Bagi sebagian orangtua, mencari lembaga pendidikan yang terbaik bukan perkara mudah. Terlebih isu pendidikan sekular menyeruak dan menghasilkan lulusan dengan predikat nilai yang baik tapi moralnya bobrok. Karena itulah peran orangtua di rumah juga tidak kalah penting dalam proses pendidikan anak.
Direktur eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Henri Shalahuddin MIRKH, mengatakan pendidikan sekular justru menghambat munculnya murid-murid berpredikat insan kamil.
Alumnus Universitas Malaya Malaysia itu menyebutkan, pendidikan sekular membentuk manusia-manusia dengan pola pikir sektoral. Ini berbeda dengan pendidikan di zaman kejayaan Islam. Saat itu banyak lahir ulama yang menguasai disiplin keilmuan lebih dari satu bidang.
“Ulama-ulama terdahulu tidak ada yang sektoral. Meskipun mereka pakar ilmu falak atau astronomi mereka juga seorang mufassir sekaligus seorang dokter, ahli di bidang matematika, dan sebagainya,” papar Henri Shalahuddin kepada Majalah Gontor.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai Henri Shalahuddin seputar bahaya pendidikan sekular. Berikut petikan wawancaranya:
Apa yang Anda pahami tentang pendidikan sekular?
Pendidikan sekular adalah pendidikan yang memisahkan antara prinsip-prinsip materialistik dan spiritual. Pendidikan sekular biasanya memisahkan antara masalah-masalah rūhiyyah karena bagi sekularisme itu aspek yang terlihat itulah yang dipentingkan, yang di sini dan sekarang. Yang nanti, terkait masalah akhirat dan di sana, bukan urusan dia (kelompok sekular). Untuk itu, bagi mereka yang di sini dan sekarang itu ukurannya adalah yang terukur, yang sangat empirik sekali.
Maka tidak heran jika ada pertanyaan, “kalau anak saya sekolah di sini, kira-kira anak saya dapat apa? Bisa apa? Untungnya apa?” Jarang ada orangtua yang menanyakan, “kalau anak saya sekolah di sini, bisa masuk surga atau tidak?”
Dalam konteks sekular, mempelajari matematika, fisika dan biologi sangat terbatas dan tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain. Contoh, dalam mempelajari organ binatang, pendidikan sekular tidak akan membahas organ binatang dan kaitannya dengan keimanan, ketaqwaan dan penciptaan. Sedangkan Islam mengharuskan iman didasarkan pada ilmu, dan ilmu harus menguatkan iman seseorang.
Maka jika Anda belajar biologi dan Anda semakin mengingkari Tuhan, maka ilmu Anda tidak bermanfaat. Tapi kalau kita mempelajari biologi lalu membaca Alqur’an dan semakin yakin dengan kebenaran Alqur’an, maka itu jadi hal yang sangat luar biasa. Berarti ini pendidikan yang benar. Manizdāda ‘ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallāhi illā bu’dan.
Doktrin dalam Islam bukan sekedar doktrin teologis yang terlepas dari akal. Dalam khazanah keislaman, Islam selalu menjelaskan hal-hal yang berkaitan langsung dengan iman dengan amal termasuk hubungan nalar dengan spiritual.
Selain itu, pendidikan Islam mengajarkan pendidikan akal budi dan bukan sekedar akal sehat saja. Sebagai contoh adalah kisah putra Nabi Nuh, Kan’an, di kala sang ayah mengajaknya untuk menaiki perahu yang telah diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Nuh.
Dengan menggunakan akal sehat, Kan’an meyakini bahwa usaha untuk menaiki gunung bisa menyelamatkan dirinya dari banjir besar padahal kemampuan akal sehat seorang manusia sangat terbatas sehingga membutuhkan bantuan dari wahyu.
Islamisasi ilmu pengetahuan adalah integrasi antara nalar empirisisme dengan spiritualisme. Jadi semuanya, antara iman-amal, ilmu dan amal. Dalam sejarah peradaban Islam ada sebuah kelompok yang dikenal dengan kelompok Mu’tazilah.
