Tidak semua hal dimusyawarahkan dan divoting. Umpama divoting, yang memvoting juga bukan kamu. Kalau segala sesuatu divoting atau diambil suara terbanyak, itu tidak betul. Itu langkah setan dan Iblis. Jangan-jangan daging babi divoting. Kalau kalah suara harus ikut makan daging babi. Na’udzubillah.
Di pondok boleh mengkritik, tapi kalau memfitnah itu haram bin haram bin haram bin haram. Kewajiban kami memperbaiki kalian, kalau ada sesuatu yang kurang tepat dengan kritik. Jagalah dirimu baik-baik, jangan sampai kemasukan fitnah yang dihembuskan Iblis dan Dajjal.
Kamu di sini tamu. Semua siswa itu hukumnya tamu. Tamu sementara, penumpang sementara. Pondok Modern seperti bus. Kamu menumpang dari Jetis ke Ponorogo. Nanti kalau sudah sampai di Ponorogo, kamu turun. Seberapa hakmu di atas bus itu? Seberapa hakmu kalau kamu naik kereta api? Supaya dimengerti betul-betul punya hak apa. Kamu datang ke sini tidak diundang. Kamu datang sendiri untuk belajar. Pokok ini harus senantiasa dipegang teguh, lebih-lebih anak-anak kelas 5 dan kelas 6.
Ada peristiwa. Seorang santri belajar di sini dengan tekun. Kelasnya tertinggi, kelas 6. Ketika itu ada telegram dari rumah, katanya dia supaya segera pulang karena dipanggil orangtuanya. Karena begitu penting, anak itu pulang. Di rumah, ternyata tidak ada apa-apa. Dia dari sini lima hari sampai di Palembang (Pagar Alam) bolak-balik. Siapa yang telegram? Tidak tahu. Ternyata ada tetangganya yang tidak ikhlas kalau anak itu tamat belajarnya di sini.
Satu lagi dari Gresik. Di sini sudah kelas 6. Dijemput orang berpakaian tentara naik jeep supaya pulang. Katanya urusan biaya. Karena anak itu baik, kami katakan, “Kalau hanya karena biaya kamu tidak bisa menyelesaikan belajarmu, saya usahakan. Saya tanggung supaya kamu lekas menyelesaikan.”
Sampai di rumah, orangtuanya mencak-mencak (marah-marah). “Siapa bilang kami tidak sanggup. Sampai kapan pun kamu harus menyelesaikan. Kami sanggup 100 persen.”
Ini semua fitnah namanya. Banyak sekali macam fitnah. Ada temanmu yang tidak kerasan. Karena tidak kerasan, dia ingin pindah. Lalu mengajak kamu untuk pindah. Itu sudah suatu fitnah. Kalau kamu tidak hati-hati, kamu bisa termakan fitnah itu. Maka kamu sekalian harus hati-hati.
Sampai ada anak mengajak belajar di sini. Tapi yang mengajak itu yang menjadi penyakit. Dia akhirnya tidak tamat, sedang teman yang dia ajak untuk belajar di sini tamat dengan baik. Ini kalau bersih.
Fitnah itu ada yang datang dari orang desa sekitar Gontor, karena iri kepada pondok. Dia iri Pondok Modern banyak santri, banyak uang, bisa mendirikan ini dan itu, bisa membeli ini dan itu. Sedang dia itu begitu-begitu saja tidak bertambah kaya. Bahkan mungkin tambah melarat (miskin). Yang seperti itu pantas juga menjadi setan atau Iblis.
Ada juga yang sudah kaya, cuma tidak sekaya pondok. Bisa juga orang itu menjadi Dajjal karena mengisi fitnah kepada anak-anak. Dia demikian karena dia masih tamak. Seperti yang sudah tertulis dalam al-Qur’an: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS at-Takatsur/102: 1-2)
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ
حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ
Orang seperti itu datangnya dari telinga, dari mata, dari panca indera, bisa masuk. Kasihanilah dirimu sendiri. Lebih-lebih kasihanilah dirimu yang sudah kelas 6, yang sudah kelas 5. Ibarat orang naik pohon jambu, akan mengambil buahnya. Di atas itu dahannya kecil-kecil. Maka harus lebih hati-hati. Salah-salah bisa jatuh. Kalau jatuh, habislah riwayatmu. Wassalam. [] (Bersambung)






















