Nur-Sultan, Gontornews – Perundingan damai soal konflik Suriah, kembali digelar. Para delegasi Suriah, termasuk kelompok oposisi mengadakan pembicaraan saat pemboman terus berlanjut di Idlib.
Dikutip laman Aljazeera bahwa Perundingan damai yang diadakan di ibukota Kazakhstan itu, membahas mengenai situasi Provinsi Idlib yang dikuasai kelompok oposisi yang merupakan tempat berlindung tiga juta pengungsi Suriah.
Pembicaraan digelar selama dua hari di Nur-Sultan dengan disponsori oleh Rusia, Turki dan Iran itu dilakukan setelah pemboman terus menerus terjadi selama tiga bulan dan menewaskan ratusan warga sipil.
Sementara itu, Yordania, Irak dan Lebanon, serta PBB, juga hadir sebagai pengamat dalam perundingan damai Astana. Sebab, baik Turki, Yordania dan Lebanon merupakan negara dengan pengungsi Suriah terbanyak.
Pemimpin Oposisi Suriah, Ahmad Toma dalam konferensi pers yang diadakan sehari sebelumnya di Istanbul mengatakan jika ada kemajuan dalam pembentukan komite konstitusional yang seharusnya menulis konstitusi demokratis baru untuk Suriah.
Sementara itu, Andrew Simmons dari Al Jazeera, melaporkan dari Nur-Sultan, mengatakan oposisi Suriah tampaknya mengambil garis keras terhadap rezim dengan menolak dalam membuat konsesi dan menandatangani segala bentuk perjanjian, kecuali jika rezim menyetujui gencatan senjata penuh di Idlib.
“Kami terus kembali ke serangan mengerikan ini yang sebenarnya telah menyebabkan begitu banyak orang meninggal”, tambahnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga sedang mengadakan penyelidikan atas serangkaian serangan terhadap fasilitas yang didukung PBB, termasuk rumah sakit di provinsi Idlib.
Pembentukan dewan penyelidikan PBB dilakukan setelah adanya surat dari 10 anggota Dewan Keamanan yang meminta Guterres segera meluncurkan penyelidikan ke rezim Suriah dan serangan udara Rusia di rumah sakit di Idlib.
Sejak dimulai pada 2011, perang lSuriah telah menewaskan lebih dari 360.000 orang dan jutaan orang terlantar.[Devi Lusianawati]




