Mu’tazilah luar biasa karena sangat rasional dan ahli ibadah. Akan tetapi, ibadah dan logikanya tidak terkait satu sama lain. Meskipun ahli ibadah dan amaliahnya bagus tapi cara pikirnya salah, maka ulama ahlussunnah wal jama’ah menyesatkan Mu’tazilah. Jadi, Islam itu mengatur manusia dari mulai pola pikirnya.
Apa bahaya pendidikan sekularisme?
Pertama, para murid tidak akan pernah menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna. Sempurna dalam hal ini adalah kemampuan manusia memahami apa-apa saja yang dipelajari dari fisik dan psikis, antara jasad dan jiwa. Contoh, psikologi adalah ilmu jiwa. Ketika psikologi didekati dengan sekularisme maka yang diukur hanya perilaku manusia saja yang menurut Prof Malik Badri menganalogikan sebagai mempelajari ilmu jiwa tanpa jiwa.
Kedua, pendidikan sekular menghasilkan peserta didik yang sangat pintar tapi dia timpang. Kemampuanyanya baik bahkan di atas rata-rata siswa di sekolah, pintar bahasa asing, pintar matematika hingga pintar ilmu-ilmu keterampilan yang dipelajari di sekolah. Akan tetapi mereka lemah tentang bagaimana cara bergaul dengan orang lain dan bagaimana menyikapi seseorang.
Ketika ditimpa masalah, sering kali mereka rapuh sehingga mudah putus asa, meningkatkan dorongan untuk bunuh diri, egois hingga tidak memiliki empati. Hal itu bisa terjadi karena sisi spiritual mereka kosong.
Ketiga, pendidikan sekular tidak mengajarkan murid kepada ma’iyyatul khāliq (Kebersamaan makhluk dengan penciptanya).
Apakah Islam mengharuskan murid untuk menjadi pakar/ahli dalam setiap pendidikan?
Menuntut ilmu itu harus tuntas. Tidak bisa setengah-setengah dan tidak bisa asal-asalan. Jika Anda mendalami ekonomi dan Anda berada di komunitas masyarakat yang membutuhkan Anda maka itu bermakna fardu kifāyah. Atau dalam bahasa lain bisa jadi Anda telah ditunjuk oleh komunitas Anda sebagai duta untuk mendalami ilmu ekonomi. Maka Anda perlu mempertanggungjawabkannya dengan IPK serta memperdalam wawasan seputar ekonomi. Jika sudah menguasai semua, maka Anda sudah menguasai teori ekonomi.
Banyak penguasaha yang bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi. Padahal, para pengusaha itu memahami soal moneter, perbankan dan permasalahan-permasalahan ekonomi dan konsisten di bidangnya.
Pertanyaannya adalah apakah setiap orang harus menjadi seorang profesional? Masalah profesional adalah masalah kiprah. Banyak ekonom yang rejekinya itu di bidang lain. Sama seperti mereka yang kuliah di pertambangan tapi bekerja sebagai pegawai asuransi. Memang tidak semuanya seperti itu, tetapi ada orang yang mendalami ilmu-ilmu terapan seperti sekolah kedokteran atau kejuruan lainya. Jika ia sudah kuliah dokter sampai mendapatkan lisensi dan menghasilkan nilai yang memuaskan tapi tidak diamalkan, maka sama saja ia memiliki ilmu tapi tidak digunakan untuk kebaikan.
Dia boleh saja beralih ke bidang lain. Akan tetapi paling tidak ia harus bertanggung jawab terhadap ilmu yang pernah ia pelajari. Seperti halnya mereka yang mendalami ilmu agama tapi tidak mengikuti aktivitas dakwah. Mengamalkan ilmu terapan saya kategorikan sebagai fardu ‘ain.
Apakah ada ulama yang tetap belajar tapi tidak mengamalkan ilmu?
