Jakarta, Gontornews – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI mengklaim bahwa pendidikan Islam berkontribusi besar dalam proses demokrasi di Indonesia. Menurut Dirjen Pendis, Kamarudin Amin, pendidikan Islam di Indonesia mampu mengonsolidasikan sistem demokrasi.
“Saya mengklaim berkali-kali bahwa salah satu kontribusi yang fundamental adalah pendidikan Islam Indonesia berhasil mengonsolidasi pendidikan agama dan demokrasi dalam proses berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ungkap Kamarudin Amin saat mengadakan jumpa pers di Ruang Rapat Dirjen Pendis Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (15/11).
Kamarudin memberi permisalan kemungkinan berubahnya sistem demokrasi di Indonesia menjadi teokrasi seperti halnya Iran, ultrakonservatif seperti halnya Arab Saudi, sekuler seperti Turki atau ekstrem radikal seperti Afghanistan jika tidak ditunjang dengan pendidikan Islam yang moderat.
“Kita memiliki lembaga pendidikan Islam yang menjadi benteng pertahanan yang menjaga, merawat keberagaman Islam di Indonesia.”
“kita bisa saja menjadi negara teokrasi seperti Iran , atau semi teokrasi seperti Pakistan atau sangat eksrem radikal seperti Afghanistan. Itu bisa saja terjadi tergantung pengetahuan, pengamalan, pengatahuan agama di negara itu serta orang Islam yang berada di negara tersebut,” ujarnya.
Kamarudin berdalih lembaga pendidikan Islam di Indonesia kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi sehingga dapat menciptakan stabilitas politik, baik dalam maupun luar negeri Indonesia.
“Stabilitas politik seperti saat ini adalah karena peran lembaga pendidikan kita berhasil mengonsolidasikan pengetahuan dan pemahaman keagamaan sesuai dengan demokrasi.”
“Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan India,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















