Menelisik dan menyimak tiga keynote speaker pada pembukaan Seminar Nasional FKPM dan Munas FPAG menghadirkan kesan yang mendalam.
Paparan Rektor UNIDA Gontor Prof Dr KH Hamid Fahmi Zarkasyi, Wakil Menteri Agama Romo Buya Syafi’i, serta Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal, terasa saling menyambung dan saling menguatkan. Ketiganya berbicara tentang penguatan pendidikan nasional—mulai dari kurikulum, mutu, asesmen, hingga daya saing lulusan—namun diletakkan dalam satu bingkai besar: pendidikan holistik, sebagaimana telah lama dipraktikkan oleh Gontor dan pesantren-pesantren alumninya.
Prof Hamid Fahmi Zarkasyi menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer of knowledge, melainkan proses pembentukan cara berpikir, cara bersikap, dan cara hidup. Kurikulum, menurut beliau, harus berpijak pada worldview yang jelas, agar ilmu tidak kehilangan arah, makna, dan seratusan nilai Gontor.
Sementara itu, Romo Buya Syafi’i menyoroti pentingnya mutu dan relevansi pendidikan di tengah perubahan zaman. Pendidikan, menurut beliau, harus mampu melahirkan manusia yang berakar kuat pada nilai, namun sekaligus mampu bersaing secara global. Pesantren—khususnya model pendidikan Gontor—dipandang memiliki modal sosial, kultural, dan spiritual yang sangat kuat untuk menjawab tantangan tersebut.
Adapun KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan kembali bahwa kekuatan utama Gontor terletak pada pendidikan totalitas selama 24 jam. Pendidikan bukan hanya apa yang diajarkan di kelas, tetapi apa yang dihidupkan dalam keseharian santri—dari bangun tidur hingga kembali beristirahat di malam hari.
Pondok Modern Darussalam Gontor sejak awal berdirinya memang tidak pernah memaknai pendidikan sebatas ruang kelas dan bangku sekolah. Pendidikan di Gontor kehidupan itu sendiri—mengalir siang dan malam, membentuk manusia secara utuh: akal, jiwa, raga, dan akhlaknya.
Seminar nasional ini juga diisi oleh para pemikir muda dan tokoh alumni, antara lain Dr H Suharto , KH Dedy yang dikupas dan ditanggapi oleh Dr KH Zulkifli Muhadli dan Dr KH Anang Rikza, selaku Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal FPAG, serta KH Noor Syahid, Ketua Umum IKPM Pusat. Diskusi-diskusi tersebut semakin memperkaya perspektif tentang arah dan masa depan pendidikan pesantren.
Di sinilah pendidikan dimulai. Bukan dari teori, melainkan dari pembiasaan hidup. Bangun sebelum shalat Shubuh untuk bertahajud, disiplin waktu, hidup sederhana, taat aturan, dan siap memikul amanah. Prinsip yang dipegang teguh: at-tarbiyah ausa’u minat ta‘lim—pendidikan lebih luas dari pada pengajaran. Akhlak, karakter, attitude, moral dibangun “di-syibghah” terlebih dahulu sebelum pengetahuan ditanamkan.
Sebagaimana ditegaskan dalam forum tersebut, inilah yang membedakan pendidikan berbasis nilai dengan pendidikan berbasis target kurikulum semata. Gontor membangun manusia terlebih dahulu, baru kemudian membekalinya dengan ilmu pengetahuan.
Gontor juga menolak dikotomi ilmu. Ilmu agama dan ilmu umum dipadukan dalam satu tarikan benang merah pendidikan. Al-Qur’an dan Hadis berjalan seiring seirama dengan matematika, sejarah, dan ilmu pengetahuan alam. Bahasa Arab dan Inggris tidak berhenti sebagai mata pelajaran, tetapi menjadi bahasa pergaulan dan bahasa berpikir sepanjang hari. Dari sinilah lahir watak santri yang berpikir luas, terbuka, dan berwawasan global, tanpa tercerabut dari akar nilai “doktrin” akidah, syariah dan akhlak.
Yang tak kalah penting, pendidikan di Gontor hidup melalui keteladanan. Para kiai, ustadz, dan mudabbir. Tidak sekadar mengajar, tetapi mendidik dengan sikap hidup, keikhlasan, dan pengorbanan. Nilai kesederhanaan dan pengabdian tidak disampaikan lewat ceramah panjang, tetapi dihadirkan dalam laku keseharian.
Inilah pendidikan yang tidak akan ditemukan di layar gawai –smartphone, mesin pencari, ataupun kecerdasan buatan mana pun seperti AI, Google, Youtube, GBT, dll. Ia hanya bisa dialami melalui hidup bersama dalam kultur pesantren antara kiai, ustadz , santri dan stakeholder-nya.
Seluruh proses ini dijiwai oleh Panca Jiwa Pondok: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan yang bertanggung jawab. Lima jiwa inilah yang menjadikan Gontor bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan kawah candradimuka pembentukan pemimpin umat. Santri belajar memimpin dengan dipimpin, belajar bertanggung jawab melalui amanah, dan belajar hidup bermasyarakat melalui organisasi serta pengabdian.
Pada akhirnya, pendidikan holistik Gontor tidak diarahkan untuk melahirkan lulusan yang sekadar mencari pekerjaan, tetapi siap menciptakan peran, bekerja, dan berkhidmah untuk umat. Di mana pun alumni Gontor berada, ia diharapkan hadir sebagai pribadi yang beradab, berilmu, dan membawa manfaat.
> Khairunnās anfa‘uhum linnās.
Sebagaimana falsafah pondok yang terus dijaga dan diwariskan: “Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas.”
Inilah ikhtiar Gontor dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045—yang unggul secara intelektual, juga kokoh secara moral dan berkeadaban. []
Hotel Anaya Karanganyar (Tawangmangu), 25 Januari 2026
*Catatan Kecil di Seminar Nasional FKPM dan Munas FPAG MTA Karanganyar – Solo




















