“Berjasalah, tetapi jangan meminta jasa.”
Ada amal yang tumbuh paling subur justru karena tidak pernah disebut. Ada pengabdian yang nilainya menjulang justru karena tidak menuntut pengakuan. Kalimat ini menghantam kesadaran modern yang terobsesi pada visibilitas: berbuat agar dilihat, berkontribusi agar dicatat, berjuang agar dikenang. Di tengah dunia yang sibuk menghitung timbal balik, pesan ini datang seperti pisau sunyi—tajam, dingin, dan jujur.
Di Gontor, ungkapan ini bukan hiasan moral, melainkan disiplin batin. Ia bekerja perlahan, mengikis naluri pamrih, dan melatih jiwa untuk memberi tanpa menagih. Sebab tidak semua yang bernilai harus dibalas, dan tidak semua yang benar perlu dibela dengan suara keras. Ada jasa yang justru kehilangan maknanya ketika ia diminta untuk diakui.
Ikhlas Sebagai Poros
Para ulama klasik memahami bahwa inti amal bukan pada bentuknya, melainkan pada niat yang menggerakkannya. Imam al-Ghazali menegaskan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din bahwa penyakit paling halus dalam amal yaitu riya’—saat kebaikan diam-diam berubah menjadi transaksi batin. Berjasa sambil menunggu balasan, meski hanya dalam rupa pujian, merupakan awal dari keretakan spiritual yang nyaris tak terasa.
Keikhlasan, bagi para sufi, bukan sekadar niat lurus di awal, tetapi keteguhan untuk tidak mengklaim hasil di akhir. Al-Junaid al-Baghdadi memaknai ikhlas sebagai “membersihkan amal dari pandangan makhluk.” Dalam cakrawala ini, tidak meminta jasa bukan bentuk merendahkan diri, melainkan cara menjaga kemurnian relasi dengan Tuhan—agar amal tetap jernih, tidak tercemar oleh sorot manusia.
Adab, Amanah, dan Kewajiban
Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan bahwa krisis terdalam manusia modern hilangnya adab—ketika seseorang gagal menempatkan sesuatu pada tempatnya. Berjasa sambil menuntut balasan merupakan ketidakadaban yang halus: menjadikan amal sebagai alat, bukan sebagai amanah. Padahal, amal sejati tidak dilahirkan untuk ditagih, melainkan untuk ditunaikan.
Di Gontor, adab ini tidak diajarkan lewat retorika, tetapi ditanamkan melalui laku. Mengabdi tanpa pamrih bukan romantisme spiritual, melainkan latihan jiwa agar tidak bergantung pada penilaian manusia. Di sanalah amal menjadi pendidikan batin: ia melatih kesabaran, ketenangan, dan keberanian untuk tidak disebut.
Kesunyian yang Menjaga
Banyak jasa besar lahir dari kesunyian. Jalaluddin Rumi, dalam Matsnawi, menggambarkan bahwa benih paling kuat justru tumbuh di dalam tanah yang gelap. Amal yang tidak diumumkan memiliki daya tahan yang lebih panjang, karena ia tidak rapuh oleh pujian dan tidak runtuh oleh kekecewaan.
Dalam kehidupan pesantren, kerja-kerja sunyi itulah yang menjaga keberlangsungan nilai. Tidak semua pengabdian tercatat, tetapi semuanya berjejak. Tidak semua jasa dikenang, tetapi sebagian justru menjadi fondasi yang tak terlihat. Barangkali, di situlah letak kemuliaannya: ketika yang tersembunyi justru menopang yang tampak.
Penutup
“Berjasalah, tetapi jangan meminta jasa”—kalimat ini bukan ajakan untuk menghilang, melainkan panggilan untuk memurnikan diri. Ia menghentak karena menuntut keberanian yang jarang dimiliki: keberanian untuk memberi tanpa menagih, berbuat tanpa menyebut, dan pergi tanpa meninggalkan klaim.
Di zaman ketika amal mudah berubah menjadi konten, pesan ini berdiri sebagai perlawanan sunyi. Sebab tidak semua yang bermakna harus terlihat. Tidak semua yang benar perlu dibalas. Tidak semua jasa harus kembali kepada pemberinya. Ada amal yang cukup diketahui oleh langit—dan justru karena itu, ia abadi. []
Mantingan, 29 Januari 2026





















