Perkataan “kritik” buka suatu perkataan yang tak biasa didengar. Bahkan sering-sering menjadi buah pembicaraan yang menjadi perhatian umum (actueed).
Kritik, menurut kamus, artinya yaitu pertimbangan sesuatu hal.
Kritikus artinya orang yang mengkritik, yaitu orang yang mempertunjukkan kesalahan atau kepentingan sesuatu.
Kritik! Jika ditilik kepada arti dan tujuan yang sebenarnya memang bagus. Dengan kritik, yang jelek menjadi bagus, yang pincang menjadi lurus, yang salah menjadi benar, yang gelap menjadi terang.
Akan tetapi praktiknya kritik ini sangat sulit dan berlainan sekali dengan tujuan yang pertama-tama, entah karena barangkali bangsa kita yang belum masak benar kepada pengertian kritik, entah karena apa. Hanya bukti dan kenyataannya menunjukkan, karena menggunakan kritik, hampir 90 persen:
Yang dekat menjadi jauh.
Yang jernih menjadi keruh.
Yang terang menjadi gelap.
Yang lurus menjadi bengkok.
Oh! Barangkali memang karena hatinya yang belum bersih dan juga belum masak benar kepada arti kedudukan kritik.
Oleh itu, orang-orang yang ahli membagi kritik menjadi 2 (dua) macam:
Pertama: Opbouwende critiek, artinya kritik yang hendak membagusi sesuatu hal.
Kedua: Afbrekende critiek artinya kritik yang sengaja hendak memecahbelahkan semata-mata.
Kritik yang wujudnya menunjukkan beberapa kesalahan yang dengan bukti-bukti yang sah, kemudian ia menunjukkan jalan yang akan memperbaikinya. Inilah opbouwende critiek namanya. Ini bagus, asal pandai meletakkannya.
Adapun kritik yang hanya dengan membabi buta, menghambur-hamburkan kesalahan, kemudian tak tahu menunjukkan bagaimana akan memperbagusinya, inilah atbrekende critiek namanya. Inilah yang paling busuk dan paling hina. Agar pembaca bertambah jelas soal ini, baiklah di sini kita kutipkan dari pendapatnya Syekh Moestafa Ghoelajainie yang terkenal sebagai “leeraar cultuur di sekolah tinggi Beirut.” Beliau memperbincangkan soal kritik.
Demikianlah pandangan beliau:
الموت أهون مما بعده وأشد مما قبله. (سيدنا أبو بكر رضي الله عنه)
Artinya: “Mati itu lebih mudah dari perkara yang sesudahnya dan lebih hebat dari perkara yang sebelumnya”. (Abu Bakar RA)
كل ميسر لما خلق له. (الحديث)
Artinya: “Tiap-tiap sesuatu itu mudah (senang) dengan barang apa yang dijadikan baginya.” (Al-Hadis)
المؤمن مرآة أخيه. (الحديث)
Artinya: “Orang mukmin itu cermin bagi saudaranya mukmin.” (Al-Hadis)
آفة العلم النسيان. (الحكيم العربي)
Artinya: “Bencana ilmu itu kelupaan.” (Hakim Arab)
يكفيك من الحاسد أن يغتم وقت سرورك. (حكمة)
Artinya: “Cukuplah bagimu dari kesusahannya orang yang dengki waktu senangmu.” (Hikmah). []