Sanaa, Gontornews — Otoritas pemerintah Sanaa, Ibu kota Yaman, yang dikuasasi kelompok Houthi melakukan sterilisasi pasokan air sumur, serta distribusi air rumahan untuk membendung wabah kolera di Yaman, Ahad (2/12). Sejak perang yang melibatkan koalisi Arab Saudi dan Houthi, yang memasuki tahun ketiga, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat ada sekitar 1,2 juta kasus kolera yang terjadi dengan 2.515 warga Yaman dikabarkan meninggal dunia.
Lebih lanjut, WHO juga menegaskan bahwa penjangkitan wabah kolera di Yaman berkembang pesat pada bulan Oktober 2018 yang melibatkan 10.000 kasus atau naik dua kali lipat rata-rata pasien kolera untuk delapan bulan pertama tahun 2018. WHO menduga bahwa wabah kolera terpusat di daerah dimana Houthi menguasai sebuah wilayah.
“Kami menerima informasi tentang kasus kolera yang dilaporkan Kementerian Kesehatan. Kemudian, tim tersebut telah mensterilkan sebuah rumah dan 20 rumah lain di sekitarnya,” ungkap Menteri Air Houthi, Nabeel Abdullah al-Wazeer kepada Reuters.
“Kami bekerja dari rumah ke rumah untuk mensterilkan air sumur. Kami juga bekerja untuk membersihkan truk tangki pembawa air dari pihak swasta ke warga serta mensterilkan lembaga pendistribusi air,” tambah Nabeel Abdullah al-Wazeer.
Selain ancaman wabah kolera, Yaman, oleh PBB, juga disebut tengah menghadapai bencana kelaparan yang melibatkan 14 juta warganya. PBB juga melansir bahwa 1,8 juta anak-anak Yaman mengalami kekurangan gizi.
Untuk penanggulangan tahap pertama, perwakilan Dokter Anak di tenda-tenda yang dibangun WHO, dr Mohammed Abdulmughni memberikan instruksi kepada tim medis untuk memberikan cairan infus kepada anak-anak yang terindikasi wabah kolera. Namun, Abdulmughni menyayangkan kondisi tenda pengungsian yang hanya beralaskan kerikil dan lalat yang berseliweran di antara mereka.
“Dengan datangnya musim dingin, kami memperkirakan jumlah pasien akan berkurang, namun sebelum itu terjadi, kasus kolera yang kami tangani datang secara masif,” papar dr Abdulmughni.
“Kami memperkirakan diagnosa menurun tetapi kasusnya tetap tinggi,” tambahnya.
Sementara itu, Perwakilan UNCEF di Yaman, Meritxell Relano, mengatakan bahwa pihaknya telah mencatat telah terjadi 250.000 kasus, dengan 385 kematian, di Yaman sejak awal tahun 2018.
“Kami telah mencegah wabah itu sejak tahun 2017. Tapi risikonya masih ada,” pungkas Relano. [Mohamad Deny Irawan]






















