Bone, Gontornews.com — Belajar mengajar adalah interaksi edukatif yang saling memberi dan menerima atas dua komponen wajib yaitu guru dan peserta didik. Peserta didik merupakan subjek sekaligus objek yang membutuhkan bimbingan seseorang dalam mengarahkan, mengembangkan potensi, dan kreatifitasnya.
Antara guru dan murid, keduanya terlibat dalam lingkungan pendidikan untuk peningkatan keilmuan dan pengetahuan. Sehingga bisa menghasilkan nilai-nilai kehidupan diantaranya, pendidikan akhlak, ilmu yang bermanfaat, dan nasehat kehidupan.
Lantas siapakah guru dan pendidik itu? Sa’diah Lanre Said, direktur Pondok Pesantren Darul Huffad Putri, Sulawesi Selatan, kepada Gontornews.com menyebutkan menurut Muhammad Ali al-Khuli dalam kamusnya, “Dictionary of Education; English –Arabic,” kata “guru” juga disebut dengan sinonim muallim, mudarris, murabbi, muaddib.
“Gu” dan “ru”, juga sebagai akronim dari kata gugu dan tiru yang menisbatkan kepada kriteria seorang guru yang senantiasa mampu untuk ditiru dari segala perilaku, tindakan, dan kepercayaan.
Seorang guru memiliki kedudukan yang lebih mulia karena ilmu. Sebab orang yang ingin sukses di dunia dan di akhirat tentu harus dengan ilmu.
Namun lagi-lagi, segala kemuliaan yang disandingkan kepada sosok guru adalah mutlak ditujukan bagi para guru yang beretika dan jauh dari perilaku buruk tak bermoral. Sehingga keridhaannya akan ilmu yang diberikan akan sangat ditunggu dan bahkan dielu-elukan oleh para muridnya.
Dr M Sarbini MHI, dewan Pembina HASMI (Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami), kepada Gontornews.com menuturkan bahwa seorang guru dalam perspektif Islam adalah seorang ulama, murobbi, serta pewaris para nabi. Jadi dia membawa misi dan tugas kenabian, walaupun dia bukan seorang nabi dan rasul.
Secara detail seorang guru memiliki misi, yaitu menyampaikan ayat-ayat Allah SWT, mensucikan jiwa manusia dan kehidupannya, serta mengajarkan al-kitab dan hikmah. “Dengan demikian model guru dalam Islam adalah mereka yang memiliki karakter robbani,” lengkap Dr Sarbini.
Beberapa karakter robbani yang dimaksud Dr Sarbini yakni, satu, aqidah yang benar dan mengakar kokoh di jiwa. Dua, komitmen dengan syariah secara maksimal. Tiga, hidup dalam tatanan akhlakul karimah.
Empat, mendidik dengan hikmah yakni kebijaksanaan yang tinggi dan mulia. Lima, ikhlas yang melahirkan mujahadah, sabar, dan Istiqomah. Enam, Amin (terpercaya dan bertanggung jawab). Ketujuh, itqon (profesional).
Semua karakter ini sebenarnya tercermin dalam adab hidup seorang guru. Makanya Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.” Ibnul Mubarok berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Inilah yang terjadi pada masa para ulama terdahulu. “Tentu di zaman kita saat ini adab dan akhlak seharusnya menjadi hal yang harus lebih serius lagi untuk dipelajari,” ujar dosen STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Bogor itu.
Lantas, bagaimanakah langkah yang tepat bagi para orangtua dalam memilihkan guru untuk putra-putrinya? Apakah prestasi menjadi satu-satunya kriteria seorang guru yang bermutu atau ada hal lainnya?
Berbicara tentang ini, Dr Sarbini kembali mengisahkan tentang salah satu hal yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam memilih guru untuk para putranya. Kala itu ia memilih ulama Sholih bin Kaisan dan Maimun bin Mihron sebagai pendidik para putranya karena keduanya adalah ulama robbani yang shalih dan beradab tinggi.
Sa’diah Lanre Said juga menambahkan bahwa hendaknya murid memilih guru yang tidak hanya betul-betul menguasai bidangnya, tetapi juga mengamalkan ilmunya, dan berpegang teguh kepada agamanya.
Nabi SAW bersabda, “Tidak boleh menuntut ilmu kecuali dari guru yang amin dan tsiqah (mempunyai kecerdasan hati dan akal) karena kuatnya agama adalah dengan ilmu”. Selain itu, penting bagi murid untuk mencari sosok guru yang bersanad artinya memiliki silsilah keilmuan yang bisa dipertanggugjawabkan dan terbukti kualitas keilmuannya.
Semoga dengan hadirnya para guru yang selain mumpuni di bidangnya namun juga beradab tinggi, bisa menularkan nilai-nilai kebaikan kepada para peserta didiknya di kemudian hari. <Edithya Miranti>




















