal di semua provinsi dan menghormati hukum,” tambahnya.
Demonstrasi antipemerintah di Irak terjadi setelah para pemuda Irak kecewa dengan maraknya jumlah pengangguran, buruknya fasilitas seperti air dan listrik serta merebaknya kasus korupsi di negara kaya minyak itu.[Devi Lusianawati]






