Saya kira tidak ada. Zaman dahulu tidak ada yang mendidik manusia yang sektoral. Kalaupun ada, seorang pakar falak atau astronomi, di sisi yang lain, bisa menjadi seorang mufassir sekaligus dokter. Informasi seputar ulama-ulama multitalenta tersebut saya temui dari sebuah kitab yang berjudul Al-Jāmi’ūn bayna al-‘ulūmi al-shar’iyyah wa al-‘ulūm al-tajrībiyyah yang menjelaskan tentang ulama-ulama Muslim yang mengintegrasikan keilmuan dan sekaligus keislamannya.
Kita dapat lihat bagaimana sosok Imam Qushairi yang seorang mutakallim (pakar teologi) tapi juga pakar dalam ilmu perkudaan. Pun dengan Imam Ghazali dan Imam Fakhruddin Ar-razi juga yang dikenal sebagai filosof sekaligus sebagai mufassir. Apa buktinya? Dari karya-karya yang sampai kepada kita.
Pendidikan saat ini menghasilkan lingkaran ketakutan. Lingkaran ketakutan itu seperti mahasiswa takut kepada dosen, dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor, rektor takut sama menteri, menteri takut sama Presiden, Presiden takut sama mahasiswa. Karena apa? Karena saat ini pendidikan kita ‘nanggung’ semua: sekular secara penuh tidak, agama sepenuhnya juga tidak.
Untuk saat ini, tujuan pendidikan kita hanya sebatas kemampuan untuk menjawab soal saja. Bayangkan, saat anak-anak kita mau masuk TK atau SD, maka ia disyaratkan harus terampil menggunakan alat tulis, bisa membaca atau menulis. Artinya? Ketika ia belajar di TK, maka anak-anak kita ‘disiksa’ agar bisa segera membaca dan menulis.
Hal inilah yang kemudian membedakan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara-negara lain. Ketika anak saya sekolah di Australia, anak saya hanya diajarkan untuk bermain dan mengajarkan nilai-nilai. Mereka menghabiskan masa belajarnya di luar sekolah.
Apa indikasinya sekolah sekular?
Indikasi sekolah sekular: tidak mengintegrasikan antara spiritual dan material, antara dzohir dan batin, antara fisika dan metafisika.
Apakah ketersediaan pelajaran agama di sekolah bisa dikategorikan sebagai sekolah yang bebas dari sekular?
Sekolah tersebut tetap bisa dikatakan sekular manakala pelajaran agama tidak terkait dengan materi-materi yang lain. Sudah barang tentu, ilmu harus memperkuat iman sehingga guru tidak bisa bekerja secara asal-asalan. Ironisnya, banyak sekolah terpadu tapi hanya terpampang di papan saja.
Bagaimana peran guru dalam Islam?
Peran guru sebagai pendidik bukan hanya sebatas pengajar. Dia menjadi contoh bukan memberi contoh. Para guru perlu memiliki kematangan jiwa. Guru memang tidak suci tapi mereka harus terus menjadi contoh dan suri teladan yang baik bagi setiap muridnya. Celakanya, di Indonesia, guru sering diartikan sebagai pegawai karena sekolah saat ini sering diartikan sebagai industri pendidikan sehingga menyebabkan ruh pendidikan hilang.
Bisakah keikhlasan guru dideksripsikan?
Ikhlas itu murni. Jika seorang guru mengajar dengan penuh kesiapan dan melakukan riset yang luar biasa, maka itu akan menjadi ladang jariyah bagi para guru. Jika guru mendalami makna pengajaran dalam Islam sebagaimana disebut dalam hadis talabul ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat, maka mengajar adalah suatu perbuatan yang mulia. Adapun honor atau kehormatan yang mungkin guru terima, itu hanya konsekuensi saja. Itu tidak mengurangi keikhlasan asalkan ia mengajar dengan sungguh-sungguh.




















