Depok, Gontornews — Rombongan PKU (Program Kaderisasi ‘Ulama) Unida Gontor XIII, Selasa siang (17/19) menyambangi STKQ (Sekolah Tinggi Kuliyyatul Qur’an) Al-Hikam, Depok. Kali ini beberapa peserta PKU berkesempatan mengisi acara, Workshop Pemikiran & Peradaban Islam, di sana.
Dimulai sekitar pukul 14.00 wib, acara ini pun diawali dengan sambutan dari tuan rumah, Adib Minanul Cholik, MA, selaku ketua STKQ Al-Hikam, dan perwakilan PKU Gontor yakni Dr Nur Hadi Ihsan.
Setelah itu, acara pun berlanjut pada sesi inti yakni presentasi beberapa tema pilihan terkait pemikiran dan peradaban Islam oleh para narasumber. Mereka adalah Cep Gilang Fikri ash-Shufi, Achmad Ilham Maulana, dan Nur Laili Ahmada.
Pembicara pertama, Cep Gilang Fikri ash-Shufi, menyampaikan makalah berjudul, “Kritik Pemikiran John Wanshbrough tentang al-Qur’an”. Cep Gilang menerangkan bahwa para orientalis yang selalu meragukan isi al-Qur’an telah membuat beragam tipu daya agar umat terpengaruh dan mengikuti ajaran agama mereka.
Ia pun menerangkan bahwa Jhon adalah salah satu tokoh orientalis fundamentalis yang secara terang-terangan telah mengkritisi isi dari kitab suci al-Qur’an. Ia adalah salah seorang orientalis yang juga ahli studi al-Qur’an atau ahli tafsir al-Qur’an.
Kepiawaian Jhon dalam ilmu al-Qur’an ternyata tidak membuatnya berada di jalan yang ‘benar’. Karena Jhon mempelajarinya dengan menggunakan cara pandang Barat. Sehingga hasil yang ia dapat pun sesuai dengan pemikiran mereka.
Dalam perjalanannya Jhon memiliki metode ilmu sosial dengan menggunakan analisis literatur, analisis historis, dan skeptisisme. Ia lantas mengatakan bahwa al-Qur’an adalah karya Muhammad SAW, al-Qur’an diadaptasi oleh Yahudi dan Kristen, serta al-Qur’an adalah karya fiksi.
Ditengah semua tuduhan yang diutarakan Jhon di atas, Cep Gilang dengan dalil-dalil mutakhir yang berhasil dikumpulkannya, akhirnya berhasil membantah semua tuduhan tersebut. Dan terjawablah, bahwa al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT yang diturunkan oleh Malaikat Jibril untuk disampaikan ke Rasulullah SAW.
“Al-Qur’an tidak cacat sejarah,” tutur Cep Gilang kepada Gontornews.com. Ia diturunkan melalui hafalan. “Sedangkan tulisan di dalam al-Qur’an adalah sebagai penguat bagi para penghafalnya,” pungkasnya. <Edithya Miranti>





















