pesanan-baju-kaos
29 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 8 November, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Pendidikan Nilai Tauhidullah sebagai Fondasi Kehidupan

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
1 year ago
in Tafsir
0
Pendidikan Nilai Tauhidullah sebagai Fondasi Kehidupan

Foto: Adian Husaini

Landasan Teologis

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

“Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!’ Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An-Nahl: 36)





Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Transaksi Terbaik Orang Beriman dengan Allah

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menyebutkan, sungguh Allah SWT telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat untuk mengajak menyembah Allah semata dan memberi peringatan dari penyembahan berhala-berhala dan godaan setan. Kemudian manusia terbagi menjadi dua golongan; sebagian mereka diberi petunjuk oleh Allah sehingga mereka mengikuti para rasul, dan sebagian mereka mengikuti jalan kesesatan sehingga mereka layak tersesat dan hidup menderita.

Berjalanlah di atas muka bumi dengan penuh penghayatan, dan lihatlah kesudahan orang-orang terdahulu yang mendustakan para rasul.



Sedangkan dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an disebutkan, Allah SWT memberitahukan bahwa hujjah-Nya telah ditegakkan kepada semua umat dengan mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi sesembahan selain Allah. Terhadap seruan rasul tersebut, manusia terbagi menjadi dua golongan; ada yang mengikuti para rasul baik dalam hal ilmu maupun amal, dan ada pula yang tidak mengikutinya, dan inilah orang yang disesatkan Allah SWT.

Thaghut adalah setan dan apa saja yang disembah selain Allah SWT. Kamu tidak menemukan seorang pun yang mendustakan rasul kecuali akhir kehidupannya dengan dibinasakan.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Kitab Fathul Majid memberikan pengertian yang cukup lengkap tentang thaghut. Beliau mengatakan, bahwa thaghut ialah segala hal yang membuat seorang hamba melampaui batas dengan cara disembah, diikuti, atau ditaati.

Dalam Kitab I’anatul Mustafid kalimat ‘jauhilah thaghut’ juga terkandung makna untuk meninggalkan segala sarana yang mengantarkan kepada syirik.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Kitab Fathul Majid mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul supaya mereka mendakwahi kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa -tauhid- inilah agama para nabi dan rasul, walaupun syariat mereka berbeda-beda.”

Adapun istilah thaghut, para ulama menjelaskan bahwa thaghut mencakup segala sesuatu yang disembah selain Allah dan dia ridha dengannya. Oleh sebab itu, sebagian salaf menafsirkan thaghut dengan dukun-dukun/paranormal, ada juga yang menafsirkan thaghut dengan setan.

Nilai-nilai Pedagogis

QS An-Nahl: 36 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis). Pertama, nilai tauhid sebagai inti pendidikan akidah. Ayat ini mengingatkan pesan utama dari seluruh rasul yaitu mengajak umat hanya menyembah Allah dan menjauhi thaghut (segala bentuk sesembahan selain Allah). Ini menunjukkan bahwa pendidikan tauhid merupakan landasan utama dalam Islam.

Demikian penting bagi seorang guru, orangtua dan tokoh masyarakat agar mengingatkan peserta didik dan mengajaknya untuk menyembah Allah dengan memberikan contoh keteladanan untuk senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala bentuk sesembahan selain Allah.

Kedua, nilai tanggung jawab dalam memilih. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diberi pilihan mengikuti petunjuk atau tersesat. Sehingga manusia harus bertanggung jawab dengan sesuatu yang menjadi pilihannya. Ayat ini juga menyuruh kita agar melihat kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasulnya.

Demikian penting bagi seorang guru, orangtua dan tokoh masyarakat agar menanamkan sikap tanggung jawab kepada peserta didik agar mereka tidak salah jalan dalam menentukan pilihan hidup dan peserta didik dapat mengambil pilihan jalan petunjuk dan meninggalkan perbuatan yang sesat.

Ketiga, nilai moral. Ayat ini mengingatkan bahwa orang yang mendustakan akan menerima akibatnya. Ini memberikan pelajaran moral bahwa setiap perbuatan ada balasannya. Pendidikan karakter sangat ditekankan dalam hal kejujuran dan kesungguhan menerima kebenaran.

Demikian penting bagi seorang guru, orangtua dan tokoh masyarakat agar memberikan keteladan dalam karakter kejujuran dan menyampaikan kebenaran kepada peserta didik dengan sungguh-sungguh dan sabar dalam menyampaikan pelajaran. Sehingga peserta didik dapat meneladani dan meniru serta mengingatkan peserta didik bahwa apa yang dikerjakan akan menuai balasan.

