Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan Madura Jawa Timur KH Ahmad Fauzi Tijani juga menjelaskan bahwa pihaknya bersama ulama berkomitmen untuk membentengi umat Islam dari bahaya komunisme. “Alhamdulillah kami selalu berkomunikasi. Semuanya satu suara untuk menguatkan iman dan takwa sehingga selalu mewaspadai ancaman seperti komunisme,” imbuhnya.
Sekretaris Jenderal FPAG KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, bahwa harus ada narasi yang menginspirasi bangsa tentang bahaya komunisme. Narasi tersebut akan menggerakkan masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mewaspadai komunisme. Dengan begitu, mereka akan bergerak dan berupaya tidak memberikan celah sedikit pun kepada komunisme untuk bangkit.
Pimpinan Pondok Modern Tazakka Bandar Jawa Tengah ini menjelaskan, secara kelembagaan, komunisme memang sudah tidak ada. PKI sudah dibubarkan setelah mereka memberontak dan hendak mengkudeta pemerintah negeri ini pada 1965. “Tapi gerakan-gerakan komunis itu bukan berarti tidak ada,” katanya.
Pihaknya mendapatkan laporan adanya kiai dari beberapa pesantren mengalami persekusi, bahkan, menerima ancaman. Alumnus al-Azhar Mesir ini menjelaskan bahwa hal tersebut jelas merupakan gaya PKI yang mengancam umat.
“Generasi muda Muslim jangan buta sejarah, ojo kepaten obor, jangan sampe obor kita mati sehingga kita masuk dalam kegelapan. Sejarah PKI adalah bagian dari obor yang terus kita nyalakan, sehingga umat ini bangsa ini tetap tercerahkan,” ujarnya.
Pihaknya sudah mengimbau 900-an pesantren yang berada dalam naungannya untuk menjadikan momentum untuk mengokohkan perlawanan terhadap ideologi komunisme. Beberapa pesantren menggelar nonton bersama film G30S/PKI. Ada pula yang menggelar ceramah, diskusi, bedah buku, dan lain sebagainya.
“30 september harus menjadi momentum mengukuhkan para santri bahwa komunisme adalah musuh kita,” tegasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















