Keempat, Perintah agung agar orang beriman menjaga diri dari neraka juga dikaitkan dengan keluarga. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …..“. (QS At-Tahrim: 6). Ayat ini menyebut ‘Peliharalah dirimu dan keluargamu’, sehingga harus dijalankan secara sinergi dan simultan. Ketika seseorang mampu memelihara diri dari neraka, maka pada masa yang sama, iapun harus memelihara ahli keluarganya dari neraka juga, sehingga kedua objek kewajiban yang disebut di ayat tersebut telah sempurna dijalankannya. Proses yang paling efektif untuk merealisasikan pemeliharaan diri dan keluarga dari api neraka adalah pendidikan dan pengajaran
Sebagian mufassir memaknai perintah ini bersifat khusus, selain dakwah yang bersifat umum yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Perintah di ayat lain yang ditujukan kepada keluarga mengisyaratkan urgensi pendidikan keluarga yang akan dimintai pertanggungan jawab kelak, seperti yang disebut di surat Thaha: 132 yang menjadi ayat kunci pembahasan ini, “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah (dalam memerintahkan mereka dan mengerjakannya“. (Thaha: 132)
Kelima, Al-Qur’an menyebut kemungkinan istri/suami atau anak menjadi musuh bagi keluarga. Itulah ujian yang paling berat antar keluarga. Allah SWT berfirman yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka;..”. (QS At-Taghabun: 14).
Nabi pertama Adam AS diuji dengan keluarganya. Salah seorang anaknya justru membunuh saudara kandungnya sendiri. Nabi Nuh AS , Nabi Luth AS pun diuji oleh Allah SWT melalui keluarganya. Nabi Nuh AS diuji oleh Allah SWT dengan istri dan anaknya yang durhaka. Sedang nabi Luth AS diuji dengan istrinya yang lebih memilih durhaka kepada Allah SWT.
Jika dikorelasikan kandungan ayat ini dengan ayat setelahnya, yang menyebut harta dan anak atau keluarga memang dijadikan salah satu alat uji Allah SWT kepada hamba-hambaNya, maka justru disitulah disiapkan oleh Allah SWT pahala yang besar. Tentu jika berhasil dan sukses mendidik anggota keluarga dengan baik. Allah SWT berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar“. (QS At-Taghabun: 15)
Imam As-Sa’di menuturkan pandangannya tentang makna keseluruhan ayat ini, berdasar kalimat per kalimat sebagai sebuah kesatuan ayat, bahwa ujian Allah SWT terhadap keluarga, justru merupakan media dan peluang untuk mengisi pundi-pundi pahala. Karena setiap yang dijalankan oleh keluarga dalam rangka membina dan mendidik keluarga akan bernilai pahala khusus di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW mengingatkan keutamaan pendidikan keluarga sebagai ladang pahala kebaikan seseorang. “Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama yang baik.” (HR Tirmidzi dan Hakim) . “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha’.” (HR Tirmidzi). Masih banyak waktu untuk kita kembali kepada keluarga kita; mendidik mereka sungguh-sungguh, membangun keshalihan seluruh anggota keluarga, menyiapkan pendidikan terbaik untuk mereka, serta mencurahkan segenap upaya dalam konteks pendidikan keluarga, sebagai bentuk prioritas kita kepada mereka. In sya Allah….





















