Jakarta, Gontornews — Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bersama para pembimbing berkunjung ke Majelis Permusyawaratan Rakyat Rebublik Indonesia (MPR-RI). Pada acara tersebut, Dr. Nurhadi Ihsan menyampaikan sambutan mengenai latar belakang dilaksanakannya PKU kepada para hadirin serta memperkenalkan peserta yang berasal dari berbagai utusan di Indonesia. Pada hari Senin (16/12)
Selanjutnya Dr. Hidayat Nur Wahid selaku Wakil Ketua MPR memberikan sambutan sekaligus materi mengenai peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan hingga terbentuknya Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa maksimalisasi peran ulama pada zaman dahulu tidak hanya terfokus pada satu bidang. Akan tetapi menempati semua pos-pos negara misalnya pendidikan, ekonomi, militer dan politik.
Semangat para pejuang bangsa Indonesia dulu tidak hanya tersemat pada generasi tua atau seinor, akan tetapi juga para pemuda yang telah dididik untuk memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat perlawanan terhadap kezhaliman. Contohnya Jong Islamiten Bond yang berorientasi kepada persatuan umat, bukan berdasarkan kesukuan.
Hal demikian membuat semangat melawan penjajahan sangat masif. Terlebih setelah keluarnya fatwa jihad yang dikeluarkan K.H. Hasyim Asyari bersama para ulama. Hasil ijtima tersebuf melahirkan resolusi jihad dengan 3 poin penting yakni: Membela kemerdekaan Indonesia hukumnya adalah fardhu ain, Siapapun yang meninggal fisabilillah karena perjuangan melawan penjajahan makan ia insyaAllah tergolong syuhada, dan Pengkhianatan terhadap perjuangan umat dengan bersekutu bersama penjajah boleh dihukum mati.
Menurut Hidayat Nur Wahid Hasil dari resolusi tersebut lahirlah masyarakat yang berbondong-bondong membentuk angkatan mujahid dan siap memperjuangkan kemerdekaan. Maka lahirlah gerakan Laskar Santri dan lain sebagainya. Ulama yang berjuang dalam bidang militer misalnya Jendral Soedirman yang juga berjuang melawan penjajah. Selanjutnya Hidayar Nur Wahid menyampaikan bahwa kunci kekuatan Jendral Soedirman dalam perjuangannya ialah:
- Menjaga kesucian diri dengan berwudhu.
- Melaksanakan shalat tepat pada waktunya.
- Ikhlas dalam berjuang.
Selanjutnya dalam bidang Politik, Mohammad Natsir juga mencetuskan sebuah gerakan yang dinamakan Mosi Integral yang berhasil meruntuhkan Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi NKRI. Selain itu, beliau juga mendirikan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia atau disingkat Dewan Dakwah pada tanggal 1967. Hal itu tepat setelah adannya peristiwa Pemberontakan Gerakan 30 September oleh Partai Komunis Indonesia (G30S-PKI).
Usai sambutan, Dr. Hidayat membuka sesi tanya jawab kepada para peserta PKU. lalu, disusul dengan acara penyerahan kenang-kenangan dari PKU Gontor kepada Dr. Hidayat Nur Wahid selaku Wakil Ketua MPR RI 2019-2024. [Ayu Arba Zaman]





















