Petaling Jaya, Gontornews — Pengamat politik dari Universiti Malaya, Awang Azman Awang Pawi mengatakan bahwa kelompok oposisi di bawah bendera partai Organisasi Nasional Malaysia Bersatu (UMNO) dan partai Barisan Nasional (BN) sebagai penyeimbang partai pemenang pemilu 9 Mei 2018 lalu, Pakatan Harapan (PH).
Meski kalah telak dalam pemiihan yang lalu, BN yang menjadi koalisi utama bagi mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, disebut Awang, menjadi penantang PH dalam hal mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintahan terpilih. Mereka, tambah Awang, menginginkan keseimbangan dalam pengelolaan pemerintahan.
“Orang-orang menginginkan check and balance dalam mengelola pemerintahan,” kata Awang sebagaimana dilansir Free Malaysia Today.
“Najib bukan oposisi terkuat karena ia telah terjerumus dengan banyak isu dan tuntuan pengadilan serta sering menyerang kebohongan dan fitnah yang dibuat PH untuk UMNO dan BN dalam pemilihan umum terakhir,”
“Namun, setidaknya, ada suara-suara yang keluar untuk menyatakan pandangannya jika terdapat sebuah kebijakan yang tidak meyakinkan,” jelas Awang.
Pernyataan Awang didasari oleh pernyataan Najib pada wawancara khusus yang dilakukan Najib di Putra World Trade Center. Secara khusus, Najib mempertanyakan janji pemerintah baru yang berusaha menurunkan harga BBM menjadi 1,50 Ringgit Malaysia per liternya.
Meski vokal, Awang meminta Najib untuk tetap realistis seiring dengan kekalahannya dalam pemilu 9 Mei serta tersangkutnya ia dan keluarga dalam skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
“Najib tahu bahwa jika ia tidak berbicara di media, ia akan cepat dilupakan. Terlebih lagi, ia memiliki banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya,”
“Inilah mengapa ia merasa harus tetap eksis serta tetap konsisten memberikan komentarnya terhadap isu-isu terkini,” pungkas Awang. [Mohamad Deny Irawan]




















