Quensland, Gontornews – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ken Caldeira dari Carnegie Institute for Science dan Rebecca Albright dari California Academy of Science menemukan, pengasaman air laut yang terjadi akibat perubahan iklim mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang. Menurut mereka, pertumbuhan terumbu karang terhambat karena air laut sedemikian asam karena karbondioksida mengalir ke dalam laut.
Dalam penelitian yang dilakukan di rumah terumbu karang terbesar Great Barrier Reef di Quensland, Austalia, tersebut, peneliti melakukan eksperimen pengasaman pertama di air laut yang dibuat secara artifisial dengan menambahkan karbondioksida dan menebar di kelompok terumbu karang, One Tree Island, di Australia.
Hasilnya, reaksi kimia antara air laut dan emisi karbondioksida yang tercampur menghasilkan asam karbonat yang merusak terumbu karang, kerang dan kehidupan laut lainnya. Terumbu karang menjadi salah satu ekosistem bawah laut yang paling berdampak. Hal ini dimungkinkan karena terumbu karang terbuat dari kalsium karbonat yang bertentangan dengan asam karbonat. Dengan adanya asam karbonat proses ‘klasifikasi’ pada kalsium karbonat tidak mungin terjadi.
“Temuan kami membuktikan bahwa pengasaman laut yang disebabkan oleh emisi karbondioksida sangat memperlambat pertumbuhan terumbu karang pada masa mendatang kecuali kita melakukan pengurangan gas emisi rumah kaca dengan segera,” kata Albright sebagaimana dilansir Sciencedaily.
Temuan lainnya menunjukkan, pengasaman air laut tidak saja berdampak pada terumbu karang tapi juga berdampak pada ekosistem lainya seperti organisme dan spesies individu tertentu. Jika pengasaman air laut terus terjadi, mata pencaharian masyarakat pesisir juga akan ikut terganggu.
“Terumbu karang menawarkan kesempatan ekonomi dan pariwisata bagi masyarat sekitar yang mengandalkan pendapatan dari sektor perikanan dan pariwisata,” ungkap Caldeira.
“Tapi, menurut saya, terumbu karang adalah ungkapan terindah dan ragam keindahan di laut yang terancam rusak akibat emisi karbondioksida yang kita hasilkan,” pungkas Caldeira dalam penelitian yang berjudul Carbonate-sensitive phytotransferrin controls high-affinity iron uptake in diatoms yang diterbitkan oleh jurnal daring Nature. [Mohamad Deny Irawan]
























