Nablus, Gontornews — Imayyer Shehadeh (23), seorang pemuda Palestina meninggal setelah sebuah timah panas menghantam dadanya, Sabtu waktu setempat, di Tepi Barat, Palestina. Sempat dibawa ke Rumah Sakit, namun nyawa Shehadeh tidak tertolong.
Shehadeh tewas sesaat setelah kerusuhan terjadi antara warga di Desa Urip dengan tentara Israel di sebelah selatan Nablus.
Ghassan Daghlas, seorang pejabat Palestina yang memantau kegiatan permukiman di Tepi Barat utara, mengatakan, warga di Desa Urip melakukan protes atas apa yang menimpa mereka, namun tidak lama kemudian tentara Israel datang dengan melepaskan tembakan.
“Tidak jelas siapa yang menembaknya dengan tepat,” katanya seperti dikutip Aljazeera.com.
Selain Shehadeh, seorang anak laki-laki Palestina berusia 16 tahun juga ditembak dengan amunisi langsung di tempat kejadian dan dirawat karena luka-lukanya.
Jurubicara pasukan Israel mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa kerusuhan terjadi lantaran adanya hasutan, dan tentara melepaskan tembakan secara langsung untuk menghentikan kerusuhan.
Sebanyak 600.000 sampai 750.000 warga Israel tinggal di wilayah Palestina yang diduduki di Yerusalem Timur, Tepi Barat dan Gaza. Mereka tinggal di ratusan permukiman Yahudi ilegal yang dibangun di atas tanah Palestina.
Kehadiran para pemukim di dalam dan sekitar kota-kota dan desa-desa Palestina menyebabkan gesekan antara warga Palestina dengan Israel. Sedikitnya 12 warga Palestina yang tidak bersenjata telah terbunuh oleh pasukan Israel di wilayah Palestina yang diduduki sejak awal 2018.
Pada hari Jumat, pasukan Israel juga menembak dan membunuh Mohammad al-Jaabari berusia 24 tahun di kota Hebron, Tepi Barat selatan, saat terjadi konfrontasi dengan tentara.
Situasi di wilayah Palestina yang diduduki sangat tegang dalam beberapa bulan terakhir setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Trump juga berjanji untuk memindahkan kedutaan AS dari ibukota komersial Israel Tel Aviv ke Yerusalem. [Devi Lusianawati]






