Landasan Teoretis

Kata “tauhid” dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata kerja wahhada – yuwahhidu – tawhidan, yang arti harfiyahnya: menyatukan, mengesakan, atau mengakui bahwa sesuatu itu satu. Dengan demikian, secara bahasa, tauhidullah berarti menyatukan Allah, mengesakan Allah atau mengakui bahwa Allah itu satu.

Sedangkan secara istilah, tauhidullah bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, serta tidak menyekutukan-Nya dengan apapun baik dalam hal rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, maupun asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.

Ibarat sebuah bangunan, maka tauhid merupakan fondasi dan pilar-pilar penegak kehidupan. Tanpa tauhid, tidak akan tegak bangunan kehidupan. Dan tanpa tauhid tidak akan tegak masyarakat Islam. Dari Ibnu ‘Abbas RA, beliau menuturkan bahwa tatkala Nabi SAW mengutus Mu’adz bin Jabal RA ke negeri Yaman, maka beliau berpesan kepadanya.

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka jadikanlah perkara pertama yang kamu serukan kepada mereka yaitu syahadat laa ilaha illallah.” Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam ajaran tauhid ada tiga dasar hal yang dibicarakan, yaitu: Pertama, Ilāhiyyāt, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan, baik sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan hubungan antara Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Kedua, Nubuwwāt, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan para nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia, untuk menyampaikan syariat-syariat-Nya kepada mereka. Ketiga, Sam’iyyāt, yaitu informasi-informasi yang dibawa oleh para nabi tersebut berupa wahyu yang mereka terima dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umat mereka masing-masing.

Tauhid merupakan tujuan hidup manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)

Makna dari “menyembah-Ku” dalam ayat ini adalah mentauhidkan Allah sebagaimana dijelaskan oleh para mufassir. Maka, tujuan utama hidup kita menegakkan tauhid dalam diri dan lingkungan.

Zaman sekarang penuh dengan godaan dan bentuk-bentuk kesyirikan modern yang sering tidak disadari. Di antaranya: percaya pada ramalan, mengandalkan jimat, mempercayai kekuatan mistik, bahkan meminta pertolongan kepada kuburan orang-orang yang dianggap keramat. Semua ini bertentangan dengan prinsip tauhid.

Kita juga perlu waspada terhadap kesyirikan dalam bentuk yang lebih halus seperti riya’, yaitu memperlihatkan amal karena ingin dipuji manusia. Oleh karena itu, mengokohkan tauhid bukan hanya tentang menolak berhala atau dukun, tetapi juga memperbaiki niat dalam beramal, menjaga hati agar hanya tertuju kepada Allah, dan membersihkan jiwa dari ketergantungan kepada selain-Nya. Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu Tuhan Yang Mahaesa.’ Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal shalih dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi: 110)

Dalam Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an disebutkan bahwa ayat ini menerangkan syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas karena Allah dan mutaba’ah (sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW). Keduanya ibarat sayap burung, jika salah satunya tidak ada, maka burung tidak dapat terbang.

Orang yang ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam amalnya, itulah yang memperoleh apa yang diharapkan dan yang diminta. Sedangkan selainnya, maka dia akan rugi di dunia dan akhirat, tidak memperoleh kedekatan dengan Tuhannya dan tidak mendapat ridha-Nya.

Keutamaan Menjaga Nilai Tauhidullah

Lalu apa keutamaan menjaga nilai tauhidullah sebagai fondasi kehidupan? Pertama, orang yang bertauhid kepada Allah SWT akan mendapatkan petunjuk yang sempurna, dan kelak di akhirat akan mendapatkan rasa aman. Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَࣖ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82)

Kedua, diberikan ampunan. Rasulullah SAW bersabda:

…يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.

“…Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika mati tidak menyekutukan Aku sedikit pun juga, pasti Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR At-Tirmidzi No. 3540)

Ketiga, memberikan jalan keluar. Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS Surat Ath-Thalaq: 2-3)

Keempat, orang yang bertauhid kepada Allah SWT dijamin masuk Surga. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, maka ia masuk Surga.” (HR Muslim No. 26)

Kelima, orang yang bertauhid kepada Allah SWT akan diberi kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang Mukmin, sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. (QS An-Nahl: 97)

Sebaliknya, jika seseorang tidak menjaga nilai tauhidullah dalam kehidupannya,maka amalannya akan terhapus. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Sungguh benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, ‘Sungguh jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi’.” (QS Az-Zumar: 65)

Selain itu, haram surga baginya dan tidak seorang pun menjadi penolong baginya. Allah berfirman:

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS Al-Maidah: 72)

Cara Tanamkan Pendidikan Nilai Tauhidullah

Berikut ini cara menanamkan pendidikan nilai tauhidullah sebagai fondasi kehidupan. Pertama, niat yang murni. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim)

Kedua, mempelajari ilmu dan senantiasa menjauhi syirik hati seperti riya’, ujub (sombong) dan membanggakan diri. Rasulullah SAW bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَىٰ مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ

“Wahai manusia, jauhilah syirik ini, karena ia lebih tersembunyi daripada jejak semut.” (HR Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa syirik bisa sangat halus dan tersembunyi, dan orang tidak akan bisa selamat darinya kecuali dengan ilmu.

