Bekasi, Gontornews — Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melakukan kunjungan dan presentasi makalah di STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Muhammad Natsir Bekasi, Jawa Barat. Kegiatan ini terlaksana dengan lancar dengan antusias tinggi dari para audiens berjumlah kurang lebih 200 orang. Ahad malam (15/12).
Dalam sambutan kedua belah kampus pihak UNIDA Gontor dan STID Muhammad Natsir sama-sama berpesan kepada semua peserta yang hadir untuk mempersiapkan diri dan meningkatkan kualitas diri, guna menghadapi tantangan dakwah yang semakin berat di era pos liberalisme.
Acara seminar yang diisi oleh tiga presenter yaitu: Ahmad Ilham Maulana S.Ag, Muhammad Shofwan Muttaqin S.Ag., dan Syamsul Badi S.Ag. Presenter pertama dan kedua membahas tentang tantangan studi al-Qur’an, sementara presenter ketiga membahas tantangan dakwah secara khusus.
Tantangan studi al-Qur’an yang dibahas oleh presenter pertama Ahmad Ilham Maulana, dengan judul “Khalafullah dan kisah-kisah dalam al-Qur’an”. Pembahasan makalah ini datang dari seorang tokoh muslim modernis, Muhammad Ahmad khalafullah. Ia menafikan validitas al-Qur’an khususnya dalam isi kandungan kisah-kisah al-Qur’an. Menurutnya, kisah-kisah dalam al-Qur’an hanya fiktif belaka, ia tidak terjadi dalam realitanya. Kisah-kisah tersebut hanya dibuat oleh Allah sebagai tamtsil(permisalan) atau bahan pelajaran saja.
“Pada intinya, al-Qur’an merupakan kitab wahyu, baik secara lafazh dan makna. Hal itu meniscayakan semua isi kandungannya pasti benar. ketiadaan bukti dari kisah-kisah al-Qur’an bukan bukti dari ketiadaan kisah-kisah tersebut, mengingat kemustahilan al-Qur’an berdusta atas kandungannya,” jelas Ilham.
Tantangan studi al-Qur’an yang dibahas oleh pemateri kedua Shofwan Muttaqin dengan judul, “kritik pemikiran John Wansbrough” tentang al-Qur’an. Pembahasan yang bersumber dari seorang orientalis, ia bernama John Wansbrough. Tokoh tersebut menyatakan bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang dipengaruhi oleh tradisi yahudi dan Kristen. Banyak hal-hal yang terdapat dalam al-Qur’an, terdapat pula dalam kitab suci Kristen, menurut wansbrough.
“ Pendapat wansbrough merupakan pendapat yang gegabah. Karena, al-Qur’an suci dari campurtangan manusia. Ia diriwayatkan secara lisan atau bacaan (qara`a ‘an zhahri qalbin), sehingga terlepas dari ketercampuran tradisi yahudi dan Kristen,” tegas Shofwan.
Selain itu, jika terdapat kesamaan dengan kitab Bibel, bukan berarti al-Qur’an dipengaruhi oleh tradisi Kristen atau kitab sebelumnya. Kesamaan al-Qur’an dengan kitab-kitab sebelumnya adalah karena fungsi al-Qur’an sebagai muhaimīn atau mushaddiqan limā baina yadaih (menjadi barometer dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya). dengan demikian, validitas kitab-kitab sebelumnya diukur oleh al-Qu’ran. Jika selaras dengan al-Qur’an, dapat dikatakan masih terjada kebenaran kitab-kitab sebelumnya. jika tidak, hal itu sudah bukan merupakan wahyu, melainkan telah dicampuri dan di-tahrif oleh tangan-tangan manusia. Demikianlah ringkasnya, tantangan studi al-Qur’an.
Pada tantangan dakwah, muncul aliran kepercayaan dan kebatinan dengan maraknya di Indonesia. Di antaranya adalah aliran Sapto Darmo. Hal itu dijelaskan oleh Saudara Syamsul Badi dalam pembahasannya yang berjudul “Problematika Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Sebagai Agama Asli Indonesia”.
“Aliran Sapto Darmo mencampuradukkan beberapa agama, yaitu Islam, Kristen, dan Budha. Dari segi peribadatanya, diadopsi ritual shalat, walaupun sedikit berbeda. Dari segi keyakinannya, dianut konsep trinitas sebagaimana Kristen. Sedangkan dari segi filsafatnya, dianut nilai-nilai dalam agama Budha,” papar Syamsul.
“ Hal yang demikian merupakan Sinkretisme, dan tidak layak untuk dianggap sebagai agama leluhur, apalagi Agama yang dalam konsep Islam merupakana agama tauhid yang sistemnya mencakup seluruh kehidupan manusia. Aliran kepercayaan sudah selayaknya diwaspadai dan dicegah kemunculannya di Indonesia,” lanjut Syamsul Badi mengakhiri sesi pemaparan materi.
Sesi selanjutnya adalah Tanya jawab atau diskusi. Terdapat dua orang yang mengajukan unek-uneknya. Pertama, Muhammad, bertanya apakah motif dari serangan yang dilancarkan barat keapada Islam. Apakah di dalamnya terdapat motif ekonomi? atau hanya sebatas menyebarkan ideologi mereka saja.
Pertanyaan tersebut dijawab oleh ketiga Pemateri. Bahwa pada intinya, serangan atau permusuhan barat kepada Islam berawal dari pemikiran atau framework yang dimiliki barat itu sendiri. Namun, tak dapat dipungkiri juga terdapat motif-motif yang lain, di antaranya adalah ekonomi. hal ini bisa dilihat dengan banyaknya berbagai perusahaan, dan bisnis yang dilakukan Barat, yang merusak kaum muslimin, namun di dalamnya juga merauk keuntungan yang besar.
Penanya selanjutnya, tidak mempertanyakan sesuatu melainkan memberikan kesetujuannya kepada pemateri pertama, Ahmad Ilham Maulana, bahwa memang Khalafullah telah keliru dalam memandang kisah-kisah dalam al-Qur’an.
Akhir acara ini diisi oleh Epilog dari Ustadz Abdullah Muslih Rizal Maulana M.A. Beliau menekankan bahwa kita mesti lebih serius dalam belajar atau menuntut ilmu. Tantangan yang akan dihadapi ke depan dimungkinkan lebih besar dari tantangan hari ini. [Cep Gilang Fikri Ash-shufi]



















