Bone, Gontornews.com — Pondok Pesantren Darul Huffadh didirikan oleh Ustadz H Lanre Said. Pondok ini statusnya bukan termasuk pondok alumni Gontor. Akan tetapi dalam sejarahnya, para alumni Gontor cukup berperan dalam pembentukan sistem pembelajaran yang diterapkan di pondok pesantren ini.
Pondok yang kini telah dipenuhi sekitar 1500-an santri tersebut, telah mengkolaborasikan sistem pelajaran KMI (Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah) dan tahfidzul qur’an, yang diwajibkan bagi seluruh santriwan dan santriwati.
“Pembagian waktu dan kompetensi pembelajaran telah diatur sedemikian rupa agar keduanya dapat berjalan selaras dan menjadi persyaratan kenaikan kelas,” terang Sa’diah Lanre Said, direktur Pondok Pesantren Darul Huffadh Putri kepada Gontornews.com.
Menariknya, Pondok Darul Huffadh juga tidak menarik biaya sepeser pun kepada para santrinya alias gratis. “Pondok ini tidak menarik uang pendaftaran, administrasi, bangunan, iuran bulanan, uang makan, dan sebagainya,” ujar Sabiah Said, pengasuh Pondok Darul Huffadh Putri, kepada Gontornews.com.
Semua biaya selama menjadi santri/wati in syaa Allah dapat diusahakan oleh bapak pimpinan. “Di sini santri hanya membayar hal-hal yang bersifat pribadi, seperti baju seragam, buku, dan uang jajan,” tambah Sabiah, alumnus Al-Azhar Kairo Mesir.
Sejarah Pendirian Pondok Darul Huffadh
Pondok ini resmi berdiri pada tanggal 7 Agustus 1975. Bertempat di Kampung Tuju-Tuju, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Diawali hanya dengan tujuh santri, awalnya pondok dibentuk menjadi sebuah majelis biasa dengan nama Majlis Qurro’ Wal Huffadz. Pondok ini berdiri tanpa donatur, pembangunan, dan ruang kondusif untuk tempat pengajian.
Semua hal ini disebabkan pada saat itu pemerintah tidak mengizinkan akan didirikannya pondok ini. Selain itu masyarakat sekitar juga enggan untuk menginfakkan hartanya guna pembangunan pondok.
Pada tahun 1989, Majlis Qurro’ wal Huffadh telah mulai menjalankan sistem pendidikan KMI. Sedangkan pada Oktober 1993 nama Majlis Qurra’ wal Huffadh resmi diganti menjadi Pondok Pesantren Darul Huffadh oleh Bupati Bone masa itu.
Pada tahun 1997 dibukalah Pondok Pesantren Putri untuk memperlebar sayap dakwah Pondok Pesantren. Dan berbagai kegiatan extrakurikuler mulai dijalankan, seperti kursus bahasa, seni, dan komputer.
Pada tahun 2005, dalam usianya yang ke 82 tahun, al-Ustadz H Lanre Said, sang pendiri pondok, menghembuskan nafas terakhirnya. Kepemimpinan pondok pun dilanjutkan oleh putra dan putri almarhum.
Pondok Putra Darul Huffadh, sejak tahun 2005 di bawah kepemimpinan putra ketiganya yakni Ustadz H Saad Said, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 93. Sedangkan untuk pondok putri dilanjutkan oleh para putri almarhum diantaranya Ustadzah Sa’diah Said, direktur Pondok Putri Darul Huffadh dan Sabiah Said, pengasuhan Pondok Putri Darul Huffadh.
Jenjang Pendidikan
Pondok Pesantren Darul Huffadh, memiliki dua jenjang pendidikan yaitu setingkat Madrasah Tsanawiyah dan setingkat Madrasah Aliyah. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum terpadu antara KMI Gontor dan Madrasah Tsanawiyah-Aliyah Negeri
Pondok Pesanten Darul Huffadh, tidak lagi mengikuti ujian persamaan dalam ujian Nasional dengan menjadi peserta di sekolah lain namun telah mengadakan ujian Nasional di kampus dan tempatnya sendiri.
Sistem Hafalan Al-Qur’an
Pondok Darul Huffadh memiliki aturan tegas bagi para santri dalam hafalan al-Qur’an. Seluruh santri Pondok Darul Huffadh wajib menghafalkan al-Qur’an. Mereka memiliki kewajiban untuk menyetorkan beberapa juz di setiap pertengahan tahun dan ujian kenaikan kelas.
Sa’diah Said kembali menjelaskan bahwa dalam target hafalan terdapat dua peraturan yang berlaku. “Target personal dan target kenaikan kelas,” sambung direktur sekaligus penulis buku ini.
Dalam target kenaikan kelas, per tahun santri harus menyetorkan 2 juz. Dengan jumlah target kelas akhir hingga 10 juz, khusus untuk kenaikan dan kelulusan santri. “Adapun target personal, maka setiap santri harus menyelesaikan minimal sekali khatam al-Qur’an dalam batasan tiga tahun,” ulasnya. <Edithya Miranti>






