Ketiga, memperbanyak doa agar dihindarkan dari kesyirikan dan meminta dikuatkan tauhid kepada Allah. Allah SWT berfirman:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَۗ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala’.” (QS Ibrahim: 35)

Kisah Teladan

Nabi Ibrahim AS diutus bukan untuk Mekkah, melainkan untuk tanah Syam (Palestina, Suriah, Yordania, Lebanon) dan sekitarnya. Beliau hidup di tengah kaum yang menyembah patung dan berhala-berhala sebagai Tuhannya.

Lahir di sebuah tempat bernama Faddam A’ram (negeri Syam) dalam Kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja zalim bernama Namrud. Allah mengabadikan kisahnya dalam mengajarkan agama Tauhid kepada kaumnya termasuk kepada ayahnya yang menyembang patung berhala.

Bagi Islam, Ibrahim merupakan Nabi yang mengajarkan agama Tauhid dan beliaulah yang mengajarkan kebenaran Allah. Ketika mengajarkan Tauhid, Nabi Ibrahim mulai memberikan pengarahan kepada kaumnya bahwa ada Pencipta langit dan bumi. Argumentasi Ibrahim mampu memunculkan kebenaran, tetapi kaumnya menentang Nabi Ibrahim dan mulai mendebatnya dan bahkan mengancamnya.

Nabi Ibrahim menegaskan bahwa dirinya betul-betul mengetahui bahwa ayah dan kaumnya terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata, menyimpang dari jalan yang lurus. Sehingga mereka tertutup kebenaran yang harusnya menyembah Allah SWT.

Kemudian Allah menceritakan kisah Nabi Ibrahim mencari kebenaran Tuhan dalam QS Al-An’Am ayat 76 : “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam’.”

Allah menjelaskan proses pengenalan Ibrahim secara terinci. Pengamatan pertama Nabi Ibrahim tertuju pada bintang-bintang, yaitu pada saat bintang tampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang. (Yaitu planet Yupiter dan ada pula yang mengatakan planet Venus yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno, sedang kaum Ibrahim juga termasuk pemujanya).

Setelah pencarian yang panjang Nabi Ibrahim pun mengajarkan akidah dan tauhid yang murni, yaitu hanya menyembah kepada Allah yang Esa sang Maha Pencipta semua makhluk.

Ibrahim menyatakan bahwa agama-agama lainnya adalah batil, dan beliau adalah seorang yang berserah diri kepada Allah semata. Ketika kaumnya membantah, Nabi Ibrahim berkata: “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

Demikian kisah Nabi Ibrahim AS yang mengajarkan tauhid dan kita harus mengambil pelajaran dari kisah orang-orang terdahulu.

اَللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

“Ya Allah…, dan aku minta kepada-Mu agar Engkau menjadikan setiap ketetapan (qadha) yang telah Engkau tetapkan bagiku merupakan suatu kebaikan.” (HR Ibnu Majah No. 3846)  []

Tags: AkidahFondasi kehidupanTauhidullah
Share14Tweet9Send
Previous Post

BAZNAS dan BPS Kerjasama Sinergi Data untuk Penyaluran Tepat Sasaran

Next Post

Demi Kepentingan Konsumen, HNW Sampaikan Dukungan DPR untuk Program Sertifikasi Halal

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

2 November 2026
Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

2 November 2026

Komjen (Purn) Dr Nurfaizi Suwandi: Mutiara Indonesia di Negeri Piramida

13 February 2018
Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

1 November 2026
Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

29 October 2026
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

0
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

0
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

0
Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

0
masjid asmaul husna

Masjid 99 Kubah, Keindahan Arsitektur dengan Filosofi Asmaul Husna

0
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

7 November 2026
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

7 November 2026
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

6 November 2026
Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

5 November 2026
Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

5 November 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alhamdulillah, Pre-Order dibuka lagi, kini tersedia Crewneck Sweatshirt. Tersedia saat ini Warna :

1. Black
2. Navy
3. Maroon
4. Army
5. Light Pink

Silahkan di pesan melalui link :
https://tinyurl.com/pesan-baju/

atau bisa lihat link di profile

#majalahgontor
#gontornews
  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result