Montreal, Gontornews — Dalam sebuah hadits, Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda Laysa minna man lā yarḥam ṣaghīrana wa lā ya’rif sharafa kabīrinā yang berarti bukanlah dari golonganku siapa saja yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa.
Namun, siapa yang ‘bertugas’ menyayangi anak kecil dan mengajari mereka agar menghormati orang dewasa? Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal internasional, Nature Communication, menjelaskan bahwa pendidikan usia dini adalah jawaban dari pertanyaan di atas.
Penelitian yang dilakukan oleh Li Yuo dan kolega menemukan bahwa mereka yang pernah mengenyam pendidikan intensif di usia dini akan memiliki kepekaan sosial dan rasa keadilan yang tinggi kala mereka berusia 40 tahun.
Dalam penelitian yang dilakukan sejak tahun 1940 itu, 78 orang terlibat sebagai objek penelitian sedari mereka mengenyam pendidikan usia dini meski keluarga mereka berpenghasilan rendah.
Lebih lanjut, penelitian ini diberikan sebuah permainan untuk mengatur kepatuhan mereka terhadap norma-norma sosial serta pengambilan keputusan sosial mereka. Seorang pemain diminta untuk membagi uang sebesar 20 Dollar AS kepada peserta lain.
Para peserta diberikan kebebasan untuk menerima atau menolak pemberian tersebut. Namun, ketika dihadapkan pilihan berbeda, merka diberikan kesempatan untuk memilih apakah akan memilih berdasarkan kepentingan pribadi atau menegakkan norma-norma sosial tentang persamaan.
Hasilnya, para peserta yang pernah mengenyam pendidikan di usia dini memiliki rangsangan kognitif dan sosial serta menolak pemberian yang tidak setara itu sebagaimana halnya saat mereka merasakan hal serupa ketika mengenyam pendidikan di usia dini.
“Ketika seseorang menolak tawaran, mereka mengirim sinyal yang sangat kuat kepada pemain lain tentang keputusan mengenai bagaimana uang itu harus dibagi,” ujar Asisten Profesor bidang Psikologi, Universte de Montreal, Kanada, Sebastien Hetu sebagaimana dilansir Science Daily.
“Orang-orang yang menerima pelatihan pendidikan melalui Proyek Abecedarian cenderun menerima tawaran yang sama. Akan tetapi mereka menolak tawaran yang tidak menguntungkan ataupun tawaran menguntungkan sekalipun. Akibatnya, mereka mampu menghukum pelanggaran, yang mereka anggap sebagai, norma kesetaraan,” tambah Hetu.
Lebih lanjut, penulis utama dalam penelitian ini, Yi Luo menjelaskan bahwa para peserta yang pernah menerima pendidikan di usia yang sangat dini mampu merencanakan masa depan yang lebih baik ketimbang mereka yang tidak mengenyam hal serupa.
“para peserta yang mengalami pendidikan dini sangat sensitif terhadap ketidaksetaraan, entah apakah itu menguntungkan atau merugikan mereka,”
“Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa mereka mampu menempatkan nilai lebih manfaat jangka panjang, dan memrpomosikan norma-norma sosial yang bertentangan dengan manfaat jangka pendek untuk kepentingan pribadi,” sebut Li Yuo dalam penelitian berjudul Early childhood investment impacts social decision-making four decades later’
“Penelitian kami menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan anak usia dini sangat berpengaruh, terutama dalam pendidikan anak dari keluarga berpenghasilan rendah, dalam pengambilan keputusan jangka panjang bahkan setelah beberapa dekade setelahya,” pungkas Li Yuo. [Mohamad Deny Irawan]





















