وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menjalankannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa“. (QS Thaha: 132)
Ayat ini dapat dikategorikan sebagai salah satu ayat ‘parenting‘, yang berbicara tentang pentingnya pendidikan untuk keluarga dan di lingkungan keluarga. Bahasa ayat menggunakan redaksi perintah, tentang ibadah yang paling agung, yang seharusnya dijalankan dengan baik oleh segenap ahli keluarga. Karenanya, perintah ayat bukan ‘shalatlah kamu’, tetapi ‘Perintahkan keluargamu untuk shalat‘. Bahkan ditambah dengan perintah ‘Bersabarlah‘, karena pendidikan dalam keluarga menuntut kesabaran tingkat tinggi, terlebih dalam konteks pendidikan ‘ubudiyyah‘.
Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, didapatkan perhatian Al-Qur’an yang demikian besar terhadap segala hal yang terkait dengan kependidikan. Hal ini menunjukkan keutamaan dan urgensi pendidikan dari berbagai dimensinya. Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah SAW, yaitu Al-Alaq: 1-5 berkaitan dengan kependidikan. Pertama, membaca merupakan sarana mendapatkan ilmu. Kedua, Pena merupakan alat mencatat ilmu. Ketiga, Allah SWT akan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya merupakan proses panjang sebuah aktifitas pendidikan dan pengajaran.
Tugas Rasulullah SAW yang disebut di surat Al-Baqarah: 129, Al-Baqarah: 151, Ali Imran: 164, dan Al-Jumu’ah: 2 juga berkaitan erat dengan cakupan kependidikan, yaitu mendidik dan mengajar umatnya. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang ummi dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah)...”. (QS Al-Jumu’ah: 2). Membacakan ayat-ayat Allah SWT, menyucikan jiwa (hati), dan mengajarkan Kitab dan sunnah, mengisyaratkan aktifitas yang berlangsung dalam dunia pendidikan dan pengajaran, termasuk dalam lingkup keluarga.
Rasulullah SAW sendiri bangga dengan statusnya sebagai pengajar dan pendidik. Di dalam sebuah hadits disebutkan,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
“Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras, akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah”. (HR Muslim)
Dalam riwayat yang lain, disebutkan pilihan Rasulullah SAW bergabung dengan para penuntut ilmu menunjukkan keutamaan aktifitas tersebut.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ بَعْضِ حُجَرِهِ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِحَلْقَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ وَالْأُخْرَى يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ هَؤُلَاءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ وَهَؤُلَاءِ يَتَعَلَّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا فَجَلَسَ مَعَهُمْ
“Dari Abdullah bin Amru ia menceritakan, suatu hari Rasulullah SAW masuk ke masjid. Di dalam masjid ada dua kelompok sahabat sedang berkumpul-kumpul. Kelompok pertama sedang membaca Al-Quran dan berdoa, sementara kelompok kedua sedang melakukan kegiatan belajar mengajar. Melihat pemandangan indah tersebut Nabi SAW bersabda: “Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Quran dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang diminta) mereka. Sementara kelompok yang kedua belajar mengajar, dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru”. Kemudian Rasulullah SAW duduk dan bergabung bersama kelompok yang kedua”. (HR Ibnu Majah)
Lahirnya individu, keluarga, dan masyarakat yang baik, karena ada peran pendidikan terbaik untuk mereka. Meskipun pendidikan bukan segala-galanya, namun segala-galanya tidak dapat diraih melainkan dengan pendidikan. Karena perhatian terbesar Al-Qur’an, dan peran utama Rasulullah SAW dikaitkan dengan kependidikan dan kepengajaran. (Bersambung)





















